19
Oct
13

Analisis Kepemimpinan Fidel Castro

PENDAHULUAN

Ada banyak istilah mengenai kepemimpinan. Dalam referensi-referensi yang bersumber dari Barat, kita mengenal adanya istilah leadership. Ada juga istilah manager sebagai seorang pemimpin (biasanya dalam dunia bisnis). Di Indonesia kita menyebut itu semua sebagai kepemimpinan. Leadership adalah proses mempengaruhi sebuah kelompok untuk dapat mencapai suatu tujuan. Leadership sendiri lebih menekankan pada bagaimana seorang leader dapat membuat orang lain terpengaruh dan melakukan sesuatu sesuai yang diharapkannya. Dalam mencapai usaha tersebut ada beberapa gaya kepemimpinan yang dapat digunakan. Menurut gaya kepemimpinan klasik terdapat Autocratic Style, Human Relation Style, Laissez faire style, dan democratic style. Menurut Fiedler dibagi menjadi task-motivated style dan relationship-motivated style, dan masih banyak gaya kepemimpinan lainnya (Schermerhorn, 2010). Tipe – tipe kepemimpinan inilah yang kemudian diadopsi oleh banyak tokoh dunia dalam memimpin negara atau organisasi mereka. Namun, tidak semua tokoh dunia memiliki gaya kepemimpinan yang baik. Salah satu contohnya adalah Fidel Castro, mantan presiden Kuba.

 

BIOGRAFI FIDEL CASTRO

Fidel Alejandro Castro Ruz (lahir 13 Agustus 1926) adalah Presiden Kuba sejak 1976 hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana Menteri atas penunjukannya pada Februari 1959 setelah tampil sebagai komandan revolusi yang gagal Presiden Dewan Negara merangkap jabatan sebagai Dewan Menteri Fulgencio Batista pada tahun 1976. Castro tampil sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (Communist Party of Cuba) pada tahun 1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik sosialis satu-partai. Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai komandan Militer Kuba. Pada 31 Juli 2006, Castro menyerahkan jabatan kepresidenannya kepada adiknya, Raúl untuk beberapa waktu. Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik Dominika Rafael Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena adanya ancaman akan dihabisi lawan politiknya. Setelah meraih doktor di bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953, ia memimpin serangan ke barak militer Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, ia langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner Che Guevara. Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba pada 2 Desember 1956 dan melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan Sierra Maestra. Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita dan impiannya mulai diwujudkan dengan bertemu Hugo Chávez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia. Menjelang hari ulang tahunnya ke-80 yang jatuh pada 13 Agustus 2006, ia menyerahkan tampuk kepemimpinannya untuk sementara waktu kepada adiknya. Praktis, Raúl merangkap jabatan, yakni sebagai Presiden Kuba dan Menteri Pertahanan Kuba. Penyerahan kekuasaan ini merupakan pertama kali sejak ia memerintah Kuba pada 1959. Dia mundur pada tahun 2008. Pada 19 Februari 2008, lima hari sebelum mandatnya berakhir, Castro menyatakan tidak akan mencalonkan diri maupun menerima masa bakti baru sebagai presiden atau komandan angkatan bersenjata Kuba.

 

KEPEMIMPINAN FIDEL CASTRO

Patria o Muerte! Tanah Air atau Mati! Pekik itu yang kerap dikumandangkan oleh Fidel Castro dalam setiap pidatonya yang panjang dan menggelora. Hidupnya seperti hendak ia berikan seluruhnya untuk tanah air yang begitu ia banggakan:Kuba. Jika ada pemimpin sebuah Negara yang berkali – kali mengalami percobaan pembunuhan dan lebih dari empat dekade menjadi musuh bagi negara lain, tentunya pemimpin itu adalah pemimpin yang menarik. Awal kiprah Fidel Castro di dunia politik bermula dari perlawanannya kepada rezim diktator Fulgencio Batista. Ia dan beberapa orang kawan seperjuangannya bergerilya dari pegunungan Sierra Maestra dan mendapatkan simpati dari rakyat Kuba. Itu bukan perjuangan yang mulus – mulus saja, membutuhkan beberapa tahun bagi Fidel Castro sampai ia benar- benar berhasil menggulingkan Fulgencio Batista (Usman, 2006).

Semasa memerintah Fidel Castro dikenal sebagai sesosok pemimpin yang diktator. Ia dikenal sebagai figur pemimpin yang tegas, keras, bahkan angkuh. Jules Archer (dalam Natamarga, 2005) mendefinisikan diktator sebagai seorang penguasa yang mencari dan mendapatkan kekuasaan mutlak pemerintahan tanpa (biasanya) memperhatikan keinginan – keinginan nyata rakyatnya. Kekuasaan mutlak itu dapat diperolehnya baik dengan jalan sah (misalnya lewat pemilihan umum) ataupun tidak sah (misalnya kudeta). Dalam hal ini Fidel Castro mendapatkan tampuk kekuasaannya melalui jalan yang tidak sah yaitu seperti yang disebutkan di atas bahwa ia “mengkudeta” pemimpin Kuba sebelumnya yaitu Fulgencio Batista. Popularitas adalah hal penting bagi seorang diktator. Menjadi sangat wajar bagi seorang diktator untuk meneriakkan perang pada negara lain atau mempengaruhi rakyat agar menentang kekuasaan dunia. Hal ini terlihat jelas sesaat setelah merebut kekuasaan, Castro mulai mendirikan sistem intelijen dan keamanan yang amat ketat. Sebagai menteri pertahanan, adik Castro mendirikan kembali pengadilan militer, organisasi keamanan seksi pertama disebut Keamanan Negara (DGCI), dijuluki Gestapo merah. Tugasnya adalah meresap dan menghancurkan kelompok anti Castro, membasmi dengan kejam gerakan gerilya Escambrat, mengendalikan kamp kerja paksa dan penjara, juga ada bagian khusus mengawasi seluruh pejabat pemerintah. Seksi ketiga bertanggung jawab atas pengawasan terhadap semua anasir kebudayaan, olahraga, kesenian, pengarang dan  bioskop. Seksi keenam bertanggung jawab atas penyadapan telepon, seluruh personelnya mencapai 1.000 orang, memiliki kekuasaan istimewa yang amat besar. Seksi ketiga DSMI departemen dalam negeri bertanggung jawab   mengawasi agama dan merembes kedalam organisasi keagamaan.

Kepemimpinan otoriter atau biasa di sebut kepemimpinan otokratis atau kepemimpinan diktator adalah suatu kepemimpinan dimana seorang pemimpin bertindak sebagai diktator, pemimpin adalah penguasa, semua kendali ada di tangan pemimpin. Seorang diktator jelas tidak menyukai adanya meeting, rapat apalagi musyawarah karena bagi seorang diktator tidak menghendaki adanya perbedaan dan pastinya suka dengan memaksakan kehendaknya.  Dengan kepemimpinan diktator semua kebijakan ada di tangan pemimpin, semua keputusan ada di tangan pemimpin, semua bentuk hukuman, larangan peraturan dapat juga berubah sesuai dengan suasana hati pemimpin. Kepemimpinan otoriter merupakan gaya kepemimpinan yang paling tua dikenal manusia. Oleh karena itu gaya kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang atau sekelompok kecil orang yang di antara mereka tetap ada seorang yang paling berkuasa. Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Orang-orang yang dipimpin yang jumlahnya lebih banyak, merupakan pihak yang dikuasai, yang disebut bawahan atau anak buah. Kedudukan bawahan semata-mata sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan kehendak pimpinan. Pemimpin memandang dirinya lebih, dalam segala hal dibandingkan dengan bawahannya. Kemampuan bawahan selalu dipandang rendah, sehingga dianggap tidak mampu berbuat sesuatu tanpa perintah. Perintah pemimpin sebagai atasan tidak boleh dibantah, karena dipandang sebagai satu-satunya yang paling benar. Pemimpin sebagai penguasa merupakan penentu nasib bawahannya. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, selain harus tunduk dan patuh di bawah kekuasaan sang pemimpin. Kekuasaan pimpinan digunakan untuk menekan bawahan, dengan mempergunakan sanksi atau hukuman sebagai alat utama. Pemimpin menilai kesuksesannya dari segi timbulnya rasa takut dan kepatuhan yang bersifat kaku.

Adapun ciri kepemimpinan otoriter adalah sebagai berikut :

  1. Pemimpin menentukan semua keputusan yang bertalian dengan seluruh pekerjaan, dan memerintahkan semua bawahan untuk melaksanakannya.
  2. Pemimpin menentukan semua standard bagaimana bawahan melakukan tugas.
  3. Pemimpin memberikan ancaman dan hukuman kepada bawahan yg tidak berhasil melaksanakan tugas-tugas yang telah ditentukan.
  4. Pemimpin kurang percaya terhadap bawahan dan sebaliknya bawahan tidak atau sedikit sekali terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Dalam hal ini, di Kuba kebijakan – kebijakan publik yang dibangun bersifat elitis dengan bertumpu pada sosok Fidel Castro. Fidel Castro lebih menekankan mobilisasi massa rakyat dan menghalangi setiap oposisi yang dijalankan oleh kelompok-kelompok yang berusaha menentang Castro. Dari sini dapat kita lihat bahwa banyak kebijakan publik lebih mencerminkan padangan – pandangan elit Castro dibandingkan dengan pandangan – pandangan rakyat (Winarno, 2008). Pada September 1960, Castro mendirikan Komite Pembela Revolusi, bertugas mengawasi aktivitas kaum anti revolusi, sehingga tercapailah pengendalian  yang amat ketat terhadap masyarakat. Pada tahun ini juga semua surat kabar oposisi ditutup dan semua stasiun radio dan televisi berada dalam kontrol negara. Castro jelas – jelas mengontrol dan membatasi semua aspek kehidupan negara. Pada 1975 telah lolos sebuah UU pencegahan kejahatan, maka barang siapa tidak sejalan dengan ideologi rezim Castro yang dianggap mungkin akan membahayakan pemerintah, maka bisa ditangkap sebagai tersangka. Sejak 1996 hingga akhir 1990, lebih dari 100 ribu orang pernah dipenjara, sebanyak 15 ribu – 17 ribu orang telah dihukum mati. Kuba seperti halnya Korea Utara, sama sekali tidak mempunyai kebebasan berideologi, berbicara, kebebasan pers, penerbitan buku serta berorganisasi. Pada 2008 dinilai sebagai negara paling tidak bebas berinternet di seluruh dunia (Guoding, 2010). Hal ini mengindikasikan adanya ketidakpercayaan Castro pada bawahan dan rakyatnya sehingga muncul peraturan tersebut.

Gaya kepemimpinan Fidel Castro inilah yang membuatnya dibenci sekaligus dicintai warganya. Meskipun ia sangat diktator tetapi tidak dapat dipungkiri ia mampu membangun Kuba menjadi lebih baik, misalnya dengan melakukan pendidikan gratis, kebijakan agraria dengan sistem pembagian tanah, peningkatan penghasilan pertanian, dan peningkatan kesehatan. Pun ternyata Castro juga merupakan seorang pemimpin yang bertanggung jawab dan berjiwa besar. Di masa pemerintahannya, ia pernah “menelantarkan” kaum homoseksual, tetapi baru – baru ini ia mengakui kesalahannya dan berupaya bersama pemerintah Kuba untuk terus mengupayakan keberadaan bahkan pernikahan di antara kaum homoseksual disahkan berdasarkan hukum Kuba.

 

DAFTAR PUSTAKA

Guoding, G. (2010, 07 24). Catatan Kejahatan Totaliter Tirani Komunis: Re. Retrieved 06 19, 2011, from http://www.epochtimes.co.id/internasional.php?id=870

Natamarga, R. (2005). Apa dan Siapa Diktator? Retrieved 06 19, 2011, from http://www.ruangbaca.com/resensi/?action=b3Blbg==&linkto=NTA=.&when=MjAwNTA5Mtg=

NN. (2009, 03). Biografi Fidel Castro. Retrieved 06 19, 2011, from http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/03/biografi-fidel-castro.html

Roy. (2009, 05 15). Kepemimpinan Otoriter Titik Pertama. Retrieved 06 19, 2011, from http://belajar-kepemimpinan.blogspot.com/2009/05/kepemimpinan-otoriter-titik-pertama.html

Schermerhorn, J. R. (2010). Introduction to Management. Asia: John Wiley & Sons Pte Ltd.

Sofa. (2008, 02 05). Teori Kepemimpinan. Retrieved 06 19, 2011, from http://massofa.wordpress.com/2008/02/05/teori-kepemimpinan/

Usman, I. H. (2006). Fidel Castro Melawan. Jakarta: Mediakita.

Winarno, B. (2008). Kebijakan Publik Teori dan Proses. Jakarta: MedPress.

 


1 Response to “Analisis Kepemimpinan Fidel Castro”


  1. March 23, 2016 at 9:12 am

    Mantap! Terima kasih kawan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: