01
Oct
13

Dua Puluh Dua

Kamar, tengah malam

Temaram dan menentramkan sekali berada di tempat ini. Tempat paling nyaman sedunia setelah rahim ibuku sendiri. Tempatku biasa berkontemplasi. Tempatku biasa melepas topeng keangkuhan dan sejenak menjadi diri sendiri. Tempatku biasa menangisi kerapuhan dan kelemahan yang jarang mereka sadari. Tempatku biasa sembunyi dari betapa jahanamnya dunia ini. Tempatku biasa bertemu Gusti.

Di tempat ini, di tengah malam ini aku kembali berbicara pada diri. Sudah dua puluh dua tahun rupanya aku di sini. Sudah dua puluh dua tahun rupanya aku belajar mengenal dunia ini. Aku berefleksi. Aku sudah biasa tidak ditemani ketika momentum seperti ini. Itulah mengapa aku selalu menurunkan ekspektasi ketika menyongsong hari lahir seperti ini. Meski aku tak menafikkan diri, ketika usiaku 17 betapa ‘mereka’ terlihat sangat mengasihi.

Aku ingat, kemarin ibuku bertanya, “ ulang tahunmu mau dirayakan nggak?”

Dengan tegas aku menolak, padahal biasanya aku tak pernah menolaknya. Perayaan dengan keluarga adalah satu-satunya caraku mengingat bahwa aku punya mereka, tempat terindah untukku berpulang ketika dunia kejam menolakku. Tapi kali ini aku malu, sungguh teramat malu. Orangtuaku tak pernah letih mengusahakan kebahagiaanku, tapi apa balasanku? Sampai saat ini aku belum mampu membanggakan mereka. Aku tenggelam dalam duniaku depresiku sendiri, lupa akan tanggung jawabku memberi kebanggaan pada mereka.

Di usiaku yang – seharusnya- sudah cukup dewasa ini, aku sudah tak ingin lagi ada perayaan – perayaan tak bermakna. Yang aku inginkan hanya kado berupa doa. Doa paling mujarab dari orang tua, biar aku bahagia. Biar aku tak durhaka. Biar aku mampu membuat mereka bangga. Biar aku mampu membuat Tuhan dan mereka bahagia. Biar mereka mampu menyombong pada dunia, bahwa aku adalah putri terbaik yang mereka punya. Ya itu saja.

Duh Gusti, aku takut mejadi durhaka karena aku belum bisa membanggakan mereka. Duh Gusti, hanya kepada-Mu ku panjatkan doa. Biar aku semakin dewasa dan mampu membahagiakan dan membanggakan-Mu dan mereka. Duh  Gusti, aku mohon jagai mereka. Merekalah satu-satunya keindahan hamba.

Duh Gusti, dua puluh dua tahun hidup ini untuk-Mu dan selamanya akan selalu untuk-Mu..

 


0 Responses to “Dua Puluh Dua”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: