Archive for November, 2013

22
Nov
13

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Catatanku

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan…

View original post 2,517 more words

Advertisements
13
Nov
13

#2

Saya baru saja membaca sebuah kisah nyata di blog seseorang. Ada satu cerita pengalaman hidup beliau yang cukup membuat saya merenung. Di dalam cerita tersebut beliau mengatakan bahwa perjalanan hidupnya selalu diwarnai oleh perasaan tidak dianggap dan diremehkan, bahkan hal tersebut dilakukan oleh orang tua beliau sendiri. Pergaulan dan dunia kerjanya juga tidak mau kalah meremehkan dan menganggapnya tidak ada. Diremehkan dan tidak dianggap seolah sudah menjadi sahabat sejatinya. Namun, hal itu tidak membuat beliau putus asa, beliau justru menjadikan hal itu cambuk, sehingga beliau tanpa lelah terus berjuang untuk membuat semua orang –terutama orang tua- percaya  bahwa beliau mampu. Hingga akhirnya kini beliau sukses dan orang-orang mulai menoleh dan menganggap keberadaan beliau. Ini blognya veanmardhika.blogspot.com.

Saya hanya mampu tersenyum membaca cerita tersebut. Ada kesamaan antara cerita beliau dengan saya. Saya juga sering diremehkan dan tidak dianggap ada, bedanya hal ini tidak terjadi dalam keluarga saya. Saya selalu nomor satu di dalam keluarga saya. Tetapi ketika berada di luar keluarga, ya selamat datang di dunia nyata. Dunia yang selalu meremehkan dan tidak pernah menganggap saya ada. Dunia luas dengan saya sebagai kambing congeknya. Ada beberapa hal sederhana yang membuat saya sadar bahwa saya memang tidak pernah dianggap ‘memiliki kemampuan yang memadai’ contohnya:

  1. Pernah teman saya cerita bahwa salah satu teman sekelas kami sempat memprotes mengapa saya bisa dapat nilai A di satu mata kuliah yang agak sulit nilai. Berikut kata ‘beliau’, “ Kenapa sih satu-satunya orang yang dapat nilai A di mata kuliah ini ternyata orang yang biasa-biasa aja?”
  2. Ada lagi beda orang,”Eh bagian ini siapa yang ngerjain? Si S ya? Biasa saja kelihatannya, tapi untuk Anda tahu bahwa S adalah salah satu teman saya yang paling pintar dan hebat. Padahal bagian tersebut saya yang mengerjakannya. Mungkin saya dianggap tidak mampu mengerjakan pekerjaan sebaik itu, sehingga teman saya menilai bahwa bagian itu dikerjakan oleh S.
  3. Bahkan teman dekat saya sendiri bilang,”wah kamu teliti juga ya?” Hallooooo, kemana saja baru tahu saja teliti (malah nyombong).

Sekali lagi beberapa pernyataan dan pertanyaan di atas sepertinya sangat sederhana, tetapi jelas menyiratkan bahwa mereka tidak menganggap saya memiliki kemampuan yang memadai, ekspektasi dan penilaian mereka terlalu rendah terhadap saya. Itu baru pernyataan belum lagi bahasa tubuh yang jauh lebih terlihat meremehkan. Bagi saya diremehkan dengan bahasa tubuh itu jauh lebih menyakitkan daripada ucapan lisan. Tetapi sisi positifnya adalah, apabila saya melakukan/mengerjakan suatu hal dan hasilnya agak bagus sedikit saja sudah dianggap baik sekali untuk ukuran saya, padahal menurut saya itu biasa saja. Jadi saya bisa hemat usaha hehe. Tapi bagaimana pun juga, tetap saja tidak dianggap dan diremehkan itu menyakitkan.

Ya, saya tahu persis rasanya tidak dianggap dan diremehkan. Semakin banyak orang yang tidak menganggap dan meremehkan saya, maka semakin besar semangat dan usaha saya untuk membuktikan kepada mereka bahwa saya mampu. Ya gitu deh, saya memang harus berjuang dan bekerja berkali-kali lipat untuk mewujudkan hal tersebut.  Sampai saat ini saya masih sering diremehkan, tapi ya udah sih ya. Kembali pada cerita beliau, meski saya belum sesukses beliau tapi tidak ada yang salah dengan mencoba dan berusaha bukan?

Nah, bicara tentang tidak dianggap dan diremehkan, saling menghargailah pasangannya. Perasaan yang saya rasakan ketika tidak dianggap dan diremehkan membuat saya terpacu untuk belajar lebih menghargai orang lain. Bukankan apa yang kita ingin orang lakukan terhadap kita, kita dululah yang harus memulainya? Karena saya ingin dihargai, maka saya harus menghargai orang terlebih dahulu. Cara saya menghargai orang lain cukup sederhana, misalnya dengan menyilakan dan mendengarkan dengan seksama orang lain berbicara, menyambut kedatangannya, memuji usaha dan hasil pekerjaannya,dll. Ada satu quote dari teman saya yang selalu ingat,

”Kreatif, cekatan, jenius, pekerja keras, loyal. Sayang pengabdiannya dilupakan. Jangan salahkan jika kesetiaannya menghilang karena mereka manusia yang butuh lebih dari sekedar ucapan terima kasih dan jabat tangan ketika banyak waktu, cinta, dan tenaga yang dikorbankan.” (Zulfikar Rachman)

Ya, manusia butuh lebih dari itu semua. Mereka butuh penghargaan. Manusia bukanlah mesin, manusia memiliki perasaan yang harus selalu dijaga. Dengan belajar menghargai mereka saya harap orang lain tidak merasakan sakitnya tidak dianggap dan diremehkan seperti yang saya rasakan.

13
Nov
13

#1

“Kamu gimana, udah naksir cowok?”

Sebuah pertanyaan meluncur spontan dari mulut seorang teman. Pertanyaan yang cukup mengusik saya. Agak aneh sebenarnya mendengar pertanyaan itu di usia saya yang sudah tidak remaja lagi. Seolah-olah saya kehilangan masa remaja saya, masa dimana “naksir-naksiran” menjadi hal yang wajar sehingga pertanyaan itu harus muncul di usia saya yang sudah cukup tua untuk “naksir-naksiran” ini. Idealnya, seusia saya sudah mampu menjalin hubungan dengan komitmen yang serius, ya setidaknya itu ideal menurut tugas perkembangan dewasa awal. Namun pada kenyataannya untuk melalui fase “naksir” saja saya belum sanggup haha.

Entah apa yang membuat saya masih belum sanggup melewati fase ‘naksir’ untuk kemudian melanjutkan tugas perkembangan menjalin hubungan yang serius. Ya mungkin karena secara fisik saya tak secantik Atiqah Hasiholan dan tak seseksi Nikita Mirzani, pun sifat saya yang masih egois dan kekanak-kanakan juga menjadi kekurangan tersendiri. Ya siapa sih yang mau sama perempuan jelek, pendek, egois semacam itu.

Perkara apa yang telah terjadi di masa lalu mungkin juga menjadi tembok yang cukup besar untuk ditembus orang. Saya sendiri juga tidak mengerti, mengapa peristiwa tersebut sungguh membekas dalam diri saya. Sungguh, tidak mudah percaya pada orang lain bukanlah keinginan saya sendiri, tapi ia terbentuk dengan sendirinya.

Akhir-akhir ini saya sering berpikir, perlahan tapi pasti semua teman-teman akan meninggalkan saya. Dimulai dari ditinggal lulus, kemudian ditinggal kerja, dan ditinggal nikah. Mereka akan memiliki kehidupan baru yang pasti lebih menarik, sementara saya masih di sini sendiri. Ah rasanya menakutkan sekali jika hal itu terjadi.

Harapan saya sebelum semua itu terjadi, Tuhan sudah mengirimkan pendamping yang tepat bagi saya. Tidak hanya untuk “naksir-naksiran” tetapi untuk menjalin hubungan yang serius dan menjadi teman hidup yang terus ada di samping saya ketika teman-teman yang lain mulai meninggalkan saya. Ya semoga Tuhan mengijinkannya.