01
Oct
13

Ini cerita FTVku, mana cerita FTVmu?

Lelaki itu lelaki yang selalu aku kasihi sejak sepuluh tahun yang lalu. Lelaki dengan mata yang sama dengan mata lelaki yang pernah mendebarkan hatiku sepuluh tahun lalu. Lelaki tak tampan dan sederhana tetapi istimewa dan memesona. Lelaki yang pernah mengantarkanku pada indahnya cinta pertama juga lelaki yang mengenalkanku pada patah hati yang pertama. Dialah lelaki yang pertama dan tak pernah jadi yang terakhir dalam hidupku.

Lelaki yang sama dengan lelaki yang pernah aku khawatirkan ketika ia tertunda menggapai citanya. Lelaki yang sama dengan lelaki yang dulu (hingga sekarang) selalu aku cari ketika aku berada di tempat biasa bersua. Lelaki yang sama dengan lelaki yang dulu (hingga sekarang) selalu aku khayalkan mendampingiku ketika mengucap janji setia di depan altar. Lelaki yang sama dengan lelaki yang dulu (hingga sekarang) selalu aku banggakan pada teman-temanku.

Aku menoleh ke ayahnya. Ayah yang sama dengan ayah yang dulu pernah memperjuangkan cita-cita putra kebanggaannya yang sempat tertunda. Ayah yang sama dengan ayah yang dulu tak pernah lelah mengusahakan kesembuhan atas penyakit yang diderita putra kebanggaannya. Ah, sudah sepuluh tahun sejak saat itu, ayahnya sudah nampak tua dan lelah. Berbanding terbalik denganku, yang masih muda dan cemerlang untuk selalu mengingat putra kebanggaannya.

Aku menoleh ke arah ibunya. Ibu yang (sejal sepuluh tahun lalu) tak pernah lupa memancarkan sinar ketulusan untuk putra-putri kesayangannya. Aku ingat betul, ibu ini juga yang pernah “bersaing” dengan ibuku untuk menyemangati anaknya-anaknya dalam perlombaan yang sama dengan perlombaan yang pernah adikku ikuti. Ibu yang tak pernah lupa memberikan senyuman dan mengucapkan terima kasih ketika aku membantunya mengeluarkan motor dari parkiran gereja. Ibu yang mengajarkanku akan pengabdian pada keluarga. Ibu yang pernah aku harapkan menjadi ibu mertua.

Aku goyah, kueratkan genggamanku pada lelaki di sampingku. Maaf sayang, aku benar-benar tak mampu memungkirinya. Aku masih terus mengasihinya. Ada perih yang aku tahu jelas dari mana asalnya. Sayang, aku ingin pingsan rasanya. Sayang, lelaki itu sungguh lelaki itu ada di hadapanku dan tanpa merasa berdosa ia mengucapkan terima kasih atas kesediaanku hadir dalam pesta pertautan hatinya dengan wanita pilihannya. Sayang, ayo kita pergi saja sebelum aku membuatmu malu di pesta pernikahan sahabatmu yang katamu sudah lama tak kau temui itu. Sahabat yang tak pernah kau kenalkan padaku.

Sial aku baru ingat ini hari ulang tahunnya. Hari dimana aku tak pernah lupa menguntai doa untuk kebahagiannya. Dan kini setelah sepuluh tahun dia menemukan kebahagiaannya. Sementara aku, sepuluh tahun mengharapkannya kini sirna semua asa. Aku harap dia bahagia.

Ini cerita FTVku, mana cerita FTVmu?


0 Responses to “Ini cerita FTVku, mana cerita FTVmu?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: