Archive for December, 2013

24
Dec
13

Natal tahun ini Natal ke delapan sejak kita memutuskan untuk tidak bersama, Natal ke-entahlah sejak kamu duduk di hadapanku meminta restuku menikahi gadis pilihanmu. Sungguh, masih saja rasa kehilangan itu ada. Sungguh aku masih ingat kebiasaan kita bersama. Menghias pohon natal dengan pertengkaran kecil mengenai bagaimana sebaiknya bintang diletakkan. Menuliskan keinginan kita dan menggantungnya di pohon natal, berharap Tuhan tak pernah lupa memberkati kasih kita. Memadu padankan baju supaya tampak serasi ketika misa di gereja. Berdoa di depan bayi Kristus, berharap kelahirannya yang membawa damai selalu menyelimuti kita. Dan yang paling penting adalah saling menilik diri, sudahkah damai itu terpancar dari dalam diri kita masing-masing. Ah untung saja Natal tahun ini aku ada di barisan paduan suara, sehingga aku toh tak punya waktu memikirkan kesepian dan ketiadaan dirimu. Ehm sebenarnya bukan tak sepenuhnya aku tak punya waktu untuk memikirkanmu.

Kamu tahu, aku harus bernyanyi bersama teman-temanmu, teman dekatmu mungkin. Pertama kali aku harus berlatih bersama mereka, rasanya aku tidak siap. Rasanya semua tentang dirimu mampir kembali dalam ingatanku. Mereka memang tak terlalu mengenalku, tapi aku tahu mereka. Bagaimana aku tidak tahu, kamu selalu menggebu-gebu jika membicarakan mereka. Mereka orang hebat dan kamu memang pantas berada di antara mereka. Untungnya, pelatih paduan suaraku galak sehingga aku segera mampu tersadar dari lamunanku tentangmu dan terfokus pada teks lagu di depanku, jika tidak aku khawatir aku tak akan ikut paduan suara lagi karena takut kamu hadir lagi dalam pikiranku lebih jauh dari itu.

Malam ini,  meski berat aku ucapkan Selamat Natal, “Kawan” semoga damai Tuhan selalu menyertai dirimu dan keluargamu. Salam kasih dan rindu untuk ibumu, maaf aku tak pernah lagi menolongnya mengeluarkan motor dari parkiran gereja.

Advertisements
07
Dec
13

Aku lelah.

Aku tertegun membaca pesan darimu. Bukan karena pesan itu hanya terdiri dari dua kata tapi lebih kepada pertanyaanku tentang makna dibalik pesan itu. Aku tidak pernah heran jika kamu hanya mengirimkan pesan dengan dua kata, bahkan biasanya hanya terdiri dari satu kata, ya, tidak, belum, sudah, oke. Bagaimana aku tidak hapal, aku selalu menghela nafas panjang setiap kali membaca pesan darimu yang hanya terdiri dari beberapa kata itu. Aku hampir frustrasi bagaimana caranya membuatmu membalas pesanku dengan lebih dari dua kata.

Mataku belum jua lepas dari pesanmu.

Dengan sigap aku balas dengan menanyakan keadaanmu, apakah kamu baik-baik saja, adakah sesuatu yang bisa kubantu. Sungguh kekhawatiran itu menyelinap tak terduga. Kamu selalu mengajarkan padaku untuk tetap percaya padamu, bahwa kamu baik-baik saja tanpa aku. Bahwa kamu selalu mampu menghadapi setiap permasalahan yang kamu hadapi. Namun, kekhawatiran itu muncul lebih tak terduga dari pencuri, menyelinap masuk ke area otak yang kini memunculkan begitu banyak hal negatif yang mungkin terjadi padamu. Yang aku tahu kamu adalah perempuan terhebat yang pernah aku kenal. Yang aku tahu kamu adalah perempuan yang selalu tegar dalam menghadapi segala macam persoalan hidup yang kamu anggap sebagai tantangan. Yang aku tahu kamu adalah perempuan teroptimis yang pernah aku kenal. Yang aku tahu kamu adalah perempuan paling tangguh yang pernah aku kenal. Kini kamu mengirimkan pesan yang membuat pandanganku tentangmu runtuh seketika.

Lama kutunggu balasanmu, kamu tak kunjung membalasnya.

Aku mengutuk diriku sendiri. Begitu bodohnya aku sebagai laki-laki. Seharusnya aku tahu dari dulu, sehebat-hebatnya kamu, kamu tetaplah perempuan yang tak pernah jauh dari gambaran tentang kelemahan dan kerapuhan. Selama ini yang kamu perlihatkan padaku adalah usahamu untuk menutupi kelemahan dan kerapuhanmu. Bodohnya aku, begitu saja percaya pada kehebatan semumu. Bodohnya aku, begitu saja mempercayakanmu pada dunia yang jauh lebih kejam dari tukang jagal di pasar daging. Bodohnya aku, pergi meninggalkanmu. Seharusnya, aku ada di sampingmu, memelukmu, menguatkanmu, memijat hati dan otakmu seperti yang kau candakan padaku setiap kali kita bertemu.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan area…

Sial, makiku dalam hati.