19
Oct
13

Cybercounseling

LATAR BELAKANG

Internet sebagai salah satu produk TI telah mencapai atau menjangkau orang-orang dari berbagai macam dasar dan aturan di seluruh dunia yang masih tidak mungkin disatukan. Setiap negara memiliki aturan yang berbeda tentang praktek konsultasi di internet. Walaupun begitu, pada dasarnya untuk konselor perlu diketahui dan mengerti aturan resmi badan atau lembaga yang terkait di daerah setempat akan berpraktek. Pelayanan melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi sangat mudah untuk diakses, ditambah dengan tidak membutuhkan biaya transportasi yang sangatlah merepotkan. Dengan adanya teknologi, pelayanan bimbingan dan konseling jadi bersifat anonim.

Cybercounseling sendiri merupakan suatu proses konseling yang dilakukan di dunia maya (internet). Dimana klien dan konselor tidak dapat saling bertatap muka. Hal ini menyebabkan adanya indikasi kurangnya penggunaan etika dalam konseling di dunia maya. Tidak menutup kemungkinan konselor mengabaikan kode etik psikologi dalam cybercounseling ini. Maka dari itu kita perlu melakukan beberapa upaya untuk pencegahan penyalahgunaan kode etik psikolog, dimana hal ini berkaitan langsung dengan akuntabilitas seorang psikolog/ konselor.

 

RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang dimaksud akuntabilitas dan kode etik psikolog?

2. Apakah yang dimaksud dengan cybercounseling?

3. Bagaimanakah etika dalam cybercounseling?

4. Bagaimanakah upaya preventif untuk mengurangi kesalahan dalam

cybercounseling?

 

TUJUAN

  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud akuntabilitas dan kode etik psikolog.
  2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud cybercounseling.
  3. Untuk mengetahui etika dalam cybercounseling.
  4. Mencegah dan mengurangi praktik-praktik illegal dalam cybercounseling

 

PEMBAHASAN

Akuntabilitas dan Kode Etik Psikolog

Akuntabilitas memiliki arti bahwa klinisi menelaah pekerjaan profesionalnya dengan seksama dan kritis, sehingga mereka dapat menjelaskan atau bertanggung jawab atas proses dan hasil aktivitasnya. Klinisi bertanggung jawab atas pekerjaannya. Mengembangkan sense of accountability (rasa tanggung jawab) merupakan bagian dari apa yang dimaksud professional.

Klinisi wajib bertanggung jawab terhadap klien-klien dalam program (konsumen), organisasi di mana program itu melekat, badan pendanaan luar, pembayaran pajak atau contributor pribadinya, profesinya, dan khazanah pengetahuan yang relevan secara umum. Bersikap akuntabel bukan hanya berarti bahwa kita meneliti kepraktisan, biaya dan manfaat sebuah kegiatan atau program terapi, tetapi juga bahwa kita selalu mengikuti pengetahuan yang dijadikan dasar pekerjaan klinis, yang berkembang secara konstan. Klinisi bukan hanya peduli dengan perbaikan praktis berbagai program tetapi juga dengan klarifikasi berbagai macam teori dan konsep (Sundberg et.al, 2007).

Menurut pasal 2 dalam kode etik psikolog mengenai tanggung jawab, dijelaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatannya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog mengutamakan kompetensi, obyektivitas, kejujuran, menjunjung tinggi integritas dan norma-norma keahlian serta menyadari konsekuensi tindakannya. Pada pasal 8 mengenai sikap profesional dan perlakuan terhadap pemakai jasa atau klien, dijelaskan bahwa dalam memberikan jasa/praktik psikologi kepada pemakai jasa atau klien, baik yang bersifat perorangan, kelompok, lembaga atau organisasi/institusi sesuai  dengan  keahlian  dan  kewenangannya,  Ilmuwan  Psikologi  dan Psikolog berkewajiban untuk: a) Mengutamakan dasar-dasar professional, b) Memberikan  jasa/praktik  kepada  semua  pihak  yang membutuhkannya, c) Melindungi  klien  atau  pemakai  jasa dari  akibat  yang merugikan sebagai dampak jasa/praktik yang diterimanya. Sedangkan pada pasal 12 mengenai  kerahasiaan data dan hasil pemeriksaan, Ilmuwan  Psikologi  dan  Psikolog  wajib  memegang  teguh  rahasia  yang menyangkut  klien  atau  pemakai  jasa  psikologi  dalam  hubungan  dengan pelaksanaan kegiatannya

Cybercounseling

Cybercounseling sendiri merupakan suatu proses konseling yang dilakukan di dunia maya (internet). Cybercounseling adalah sebuah sarana praktek konseling secara professional yang dilakukan antara konselor dan klien dari tempat yang terpisah dengan memanfaatkan media elektronik dalam berkomunikasi, yaitu melalui internet yang mencakup halaman website, email, chat room, maupun video conference atau media percakapan secara realtime.

Cybercounseling atau konseling melalui internet merupakan salah satu pengembangan proses konseling dengan metode yang relatif baru seiring dengan kondisi berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Metode cybercounseling yang relatif baru ini membuat banyak konselor yang masih awam dengan konseling secara online kurang mengerti dan memahami bagaimana penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media yang digunakan untuk pemberian pelayanan konseling terhadap klien.

Di samping ketidakmengertian secara professional, terdapat kecurangan atau  yang mungkin dapat terjadi dalam proses konseling melalui internet atau yang biasa disebut sebagai cybercrime. Berbagai kondisi tersebut menjadikan layanan psikologis melalui media internet akan menimbulkan resiko yang lebih besar dalam pelanggaran secara etika dan hukum. Beberapa hal yang menjadi isu atau permasalahan pokok dari cybercounseling antara lain :

  1. Kesadaran konselor yang kurang akan prinsip-prinsip umum etika mengenai cybercounseling karena pelatihan dan pendidikan yang ditempuh oleh konselor sebelumnya masih dalam setting tradisional di mana proses konseling terjadi ketika konselor dan klien bertatap muka secara langsung. Hal tersebut membuat konselor kurang memiliki pemahaman yang cukup untuk menghadapi permasalahan etika terkait dengan layanan konseling secara online.
  2. Pengembangan etika dan regulasi untuk konseling melalui media internet sulit dilakukan karena perubahan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sangat pesat.
  3. Pada proses cybercounseling, kerahasiaan mengenai informasi klien maupun proses konseling yang rentan terjaga keamanannya. Kondisi keamanan data yang rentan disebabkan karena rekaman data elektronik lebih mudah dibuka oleh pihak-pihak yang tidak berwenang daripada rekaman data dalam bentuk kertas atau suara.   
  4. Permasalahan yang juga menjadi isu seputar cybercounseling adalah mengenai tanggung jawab konselor terhadap persoalan-persoalan yang terkait dengan klien selama proses konseling berlangsung, seperti berbagai keadaan darurat atau kemungkinan melukai diri sendiri / orang lain maupun melakukan bunuh diri.

Etika dalam cybercounseling

Pemberian layanan kesehatan mental maupun perilaku secara online melalui internet menuai banyak pertanyaan mengenai proses terapeutik dan pentingnya dasar-dasar etika, hukum (legalitas), pelatihan, dan isu-isu seputar teknologi informasi dan komunikasi sebelum konselor berhadapan dengan calon klien dengan media internet.

Secara umum, etika dalam pelaksanaan cybercounseling adalah sebagai berikut 1. Hubungan dalam konseling melalui internet

Dalam hal ini konselor yang memberikan layanannya melalui internet memiliki kewajiban untuk menginformasikan berbagai keadaan, ketentuan, dan persyaratan konseling yang harus diketahui, dipahami, dan diterima oleh calon klien berkaitan dengan pelayanan melalui internet yang diberikan oleh konselor tersebut.

2. Kerahasiaan dalam konseling melalui internet

Kerahasiaan dan keterbatasan konseling melalui internet merupakan isu yang sangat penting untuk dipahami individu yang berhati-hati terhadap berbagai tindakan bantuan. Pada umumnya, orang-orang yang berprofesi sebagai seorang konselor akan dengan teguh menjaga dan memelihara kerahasiaan. Bagi konselor, hal tersebut secara khusus diatur dalam kode etik professional yang diembannya. Karena itulah, sangat penting bagi konselor untuk menginformasikan mengenai aspek kerahasiaan bagi klien, termasuk juga mengenai kerahasiaan dalam layanan konseling melalui internet.

3. Aspek hukum, lisensi, dan sertifikasi

Tidak terdapatnya batasan geografi memberi kesempatan klien dan konselor yang berasal dari berbagai wilayah, bahkan negara terlibat dalam suatu proses terapeutik. Jika dilihat dari sisi hukum, tentu saja hal ini akan mendatangkan permasalahan-permasalahan yang terkait dengan wilayah praktek dan lisensi konselor. Sehingga dalam hal ini dibutuhkan etika layanan konseling melalui internet yang diatur berdasarkan aspek hukum. Lisensi dan sertifikasi bagi konselor juga dibutuhkan sebagai syarat untuk memberikan layanan konseling secara online melalui media internet .

 

Upaya Preventif Mengurangi Kesalahan dalam Cybercounseling

Perilaku preventif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan seseorang atau kelompok yang bertujuan mencegah timbulnya atau menularnya suatu penyakit atau masalah. Prevensi dimaksudkan untuk mengeliminasi kebutuhan akan pelayanan klinis (meskipun tujuan itu merupakan tujuan yang sangat jauh) dan bukan sekedar menangani masalah setelah masalah itu berkembang. Memang secara khusus prevensi ini untuk masalah-masalah klinis, tapi dalam kaitannya dengan cybercounseling ini makna upaya prevensi dijabarkan secara lebih luas, bukan hanya mengacu pada permasalahan klinis.

Upaya preventif (klinis) diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Prevensi primer mengurangi insiden gangguan mental dengan segala jenisnya. Prevensi sekunder, melalui deteksi dini dan penemuan kasus, mengurangi durasi atau meringankan gangguan yang telah terjadi. Prevensi tersier, kadang- kadang disebut rehabilitasi, mengurangi hendaya dari gangguan-gangguaan yang sudah berkembang dan mencegah kekambuhan (Sunberg et.al, 2007). Upaya prevensi yang kami buat ini dapat dikategorikan sebagai prevensi primer, dimana prevensi ini bertujuan untuk mengurangi permasalahan (kesalahan) dalam cybercounseling.

Sebelumnya, telah disebutkan di atas permasalahan-permasalahan yang ada akibat adanya cybercounseling. Selanjutnya,  untuk mengurangi permasalahan-permasalahan yang ada tersebut seorang konselor harus :

  1. Mengacu pada hukum dan kode etik konsultasi online.

Seperti yang telah disebutkan di atas tentang etika dalam cybercounseling, seorang konselor ketika memberikan konselingnya

harus tetap mengacu pada hukum dan etika yang berlaku.

  1. Memberitahukan klien tentang metode yang dipakai untuk membantu keamanan komunikasi klien, konselor dan pengawas.
  2. Menginformasikan klien, bagaimana dan berapa lama data hasil konsultasi akan disimpan.
  3. Dalam situasi yang sulit dianjurkan untuk memperjelas identitas konselor atau klien. Hindari atau hati-hati dengan kemungkinan penipuan, misalnya dengan menggunakan kode kata-kata, huruf dan grafik.
  4. Jika diperlukan izin dari pusat atau pengawas dalam penyediaan jasa web konseling untuk anak kecil, periksa identitas pemberi izin tersebut.
  5. Ikuti prosedur yang sesuai dengan informasi yang diterbitkan untuk membagi informasi klien dengan sumber lain.
  6. Pertimbangkan dengan matang tingkat penyingkapan pada klien dan berikan penyingkapan yang rasional juga oleh konselor.
  7. Menyediakan link ke situs lembaga sertifikasi dan badan perjanjian yang sesuai untuk memfasiilitasi perlindungan klien.
  8. Menghubungi National Board for Certified Counselor atau badan perizinan milik pemerintah tempat klien tinggal untuk mendapatkan nama atau setidaknya satu konselor dapat yang dapat dihubungi di daerah tempat tinggal klien.
  9. Mendiskusikan dengan prosedur kontrak antara klien dan konselor ketika sedang offline.
  10. Menjelaskan kepada klien kemungkinan bagaimana untuk menanggulangi kesalahpahaman yang mungkin muncul karena kurangnya petunjuk visual antara klien dan konselor.
  11. Anjurkan klien untuk menemui konselor yang sebenarnya apabila klien masih memiliki keluhan.

Dari semua upaya untuk mengurangi kesalahan yang terjadi dalam cybercounseling ini, dua hal yang paling penting adalah meskipun konseling melalui dunia maya seorang konselor harus mengacu pada hukum dan etika yang berlaku serta tetap melibatkan klien dalam setiap keputusan yang akan diambil konselor.

 

KESIMPULAN

Cybercounseling merupakan suatu proses konseling yang dilakukan di dunia maya (internet). Cybercounseling adalah sebuah sarana praktik konseling secara professional yang dilakukan antara konselor dan klien dari tempat yang terpisah dengan memanfaatkan media elektronik dalam berkomunikasi, yaitu melalui internet yang mencakup halaman website, email, chat room, maupun video conference atau media percakapan secara realtime. Dalam pelaksanaannya cybercounseling ini mengalami banyak permasalahan, terutama yang menyangkut akuntabilitas dan etika yang seharusnya dimiliki oleh seorang konselor. Masalah itu antara lain: kerahasiaan klien yang tidak terjamin dengan baik, kemampuan konselor yang mungkn diragukan, tanggung jawab konselor dalam menangani masalah tersebut, dan sebagainya.

Maka dari itu diperlukan upaya preventif untuk mencegah adanya permasalahan – permasalah dalam cybercounseling tersebut. Upaya preventif adalah perbuatan seseorang atau kelompok yang bertujuan mencegah timbulnya atau menularnya suatu penyakit atau masalah. Upaya – upaya yang dapat dilakukan harus mengacu pada etika konseling dan sebisa mungkin tetap mengikutsertakan klien dalam konselingnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Khaeriyah. (2011, April 2011). Isu Etik dan Legal Teknologi Informasi. Retrieved Juni 26, 2011, from http://azumicute.blogspot.com/2011/04/isu-etik-dan-legal-teknologi-informasi.html

 NN. (n.d.). Kode Etik Psikologi. Retrieved Juni 26, 2011, from http://pasca.uma.ac.id/adminpasca/upload/Elib/MPSi/kode-etik-psikologi.pdf

NN. (n.d.). Pengembangan Blog Layanan Informasi dan Konsultasi Bimbingan dan Konseling. Retrieved Juni 2006, 2011, from http://repository.upi.edu/operator/upload/s_a0251_0607201_chapter2.pdf

Sundberg, N. D., Winebarger, A. A., & Taplin, J. R. (2007). Psikologi Klinis Edisi Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


0 Responses to “Cybercounseling”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: