13
Nov
13

#2

Saya baru saja membaca sebuah kisah nyata di blog seseorang. Ada satu cerita pengalaman hidup beliau yang cukup membuat saya merenung. Di dalam cerita tersebut beliau mengatakan bahwa perjalanan hidupnya selalu diwarnai oleh perasaan tidak dianggap dan diremehkan, bahkan hal tersebut dilakukan oleh orang tua beliau sendiri. Pergaulan dan dunia kerjanya juga tidak mau kalah meremehkan dan menganggapnya tidak ada. Diremehkan dan tidak dianggap seolah sudah menjadi sahabat sejatinya. Namun, hal itu tidak membuat beliau putus asa, beliau justru menjadikan hal itu cambuk, sehingga beliau tanpa lelah terus berjuang untuk membuat semua orang –terutama orang tua- percaya  bahwa beliau mampu. Hingga akhirnya kini beliau sukses dan orang-orang mulai menoleh dan menganggap keberadaan beliau. Ini blognya veanmardhika.blogspot.com.

Saya hanya mampu tersenyum membaca cerita tersebut. Ada kesamaan antara cerita beliau dengan saya. Saya juga sering diremehkan dan tidak dianggap ada, bedanya hal ini tidak terjadi dalam keluarga saya. Saya selalu nomor satu di dalam keluarga saya. Tetapi ketika berada di luar keluarga, ya selamat datang di dunia nyata. Dunia yang selalu meremehkan dan tidak pernah menganggap saya ada. Dunia luas dengan saya sebagai kambing congeknya. Ada beberapa hal sederhana yang membuat saya sadar bahwa saya memang tidak pernah dianggap ‘memiliki kemampuan yang memadai’ contohnya:

  1. Pernah teman saya cerita bahwa salah satu teman sekelas kami sempat memprotes mengapa saya bisa dapat nilai A di satu mata kuliah yang agak sulit nilai. Berikut kata ‘beliau’, “ Kenapa sih satu-satunya orang yang dapat nilai A di mata kuliah ini ternyata orang yang biasa-biasa aja?”
  2. Ada lagi beda orang,”Eh bagian ini siapa yang ngerjain? Si S ya? Biasa saja kelihatannya, tapi untuk Anda tahu bahwa S adalah salah satu teman saya yang paling pintar dan hebat. Padahal bagian tersebut saya yang mengerjakannya. Mungkin saya dianggap tidak mampu mengerjakan pekerjaan sebaik itu, sehingga teman saya menilai bahwa bagian itu dikerjakan oleh S.
  3. Bahkan teman dekat saya sendiri bilang,”wah kamu teliti juga ya?” Hallooooo, kemana saja baru tahu saja teliti (malah nyombong).

Sekali lagi beberapa pernyataan dan pertanyaan di atas sepertinya sangat sederhana, tetapi jelas menyiratkan bahwa mereka tidak menganggap saya memiliki kemampuan yang memadai, ekspektasi dan penilaian mereka terlalu rendah terhadap saya. Itu baru pernyataan belum lagi bahasa tubuh yang jauh lebih terlihat meremehkan. Bagi saya diremehkan dengan bahasa tubuh itu jauh lebih menyakitkan daripada ucapan lisan. Tetapi sisi positifnya adalah, apabila saya melakukan/mengerjakan suatu hal dan hasilnya agak bagus sedikit saja sudah dianggap baik sekali untuk ukuran saya, padahal menurut saya itu biasa saja. Jadi saya bisa hemat usaha hehe. Tapi bagaimana pun juga, tetap saja tidak dianggap dan diremehkan itu menyakitkan.

Ya, saya tahu persis rasanya tidak dianggap dan diremehkan. Semakin banyak orang yang tidak menganggap dan meremehkan saya, maka semakin besar semangat dan usaha saya untuk membuktikan kepada mereka bahwa saya mampu. Ya gitu deh, saya memang harus berjuang dan bekerja berkali-kali lipat untuk mewujudkan hal tersebut.  Sampai saat ini saya masih sering diremehkan, tapi ya udah sih ya. Kembali pada cerita beliau, meski saya belum sesukses beliau tapi tidak ada yang salah dengan mencoba dan berusaha bukan?

Nah, bicara tentang tidak dianggap dan diremehkan, saling menghargailah pasangannya. Perasaan yang saya rasakan ketika tidak dianggap dan diremehkan membuat saya terpacu untuk belajar lebih menghargai orang lain. Bukankan apa yang kita ingin orang lakukan terhadap kita, kita dululah yang harus memulainya? Karena saya ingin dihargai, maka saya harus menghargai orang terlebih dahulu. Cara saya menghargai orang lain cukup sederhana, misalnya dengan menyilakan dan mendengarkan dengan seksama orang lain berbicara, menyambut kedatangannya, memuji usaha dan hasil pekerjaannya,dll. Ada satu quote dari teman saya yang selalu ingat,

”Kreatif, cekatan, jenius, pekerja keras, loyal. Sayang pengabdiannya dilupakan. Jangan salahkan jika kesetiaannya menghilang karena mereka manusia yang butuh lebih dari sekedar ucapan terima kasih dan jabat tangan ketika banyak waktu, cinta, dan tenaga yang dikorbankan.” (Zulfikar Rachman)

Ya, manusia butuh lebih dari itu semua. Mereka butuh penghargaan. Manusia bukanlah mesin, manusia memiliki perasaan yang harus selalu dijaga. Dengan belajar menghargai mereka saya harap orang lain tidak merasakan sakitnya tidak dianggap dan diremehkan seperti yang saya rasakan.


0 Responses to “#2”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: