29
Feb
16

Konflik Dalam Sebuah Hubungan

Seperti yang sudah kita tahu, menjalin hubungan yang lama pasti akan timbul konflik yang tidak dapat dihindari. Konflik dapat terjadi karena berbagai macam alasan, tetapi seringkali karena ketidakadilan dalam menjalin hubungan. Mengapa ketidakadilan dapat menyebabkan konflik diterangkan dengan sangat baik melalui apa yang disebut para peneliti sebagai Social Exchange Theory. Berdasarkan teori ini, pernikahan dapat kita lihat seperti sistem barter. Masing – masing dari kita menginginkan keuntungan dari pasangan. Kita juga mengerti bahwa kita juga harus memberikan sesuatu sebagai timbal balik ketika sudah menerima keuntungan dari pasangan. Seperti, melakukan atau mengatakan sesuatu yang baik untuk pasangan.

Pasangan membuat pertukaran untuk menjaga hubungan mereka tetap seimbang (adil). Kita mungkin akan melakukan pengorbanan yang besar demi hubungan kita dan berharap mendapatkan pengorbanan yang sama dari pasangan kita. Ketika pasangan merasakan adanya keseimbangan, dimana, apa yang kita berikan sama dengan apa yang kita dapat, hubungan kita akan terasa baik. Bagaimanapun, ketika salah seorang pasangan merasa ia memberikan lebih dari apa yang ia terima, ketidak seimbangan dalam hubungan menjadi perhatian dari salah satu pasangan, dan menjadi alasan adanya konfrontasi.

Dilihat dari perspektif ini, adu argumen adalah sesuatu yang baik untuk sebuah hubungan. Argumen adalah kendaraan utama yang bisa meningkatkan kualitas sebuah hubungan. Jika kita tidak bahagia dengan apa yang dilakukan oleh pasangan kita, hanya dengan berkonfrontasi kita dapat memberikan kesempatan agar kebutuhan kita dimengerti. Sehingga dengan informasi tersebut, pasangan dapat menyesuaian diri dengan baik dalam hubungan mereka sehingga kebutuhan dapat terpenuhi. Adu argumen juga membuat pasangan mau bersama – sama menyelesaikan permasalahan, dan apabila mereka berhasil dengan hal itu, dapat membuat mereka semakin dekat satu sama lain.

Jelas, tidak selalu mudah melihat keuntungan dari pertengkaran. Sebuah hubungan dapat melalui itu jika pasangan merasa bahwa mereka cocok satu sama lain. Misalnya, berhadapan dengan situasi krisis atau memasuki tahapan hidup yang baru, seperti memulai membangun sebuah keluarga dapat membuat seseorang merasa stres. Dalam tahap ini, tekanan masing – masing pasangan cukup berpengaruh pada hubungan. Beberapa pasangan mungkin percaya bahwa hubungan mereka memiliki masalah besar yang tidak dapat diatasi. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak lagi saling mencintai atau cocok satu sama lain. Kita mungkin berpikir pasangan lain tidak berargumen sebanyak kita, atau mereka lebih baik dalam mengatasi permasalahan daripada kita. Bagaimanapun,  menghadapi konflik yang besar adalah normal dan terjadi pada semua pasangan dan kita mungkin tidak lebih baik atau tidak lebih buruk dari orang lain. Faktanya, meskipun kita tidak benar – benar tahu apa yang terjadi di balik pintu yang tertutup, terdapat kesempatan besar dimana pasangan di lingkungan sosial kita sama – sama memiliki argument yang sama atau bahkan lebih sering daripada kita.

Realitanya pasangan yang tidak pernah memiliki konflik kecil memiliki masalah yang lebih besar daripada pasangan yang beradu argumen secara teratur. Mereka mungkin memiliki permasalahan terkait dengan kepercayaan dan kejujuran, atau secara emosi tidak berhubungan sehingga mereka menjaga interaksi mereka di permukaan. Atau mereka menghindari konflik karena mereka meyakini bahwa permasalahan mereka tidak dapat diatasi, atau gaya komunikasi mereka mungkin terganggu sehingga konfrontasi yang kecil dapat menyebabkan pertengkaran yang besar. Pasangan lain, misalnya mereka yang memiliki pandangan tradisional mengenai peran laki – laki dan perempuan mungkin menghindari isu – isu tertentu. Apapun alasannya, ketika pasangan menutup sebuah isu untuk menghindari konflik, beberapa aspek dari hubungan mereka yang mengakibatkan ketidakharmonisan tetap tidak akan diatasi. Sehingga, pasangan yang merasa tidak bahagia tidak merasa memiliki kekuatan untuk memperbaiki hubungan mereka.

Bukan berarti, kita memberi masukan bahwa seberapa sering kita berargumen bukanlah suatu masalah. Jelas, jika pasangan merasa aneh satu sama lain, atau dapat dilihat bahwa situasi tersebut dapat mengakibatkan sebuah argumen, pernikahan mungkin memiliki beberapa permasalahan yang tidak teratasi. Di sana terdapat hubungan antara seberapa sering mereka berargumen dan kesehatan psikologis dari hubungan dan pasangan. Jika terlalu banyak argument, terutama jika argument tersebut tidak pernah memberikan solusi pada suatu masalah atau catatan positif, beberapa bukti menyebutkan bahwa ada kemungkinan bahwa hubungan tersebut tidak akan berlangsung lama.

Jadi, bagaimana pasangan tahu apakah sudah terlalu banyak pertengkaran dalam hubungan mereka? Semuanya bergantung pada pasangan itu. Beberapa orang memiliki toleransi yang tinggi dengan konfrontasi. Namun, ada juga orang yang tidak nyaman dengan banyak argumen, jadi perkara sedang pun sulit untuk mereka atasi. Beberapa pasangan mungkin tidak berargumen terlalu banyak, tetapi satu atau dua argument mungkin mengancam keseluruhan kehidupan pernikahan mereka. Semua pemikiran kita tentang pernikahan yang tetap baik, kita tidak perasaan buruk setelah itu dan kita menikmati kehadiran pasangan kita dalam kedamaian. Sebagai tambahan, jika kita bisa menuntaskan solusi yang bisa dikerjakan sebagai hasil dari argument kita, maka kita mungkin bertengkar dengan pasangan kita sesuai kebutuhan.

https://www.psychologytoday.com/blog/so-happy-together/201602/conflict-in-relationships


0 Responses to “Konflik Dalam Sebuah Hubungan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: