15
Oct
13

FTV dan Ekspektasi

Pembahasan kali ini bukan pembahasan menye-menye seperti biasanya. Entah mengapa saya terusik dengan salah satu fenomena TV akhir-akhir ini. Film Televisi iya Film Televisi, anak gahol biasanya menyebutnya FTV. Hal ini terlintas di benak saya, mengingat saya stres sekali dengan sesuatu yang disebut skripsi. Rasanya sudah punah semangat saya untuk menyelesaikan masterpiece tersebut. Nah, gara-gara stress inilah saya sering bingung mau ngapain kalau di rumah. Alhasil, saya cuma bisa menonton TV, salah satunya ya menonton FTV ini.

Film Televisi (FTV) adalah jenis film yang diproduksi untuk televisi yang dibuat oleh stasiun televisi ataupun rumah produksi berdurasi 120 menit sampai 180 menit dengan tema yang beragam seperti remaja, tragedi kehidupan, cinta, dan agama. Film layar lebar yang ditayangkan di televisi tidak dianggap sebagai FTV (id.wikipedia.org/wiki/Film_televisi). Tayangan FTV ini dari pagi hingga tengah malam, tetapi saya paling sering menonton di jam-jam 06.30, 10.00, 12.30, dan 14.30 di dua stasiun TV yang getol sekali menayangkan FTV.

Hal yang cukup menarik dari FTV adalah kehidupan dari para tokohnya yang sangat menyenangkan dan berakhir bahagia. Seorang sopir yang berjodoh dengan majikannya, anak orang kaya yang membenci kehidupannya kemudian menjadi gelandangan dan mendapat jodoh yang diimpikan, seorang mahasiswa hampir DO yang bertemu dengan orang yang membantunya membuat skripsi kemudian orang tersebut menjadi jodohnya. Belum lagi, kisahnya yang mengharu biru, romantis, dan lancar jaya. Tapi coba kita tilik lebih jauh lagi, adakah kehidupan menyenangkan tersebut di dunia kita yang sebenarnya? Sudah pasti jawabannya ada. Maksud saya, iya ada tapi paling 1 banding 10 milyar.

Saya pikir, cerita di FTV ini terlalu mengada-ada. Tapi sialnya, saya jadi sering berandai-andai hidup saya seperti tokoh utama dalam FTV, orang biasa tetapi mendapatkan jodoh yang luar biasa. Like a bosss. Siapa yang nggak senang coba dengan keadaan seperti itu. Nah, saya yakin apa yang saya ‘andaikan’ juga ‘diandaikan’ oleh banyak orang. Muda foya-foya, jodoh orang kaya, mati masuk surga. Itulah mengapa saya meyakini bahwa FTV ini membentuk ekspektasi yang tinggi pada masyarakat. Banyak orang akan berharap hidup mereka seperti tokoh dalam FTV. Mereka berharap pasangan mereka adalah pasangan yang romantis seperti di FTV. Mereka berharap hidup mereka bahagia tanpa banyak usaha seperti dalam FTV. Mereka berharap sejuta cara pertolongan akan hadir ketika mereka membutuhkan. Kenyataannya, pasangan tidak romantis cenderung cuek dan menyebalkan, hidup tak kunjung bahagia, dan tak pernah ada pertolongan jika mereka membutuhkan. Kemudian, apa akibatnya? Mereka stres.

Uraian di atas hanya sekedar opini saya, mungkin lebih baik bila kita sinkronkan dengan penelitian yang ada. Sudah menjadi rahasia umum jika tayangan televisi secara umum dan FTV secara khusus memiliki kekuatan yang sangat besar melalui kemampuan komunikasi-visualnya telah mempengaruhi perilaku masyarakat (Istanto, 1999). Menurut Prof. Dr. R. Mar’at dalam Effendy (1992), acara televisi pada umumnya dapat mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan penonton. Tayangan televisi demikian membuai sehingga memimpikan manusia dan membiarkan manusia larut dalam gambar-gambar dalam tayangan televisi. Pemirsa televisi menaruh kesan secara langsung pada peristiwa dalam tayangan televisi serta ikut menghayatinya (Istanto, 1999). Tayangan televisi dengan mudahnya mengubah realitas sehari-hari ke dalam utopi-utopi. Sebagai tontonan tayangan televisi hanyalah realitas media, yang tentu saja bahkan sebagai “realitas” buatan yaitu fiksi, yang perlu dibedakan dari realitas media berupa informasi faktual. Tetapi karena dipanggungkan dalam kaidah dramatisasi, “realitas” ini menjadi lebih menonjol (Siregar, dalam Hadi, 2007).

Nah, berarti sudah menjadi hal yang wajar jika FTV akan membentuk ekspektasi yang tinggi pada masyarakat. Bahkan, tidak hanya ekspektasi yang tinggi tetapi juga mempengaruhi tingkah laku mereka. Mereka mengikuti apa yang dilakukan tokoh dalam FTV. Tetapi jangan hanya melihat dari sisi buruknya, tetapi juga sisi baiknya. Tidak mustahil pula FTV dapat menjadikan masyarakat semakin kreatif dan inovatif dalam melihat peluang usaha. Pun dapat memberikan pelajaran pada masyarakat bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini.

Jadi, bijak-bijaklah dalam memaknai FTV.

Sumber:

Hadi, I.P. (2007). Cultivation theory sebuah perspektif teoritik dalam analisis televisi. Jurnal Ilmiah Scriptura Vol. 1 No. 1, 1-13.

Istanto, F. H. (1999). Peran televisi dalam masyarakat citraan dewasa ini sejarah, perkembangan, dan pengaruhnya. Nirmana Vol. 1. No. 2, 95-108.


0 Responses to “FTV dan Ekspektasi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: