07
Dec
13

Aku lelah.

Aku tertegun membaca pesan darimu. Bukan karena pesan itu hanya terdiri dari dua kata tapi lebih kepada pertanyaanku tentang makna dibalik pesan itu. Aku tidak pernah heran jika kamu hanya mengirimkan pesan dengan dua kata, bahkan biasanya hanya terdiri dari satu kata, ya, tidak, belum, sudah, oke. Bagaimana aku tidak hapal, aku selalu menghela nafas panjang setiap kali membaca pesan darimu yang hanya terdiri dari beberapa kata itu. Aku hampir frustrasi bagaimana caranya membuatmu membalas pesanku dengan lebih dari dua kata.

Mataku belum jua lepas dari pesanmu.

Dengan sigap aku balas dengan menanyakan keadaanmu, apakah kamu baik-baik saja, adakah sesuatu yang bisa kubantu. Sungguh kekhawatiran itu menyelinap tak terduga. Kamu selalu mengajarkan padaku untuk tetap percaya padamu, bahwa kamu baik-baik saja tanpa aku. Bahwa kamu selalu mampu menghadapi setiap permasalahan yang kamu hadapi. Namun, kekhawatiran itu muncul lebih tak terduga dari pencuri, menyelinap masuk ke area otak yang kini memunculkan begitu banyak hal negatif yang mungkin terjadi padamu. Yang aku tahu kamu adalah perempuan terhebat yang pernah aku kenal. Yang aku tahu kamu adalah perempuan yang selalu tegar dalam menghadapi segala macam persoalan hidup yang kamu anggap sebagai tantangan. Yang aku tahu kamu adalah perempuan teroptimis yang pernah aku kenal. Yang aku tahu kamu adalah perempuan paling tangguh yang pernah aku kenal. Kini kamu mengirimkan pesan yang membuat pandanganku tentangmu runtuh seketika.

Lama kutunggu balasanmu, kamu tak kunjung membalasnya.

Aku mengutuk diriku sendiri. Begitu bodohnya aku sebagai laki-laki. Seharusnya aku tahu dari dulu, sehebat-hebatnya kamu, kamu tetaplah perempuan yang tak pernah jauh dari gambaran tentang kelemahan dan kerapuhan. Selama ini yang kamu perlihatkan padaku adalah usahamu untuk menutupi kelemahan dan kerapuhanmu. Bodohnya aku, begitu saja percaya pada kehebatan semumu. Bodohnya aku, begitu saja mempercayakanmu pada dunia yang jauh lebih kejam dari tukang jagal di pasar daging. Bodohnya aku, pergi meninggalkanmu. Seharusnya, aku ada di sampingmu, memelukmu, menguatkanmu, memijat hati dan otakmu seperti yang kau candakan padaku setiap kali kita bertemu.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area…

Sial, makiku dalam hati.


0 Responses to “”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: