Archive for October, 2014

24
Oct
14

Akhirnya..

Halloooo, saya sudah ujian pendadaran skripsi.

Puji Tuhan, akhirnya setelah perjuangan panjang selama 5 tahun, saya dinyatakan lulus. Iya belum bener – bener bergelar sarjana psikologi sih tetapi paling tidak sudah mengarah ke situ hahaha. Saya bahagia, jelas. Lega apalagi? Ah bagi seorang mahasiswa yang lulus lama seperti saya, harga sebuah kelulusan itu besar sekali. Setidaknya saya bisa sedikit membahagiakan orang tua saya. Setidaknya saya bisa menjawab dengan percaya diri ketika ditanya, “sudah lulus?” Wow, kemarin-kemarin ketika saya ditanya seperti itu dan menjawab dengan, “belum” rasanya campur aduk antara malu, merasa harga diri terinjak-injak, stres, wis ngonolah pokokke.

Bercerita tentang skripsi saya, saya masih ingat betul bagaimana sulitnya mencari subjek, Prambanan-Kalasan-Godean-Sedayu-Kalasan lagi juga saya jabanin dalam sehari. Belum kalau ditolak mentah-mentah, sakitnya tuh disini *tunjuk dengkul*. Terus, waktu analisis data yang mana saya nggak ngerti apa-apa masalah analisis data, mana datanya nggak jelas lagi. Terus waktu harus nunggu Pak Noor berjam-jam sementara ternyata beliau nggak ke kampus. Hahaha Puji Tuhan, berkat pertolongan Tuhan yang besar akhirnya saya bisa melewati itu semua. Semua lelah, pengorbanan, stres itu berakhir indah di pendadaran yang lancar jaya.

Akhir kata, saya bersyukur dan berterima kasih sekali pada Tuhan Yesus yang tak pernah lelah membimbing dan menemani saya yang bandel ini. Pada bapak dan ibuk saya yang juga tak pernah lelah menanyakan “kapan ujian” kepada saya. Kepada adik saya yang menyebalkan. Kepada semua subjek yang mengajarkan makna kasih yang nyata kepada saya dan kepada semua teman, rekan, dan semua orang yang bertanya “kamu sudah lulus?” kepada saya sehingga memicu saya untuk segera mengakhiri semua.

Sudah ya, saya mau ngerjain revisi dulu hehe. God Bless..

Advertisements
24
Oct
14

Sudah hampir pukul 4 pagi. Mataku belum juga mampu terkatup. Segala macam hal menggerayangi pikiranku. Aku lelah terus menerus terlihat bahagia. Aku lelah terus menerus terlihat seperti anak baik dan manis. Aku lelah terus menerus terlihat sopan. Aku lelah terus-menerus menjaga mata. Aku lelah terus menerus menjaga lidah. Aku lelah. Bukankah ini hidupku? Bukankah aku harus jadi diriku sendiri? Memang benar konstruksi budaya ini membunuhku.

Sejujurnya, aku tak selalu bahagia. Sejujurnya aku tak selalu baik dan manis. Sejujurnya aku ingin memberontak. Sejujurnya aku tak selalu sopan. Sejujurnya aku ingin menelanjangi semua orang dengan mataku. Sejujurnya lidahku gatal mengatai-ngatai banyak orang. Sejujurnyaaaa…..

Ah sudahlah.