22
Mar
14

Aku baru saja merebahkan badanku di kasur, ketika tanpa sengaja aku melihat sesuatu yang menarik di atas meja riasku. Dengan terpaksa kutegakkan badanku dan kuseret kakiku menuju meja rias itu. Sebuah undangan pernikahan, yah sekali lagi undangan pernikahan dari teman lamaku. Undangan berwarna merah hati dengan gambar pasangan yang sedang berpelukan mesra sambil saling menatap penuh asa. Pas sekali dengan keadaan mereka sekarang, akan menikah, dibalut dengan cinta yang mesra dan harapan akan kehidupan yang menyenangkan setelah mereka bersama. Ah maaf aku salah fokus, bukan itu yang menarik bagiku. Bukankah gambar-gambar seperti itu memang lazim ada dalam undangan pernikahan? Inisial dibalik undangan itulah yang membuatku terhenyak. D & D, Dio dan Dina, bagaimana mungkin aku tidak sadar bahwa laki – laki dalam gambar dibalik nama itu adalah Dio. Sial umpatku, apa yang aku takutkan akhirnya akan terjadi. Mau tidak mau aku harus bertemu lagi denganmu. Katamu Dio adalah sahabat terbaikmu, sahabat yang selalu kamu banggakan, sahabat yang akhirnya mempertemukanmu denganku. Sudah hampir 3 tahun kita tidak bertemu, aku pun selalu menghindar untuk bertemu denganmu, aku hanya takut jatuh hati lagi padamu. Tapi kini, mau tidak mau aku harus bertemu denganmu di pernikahan Dio, Dio toh juga merupakan salah satu teman terbaikku.

Aku ingat benar bagaimana kilatan matamu ketika kamu menceritakan persahabatanmu dengan Dio, kilatan mata penuh ketulusan. Aku ingat benar ketika kamu bercerita bahwa kelak jika Dio menikah, kamu akan menjadi pengiring pengantinnya. Begitu pula sebaliknya, ketika kamu menikah Diolah yang akan menjadi pengiring pengantinmu. Bahkan jika gereja memperbolehkan, kalian ingin menikah bersama-sama, mengiringi satu sama lain. Sayangnya, pada waktu itu kalian belum menemukan jawaban apakah gereja memperbolehkan adanya pernikahan massal atau tidak.

Sebenarnya sudah sejak tiga bulan yang lalu aku mendengar bahwa Dio akan menikah. Sejak saat itu aku mulai merasakan kekhawatiran akan bertemu denganmu, sekarang kekhawatiran itu sudah semakin terasa. Di tengah lamunanku tentang ‘akan seperti apa pertemuanku denganmu’ aku menerima telepon dari teman bernyanyiku. Dia meminta tolong padaku untuk menjadi bagian dalam paduan suara untuk pernikahan Dio. Rasa-rasanya ia seperti penyelamat bagiku. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan permintaannya. Yang ada dalam pikiranku saat itu adalah dengan berada di barisan paduan suara, aku tidak perlu basa-basi denganmu, atau jika perlu aku akan datang mepet, duduk di bagian paduan suara, menyanyi, dan pulang sehingga aku tak perlu bertemu denganmu. Urusan Dio, asal dia tahu aku ada di barisan paduan suara mungkin dia sudah puas.

Sudah hampir pukul 12 malam, pantas badanku sudah terasa sangat lelah. Aku menghabiskan waktu setengah malam hanya untuk memikirkan apa yang akan terjadi jika semua rencana yang aku susun gagal. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa atau berkata apa. Mungkinkah -how’s your life?- mampu menggambarkan betapa aku masih sangat merindukan pelukanmu? Mungkinkah –how’s your life?- mampu melemaskan otot-ototku sehingga membuatku mampu ‘terlihat’ tenang berdiri di hadapanmu. Ah entahlah.


0 Responses to “”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: