01
Oct
13

Catatan Seorang Wanita – II

Hai, apa kabar? Bahagiakah kamu di sana?

Aku terduduk, bergumam di depan pusaramu. Aku tak pernah menyangka kamu akan pergi secepat ini. Sejak kamu menyatakan akan menikah waktu itu, aku limbung. Aku menepi dari hingar bingar hidup yang sebelumnya kuretas denganmu. Aku pergi menjauh dari negara ini. Aku mulai hidupku yang (tak sepenuhnya) baru. Ya, tak sepenuhnya baru karena kamu tak kunjung pergi jua dari pikiranku.

Hai, maafkan aku (mantan) kekasihku.

Mantan yang tak pernah jua benar-benar jadi mantan karena aku tak pernah berhenti mengasihimu dan terus merindukanmu.

Aku sengaja tak pamit waktu itu. Aku sengaja tak pernah mengangkat telponmu, terutama ketika hari kamu menikah dengan calon suamimu, si perusak indahnya cerita kamu dan aku itu. Aku sengaja tak pernah membaca emailmu, tapi tenang aku tak pernah menghapusnya. Aku berjanji akan membacanya suatu hari nanti. Bila perlu akan kuajak suamiku mendampingiku ketika membacanya, itu juga seandainya aku punya suami sih.

Hai, seandainya aku bisa memutar waktu.

Kamu tahu, entah mengapa aku tergerak untuk membaca emailmu. Rasa rindu itu benar-benar menyiksaku, lebih menyiksa jika dibandingkan perpisahan yang tak pernah aku amini. Email pertama kamu hanya menanyakan kabarku sambil kamu tanyakan alasanku tak pernah mengangkat telponmu. Email kedua kamu mulai ceritakan kehidupanmu yang mulai menyenangkan bersama si perusak hubungan kita itu. Email ketiga kamu bilang rindu padaku dan ingin bertemu. Email keempat hidupmu mulai tak seindah dulu. Email kelima kamu bilang membutuhkanku untuk disampingmu. Email kelima kamu bilang ingin membunuh suamimu. Email kelima kamu bilang lebih baik kamu mati saja. Email keenam inilah yang sampai sekarang terus menghantuiku:

“ Sayang, aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku sungguh mengasihimu. Menikah ternyata tak hanya menyakitiku dan menyakitimu. Menikah dengannya adalah keputusan terbodohku. Jika aku pernah mengatakan bahwa hidupku sangat indah bersamanya, itu hanya palsu belaka. Saat itu aku hanya mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa mendapatkan kebahagiaan lain selain darimu. Ternyata aku salah, kamulah kebahagiaanku. Kamulah keindahanku. Kamulah keabadianku. Kamulah satu-satunya edelweiss dalam hidupku.

Seperti tanah kerontang di musim kemarau yang tak pernah lelah mendamba hujan, demikian hatiku gersang tanpa hujan kasih darimu. Sayang, aku sungguh rindu padamu. Tapi sayang, aku lelah. Mungkin kembali kepada-Nya akan mengembalikan kebahagiaanku. Sayang, aku akan terus merindukanmu, meski kita berada di dunia yang berbeda. Sayang,  aku pergi….

Ketakutanku akan email terakhir darimu itulah yang mengantarku ke tempat ini. Dan ketakutanku beralasan, tanggal dalam email itu hanya beda sehari dengan tanggal kematian pada nisan di depanku. Nisan yang bertuliskan namamu. Wanita yang tak pernah henti aku kasihi.

Hai, aku berjanji takkan pernah mencari pasangan lagi.

Hai, kaulah satu-satunya pasangan hidupku.

Sayang, salamkan ke Tuhan ya sayang, tolong jodohkan kita di surga, itu juga jika Tuhan tak marah pada kisah kasih kita yang menyalahi kodrat-Nya.

 


0 Responses to “Catatan Seorang Wanita – II”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: