01
Oct
13

Catatan Seorang Wanita

“Sudah waktunya,” katamu senja itu. Senja yang sama dengan senja ketika kau ucapkan keinginanmu untuk menjadikanku teman hidupmu. Senja itu pula yang mengantarkan kita pada sebuah janji untuk tak jalan sendiri-sendiri lagi. Senja yang menyaksikanku menggeliat gelisah saat kucoba tuk pertentangkan semua batas kenormalan cinta. Menerimamu meski kita sama. Menerimamu meski terbentang begitu besar resiko yang ada.

Dan kini, di senja yang sama lima tahun kemudian. Kita duduk berdua, tapi berjauhan. Tak ada kopi spesial cinta yang biasa aku sajikan. Tak ada kehangatan dalam setiap canda seperti yang biasanya kau tawarkan. Yang ada hanya bayang-bayang perpisahan.

“Sudah waktunya kita berpisah,” sudah hampir sepuluh kali kau mengatakannya kepadaku. Getir dalam suaramu aku pastikan menusuk ulu hatiku. 

“Sudah waktunya kita berpisah, aku harus menikah dengan pria pilihan mamaku. Kau tahu aku tak pernah menginginkan itu. Kau tahu aku hanya ingin membersamaimu setiap waktu. Tapi orang tuaku tak pernah mau menerimamu, tepatnya mereka tak pernah mau menerima keadaanku. Aku tak tahu, pertikaian seperti apalagi yang harus kupertontonkan di depan keluargaku. Aku sudah terlalu sering menyakiti orang tuaku. Aku tak tahu……..tapi aku sungguh mengasihimu,” tercekat kau coba menjelaskan keputusanmu padaku.

Aku hanya mampu terisak, semua harapan akan kehidupan yang nyaman bersamamu luruh bersama air mataku. Bukankah dari awal sudah kubilang, ini terlarang. Bukankah dari awal sudah kubilang permasalahan apa yang akan menjelang. Tapi kau terus meyakinkanku bahwa kita akan terus sama-sama berjuang. Aku kira aku yang akan kalah, nyatanya……..

“Sudah cukup,” terbata-bata aku menghentikanmu bicara. 

“Kau tahu aku tak pernah suka pada orang yang banyak bicara. Apapun keputusanmu aku terima. Aku tahu ini perkara budaya, aku tahu kita terlalu naif berharap semua orang menerima kita. Bagi mereka kita hanya sampah perusak kehormatan keluarga. Anggap saja selama ini kita hanya bersahabat saja. ‘Persahabatan’ dua wanita yang menentang norma. Ya, P E R S A H A B A T A N, semoga kau bahagia, ” ulangku dengan emosi yang sama.

Tidak terima pun aku harus terima, percintaan dua wanita yang tak akan pernah mampu diterima logika dan agama. Lima tahun berjuang bukan waktu sebentar untuk merajut asmara dan cita. Tapi sekali lagi aku terima, aku toh sudah mempersiapkannya sejak pertama berkata ‘ya’ meski aku tak pernah menyangka akan sesakit ini rasanya.

Kepada senja yang sama aku terima meski kecewa. Kepada senja yang sama aku berjanji tak kan pernah lagi percaya pada janji serupa. 

Kepada senja yang sama aku akan tetap mengasihinya…..

 

image

 

Catatan seorang wanita pencinta wanita, 

Senja yang sama, 25 Agustus 2013.

Picture by: Mumowcamefromhell


0 Responses to “Catatan Seorang Wanita”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: