Archive for October, 2013

23
Oct
13

Ini cerita FTVku mana cerita FTVmu part II

Aku hanya mampu terduduk dan menunduk menyesali apa yang telah terjadi, kurasakan air mataku terjatuh. Pertahananku sebagai laki-laki yang kau anggap istimewa telah luruh. Aku tak sanggup melihatmu terjatuh. Aku menangisimu mantan kekasihku, perempuan terhebat yang pernah aku kenal selain ibuku. Kamu perempuan yang selalu ceria, tak pernah mengeluh, mandiri, tenang, dan bersahaja. Perempuan yang aku kenal sejak sepuluh tahun lalu. Perempuan yang aku tahu sangat mengasihiku. Aku ingat pertama kali kita bertemu di tempat ibadah itu, kamu tersenyum melihatku, ada binar mata aneh yang membuatku tertarik padamu. Ada kekaguman terlihat jelas dari tatap matamu.

Tiga tahun aku dan kamu menjalani hari bersama-sama. Aku tak pernah lupa kali pertama kamu menggodaku, dan sialnya aku tergoda dan tergila-gila padamu. Aku tak pernah lupa waktu dimana kamu meneleponku saat kamu tahu aku tertunda menggapai mimpiku, perasaan khawatir yang terdengar dari nada bicaramu justru meyakinkanku bahwa aku tetap dapat menjalani hari-hariku bersamamu. Aku tak pernah lupa, caramu mencuri pandang padaku di tempat biasa kita bertemu. Aku tak pernah lupa cara teman-temanmu menyindirku, karena mereka jengah mendengarmu terus menerus membanggakanku. Aku tak pernah lupa caramu menenangkan ayahku, mengatakan bahwa semua baik-baik saja, dan aku mampu bangkit dari kegagalanku saat itu. Aku tak pernah lupa betapa semangatnya ibuku menceritakan persaingannya dengan ibumu untuk menyemangati adik-adik kita dalam sebuah perlombaan. Aku tak pernah lupa senyum ceria ibuku saat menceritakan bagaimana kamu menolongnya di parkiran gereja, semua hal itu meyakinkanku akan penerimaan orang tuaku atasmu. Namun entah mengapa semua berakhir begitu saja. Tak ada alasan pasti, hanya karena perbedaan tempat belajar, kita memutuskan untuk berpisah. Malang tak dapat ditolak, kau dan aku harus meneruskan hidup masing –masing.

Selama kurun waktu 6 bulan, kita masih berkomunikasi. Kita masih saling bersalam melalui sahabat kita. Meski terkadang ada perasaan cemburu ketika kamu menceritakan kedekatanmu dengan kakak kelasmu, tapi aku tahu itu semua sudah bukan urusanku. Namun, perlahan tapi pasti kita benar – benar berpisah. Aku menemukan perempuan lain yang sulit kubandingkan denganmu. Aku merasakan kenyamanan yang lain dengannya, sosok yang tak pernah lupa mengajarkanku akan kesetiaan. Ah iya, aku jatuh cinta pada sosok itu. Perlahan tapi pasti, pikiranku tentangmu tergantikan dengan sosok itu. Aku pun menjalin cinta dengannya.

Tujuh tahun berlalu, aku meyakinkan diriku untuk mempersuntingnya. Aku ingin meminta doa restu darimu. Kini kamu sudah ada di depanku, menangisi keputusanku. Aku pun terlarut dengan itu. Tak jarang pertanyaan ‘apakah kamu masih mengasihiku’ terlintas dalam benakku, dan kini aku tahu jawabannya. Kamu sungguh masih mengasihiku, meski aku tahu kamu telah menjalin cinta dengan lelaki lain tapi kamu masih menyimpan asa untukku. Tapi tak lantas aku merasa bersalah dengan itu. Bukankah ini keputusanmu untuk tetap mengasihiku, mengapa tak kau coba untuk menghilangkan perasaan itu? Mengapa tak mudah bagimu untuk melupakanku? Aku tetap pada pendirianku, kusodorkan undangan pernikahanku padamu. Aku pergi dengan salam perpisahan yang tercekat.

Hari ini hari pernikahanku dengannya. Kau datang bersama sahabatku yang tak lain adalah kekasih ‘gadunganmu’. Aku tersenyum melihat kau gelisah. Aku tahu, genggamanmu pada lelaki di sampingmu adalah upayamu menegakkan diri dari semua ini. Aku tahu ucapan terima kasihku untuk kedatanganmu benar-benar menyakitimu.  Tetapi maaf sebaik-baiknya aku tahu apa yang kau rasakan saat itu, aku tegaskan bahwa kisahku denganmu telah usai, wanita di sampingkulah yang telah kupilih untuk mendampingiku selamanya. Tapi aku tak pernah menyesal mengenalmu, perempuan hebat kebanggaanku.

Advertisements
19
Oct
13

Cybercounseling

LATAR BELAKANG

Internet sebagai salah satu produk TI telah mencapai atau menjangkau orang-orang dari berbagai macam dasar dan aturan di seluruh dunia yang masih tidak mungkin disatukan. Setiap negara memiliki aturan yang berbeda tentang praktek konsultasi di internet. Walaupun begitu, pada dasarnya untuk konselor perlu diketahui dan mengerti aturan resmi badan atau lembaga yang terkait di daerah setempat akan berpraktek. Pelayanan melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi sangat mudah untuk diakses, ditambah dengan tidak membutuhkan biaya transportasi yang sangatlah merepotkan. Dengan adanya teknologi, pelayanan bimbingan dan konseling jadi bersifat anonim.

Cybercounseling sendiri merupakan suatu proses konseling yang dilakukan di dunia maya (internet). Dimana klien dan konselor tidak dapat saling bertatap muka. Hal ini menyebabkan adanya indikasi kurangnya penggunaan etika dalam konseling di dunia maya. Tidak menutup kemungkinan konselor mengabaikan kode etik psikologi dalam cybercounseling ini. Maka dari itu kita perlu melakukan beberapa upaya untuk pencegahan penyalahgunaan kode etik psikolog, dimana hal ini berkaitan langsung dengan akuntabilitas seorang psikolog/ konselor.

 

RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang dimaksud akuntabilitas dan kode etik psikolog?

2. Apakah yang dimaksud dengan cybercounseling?

3. Bagaimanakah etika dalam cybercounseling?

4. Bagaimanakah upaya preventif untuk mengurangi kesalahan dalam

cybercounseling?

 

TUJUAN

  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud akuntabilitas dan kode etik psikolog.
  2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud cybercounseling.
  3. Untuk mengetahui etika dalam cybercounseling.
  4. Mencegah dan mengurangi praktik-praktik illegal dalam cybercounseling

 

PEMBAHASAN

Akuntabilitas dan Kode Etik Psikolog

Akuntabilitas memiliki arti bahwa klinisi menelaah pekerjaan profesionalnya dengan seksama dan kritis, sehingga mereka dapat menjelaskan atau bertanggung jawab atas proses dan hasil aktivitasnya. Klinisi bertanggung jawab atas pekerjaannya. Mengembangkan sense of accountability (rasa tanggung jawab) merupakan bagian dari apa yang dimaksud professional.

Klinisi wajib bertanggung jawab terhadap klien-klien dalam program (konsumen), organisasi di mana program itu melekat, badan pendanaan luar, pembayaran pajak atau contributor pribadinya, profesinya, dan khazanah pengetahuan yang relevan secara umum. Bersikap akuntabel bukan hanya berarti bahwa kita meneliti kepraktisan, biaya dan manfaat sebuah kegiatan atau program terapi, tetapi juga bahwa kita selalu mengikuti pengetahuan yang dijadikan dasar pekerjaan klinis, yang berkembang secara konstan. Klinisi bukan hanya peduli dengan perbaikan praktis berbagai program tetapi juga dengan klarifikasi berbagai macam teori dan konsep (Sundberg et.al, 2007).

Menurut pasal 2 dalam kode etik psikolog mengenai tanggung jawab, dijelaskan bahwa dalam melaksanakan kegiatannya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog mengutamakan kompetensi, obyektivitas, kejujuran, menjunjung tinggi integritas dan norma-norma keahlian serta menyadari konsekuensi tindakannya. Pada pasal 8 mengenai sikap profesional dan perlakuan terhadap pemakai jasa atau klien, dijelaskan bahwa dalam memberikan jasa/praktik psikologi kepada pemakai jasa atau klien, baik yang bersifat perorangan, kelompok, lembaga atau organisasi/institusi sesuai  dengan  keahlian  dan  kewenangannya,  Ilmuwan  Psikologi  dan Psikolog berkewajiban untuk: a) Mengutamakan dasar-dasar professional, b) Memberikan  jasa/praktik  kepada  semua  pihak  yang membutuhkannya, c) Melindungi  klien  atau  pemakai  jasa dari  akibat  yang merugikan sebagai dampak jasa/praktik yang diterimanya. Sedangkan pada pasal 12 mengenai  kerahasiaan data dan hasil pemeriksaan, Ilmuwan  Psikologi  dan  Psikolog  wajib  memegang  teguh  rahasia  yang menyangkut  klien  atau  pemakai  jasa  psikologi  dalam  hubungan  dengan pelaksanaan kegiatannya

Cybercounseling

Cybercounseling sendiri merupakan suatu proses konseling yang dilakukan di dunia maya (internet). Cybercounseling adalah sebuah sarana praktek konseling secara professional yang dilakukan antara konselor dan klien dari tempat yang terpisah dengan memanfaatkan media elektronik dalam berkomunikasi, yaitu melalui internet yang mencakup halaman website, email, chat room, maupun video conference atau media percakapan secara realtime.

Cybercounseling atau konseling melalui internet merupakan salah satu pengembangan proses konseling dengan metode yang relatif baru seiring dengan kondisi berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Metode cybercounseling yang relatif baru ini membuat banyak konselor yang masih awam dengan konseling secara online kurang mengerti dan memahami bagaimana penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media yang digunakan untuk pemberian pelayanan konseling terhadap klien.

Di samping ketidakmengertian secara professional, terdapat kecurangan atau  yang mungkin dapat terjadi dalam proses konseling melalui internet atau yang biasa disebut sebagai cybercrime. Berbagai kondisi tersebut menjadikan layanan psikologis melalui media internet akan menimbulkan resiko yang lebih besar dalam pelanggaran secara etika dan hukum. Beberapa hal yang menjadi isu atau permasalahan pokok dari cybercounseling antara lain :

  1. Kesadaran konselor yang kurang akan prinsip-prinsip umum etika mengenai cybercounseling karena pelatihan dan pendidikan yang ditempuh oleh konselor sebelumnya masih dalam setting tradisional di mana proses konseling terjadi ketika konselor dan klien bertatap muka secara langsung. Hal tersebut membuat konselor kurang memiliki pemahaman yang cukup untuk menghadapi permasalahan etika terkait dengan layanan konseling secara online.
  2. Pengembangan etika dan regulasi untuk konseling melalui media internet sulit dilakukan karena perubahan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sangat pesat.
  3. Pada proses cybercounseling, kerahasiaan mengenai informasi klien maupun proses konseling yang rentan terjaga keamanannya. Kondisi keamanan data yang rentan disebabkan karena rekaman data elektronik lebih mudah dibuka oleh pihak-pihak yang tidak berwenang daripada rekaman data dalam bentuk kertas atau suara.   
  4. Permasalahan yang juga menjadi isu seputar cybercounseling adalah mengenai tanggung jawab konselor terhadap persoalan-persoalan yang terkait dengan klien selama proses konseling berlangsung, seperti berbagai keadaan darurat atau kemungkinan melukai diri sendiri / orang lain maupun melakukan bunuh diri.

Etika dalam cybercounseling

Pemberian layanan kesehatan mental maupun perilaku secara online melalui internet menuai banyak pertanyaan mengenai proses terapeutik dan pentingnya dasar-dasar etika, hukum (legalitas), pelatihan, dan isu-isu seputar teknologi informasi dan komunikasi sebelum konselor berhadapan dengan calon klien dengan media internet.

Secara umum, etika dalam pelaksanaan cybercounseling adalah sebagai berikut 1. Hubungan dalam konseling melalui internet

Dalam hal ini konselor yang memberikan layanannya melalui internet memiliki kewajiban untuk menginformasikan berbagai keadaan, ketentuan, dan persyaratan konseling yang harus diketahui, dipahami, dan diterima oleh calon klien berkaitan dengan pelayanan melalui internet yang diberikan oleh konselor tersebut.

2. Kerahasiaan dalam konseling melalui internet

Kerahasiaan dan keterbatasan konseling melalui internet merupakan isu yang sangat penting untuk dipahami individu yang berhati-hati terhadap berbagai tindakan bantuan. Pada umumnya, orang-orang yang berprofesi sebagai seorang konselor akan dengan teguh menjaga dan memelihara kerahasiaan. Bagi konselor, hal tersebut secara khusus diatur dalam kode etik professional yang diembannya. Karena itulah, sangat penting bagi konselor untuk menginformasikan mengenai aspek kerahasiaan bagi klien, termasuk juga mengenai kerahasiaan dalam layanan konseling melalui internet.

3. Aspek hukum, lisensi, dan sertifikasi

Tidak terdapatnya batasan geografi memberi kesempatan klien dan konselor yang berasal dari berbagai wilayah, bahkan negara terlibat dalam suatu proses terapeutik. Jika dilihat dari sisi hukum, tentu saja hal ini akan mendatangkan permasalahan-permasalahan yang terkait dengan wilayah praktek dan lisensi konselor. Sehingga dalam hal ini dibutuhkan etika layanan konseling melalui internet yang diatur berdasarkan aspek hukum. Lisensi dan sertifikasi bagi konselor juga dibutuhkan sebagai syarat untuk memberikan layanan konseling secara online melalui media internet .

 

Upaya Preventif Mengurangi Kesalahan dalam Cybercounseling

Perilaku preventif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan seseorang atau kelompok yang bertujuan mencegah timbulnya atau menularnya suatu penyakit atau masalah. Prevensi dimaksudkan untuk mengeliminasi kebutuhan akan pelayanan klinis (meskipun tujuan itu merupakan tujuan yang sangat jauh) dan bukan sekedar menangani masalah setelah masalah itu berkembang. Memang secara khusus prevensi ini untuk masalah-masalah klinis, tapi dalam kaitannya dengan cybercounseling ini makna upaya prevensi dijabarkan secara lebih luas, bukan hanya mengacu pada permasalahan klinis.

Upaya preventif (klinis) diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Prevensi primer mengurangi insiden gangguan mental dengan segala jenisnya. Prevensi sekunder, melalui deteksi dini dan penemuan kasus, mengurangi durasi atau meringankan gangguan yang telah terjadi. Prevensi tersier, kadang- kadang disebut rehabilitasi, mengurangi hendaya dari gangguan-gangguaan yang sudah berkembang dan mencegah kekambuhan (Sunberg et.al, 2007). Upaya prevensi yang kami buat ini dapat dikategorikan sebagai prevensi primer, dimana prevensi ini bertujuan untuk mengurangi permasalahan (kesalahan) dalam cybercounseling.

Sebelumnya, telah disebutkan di atas permasalahan-permasalahan yang ada akibat adanya cybercounseling. Selanjutnya,  untuk mengurangi permasalahan-permasalahan yang ada tersebut seorang konselor harus :

  1. Mengacu pada hukum dan kode etik konsultasi online.

Seperti yang telah disebutkan di atas tentang etika dalam cybercounseling, seorang konselor ketika memberikan konselingnya

harus tetap mengacu pada hukum dan etika yang berlaku.

  1. Memberitahukan klien tentang metode yang dipakai untuk membantu keamanan komunikasi klien, konselor dan pengawas.
  2. Menginformasikan klien, bagaimana dan berapa lama data hasil konsultasi akan disimpan.
  3. Dalam situasi yang sulit dianjurkan untuk memperjelas identitas konselor atau klien. Hindari atau hati-hati dengan kemungkinan penipuan, misalnya dengan menggunakan kode kata-kata, huruf dan grafik.
  4. Jika diperlukan izin dari pusat atau pengawas dalam penyediaan jasa web konseling untuk anak kecil, periksa identitas pemberi izin tersebut.
  5. Ikuti prosedur yang sesuai dengan informasi yang diterbitkan untuk membagi informasi klien dengan sumber lain.
  6. Pertimbangkan dengan matang tingkat penyingkapan pada klien dan berikan penyingkapan yang rasional juga oleh konselor.
  7. Menyediakan link ke situs lembaga sertifikasi dan badan perjanjian yang sesuai untuk memfasiilitasi perlindungan klien.
  8. Menghubungi National Board for Certified Counselor atau badan perizinan milik pemerintah tempat klien tinggal untuk mendapatkan nama atau setidaknya satu konselor dapat yang dapat dihubungi di daerah tempat tinggal klien.
  9. Mendiskusikan dengan prosedur kontrak antara klien dan konselor ketika sedang offline.
  10. Menjelaskan kepada klien kemungkinan bagaimana untuk menanggulangi kesalahpahaman yang mungkin muncul karena kurangnya petunjuk visual antara klien dan konselor.
  11. Anjurkan klien untuk menemui konselor yang sebenarnya apabila klien masih memiliki keluhan.

Dari semua upaya untuk mengurangi kesalahan yang terjadi dalam cybercounseling ini, dua hal yang paling penting adalah meskipun konseling melalui dunia maya seorang konselor harus mengacu pada hukum dan etika yang berlaku serta tetap melibatkan klien dalam setiap keputusan yang akan diambil konselor.

 

KESIMPULAN

Cybercounseling merupakan suatu proses konseling yang dilakukan di dunia maya (internet). Cybercounseling adalah sebuah sarana praktik konseling secara professional yang dilakukan antara konselor dan klien dari tempat yang terpisah dengan memanfaatkan media elektronik dalam berkomunikasi, yaitu melalui internet yang mencakup halaman website, email, chat room, maupun video conference atau media percakapan secara realtime. Dalam pelaksanaannya cybercounseling ini mengalami banyak permasalahan, terutama yang menyangkut akuntabilitas dan etika yang seharusnya dimiliki oleh seorang konselor. Masalah itu antara lain: kerahasiaan klien yang tidak terjamin dengan baik, kemampuan konselor yang mungkn diragukan, tanggung jawab konselor dalam menangani masalah tersebut, dan sebagainya.

Maka dari itu diperlukan upaya preventif untuk mencegah adanya permasalahan – permasalah dalam cybercounseling tersebut. Upaya preventif adalah perbuatan seseorang atau kelompok yang bertujuan mencegah timbulnya atau menularnya suatu penyakit atau masalah. Upaya – upaya yang dapat dilakukan harus mengacu pada etika konseling dan sebisa mungkin tetap mengikutsertakan klien dalam konselingnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Khaeriyah. (2011, April 2011). Isu Etik dan Legal Teknologi Informasi. Retrieved Juni 26, 2011, from http://azumicute.blogspot.com/2011/04/isu-etik-dan-legal-teknologi-informasi.html

 NN. (n.d.). Kode Etik Psikologi. Retrieved Juni 26, 2011, from http://pasca.uma.ac.id/adminpasca/upload/Elib/MPSi/kode-etik-psikologi.pdf

NN. (n.d.). Pengembangan Blog Layanan Informasi dan Konsultasi Bimbingan dan Konseling. Retrieved Juni 2006, 2011, from http://repository.upi.edu/operator/upload/s_a0251_0607201_chapter2.pdf

Sundberg, N. D., Winebarger, A. A., & Taplin, J. R. (2007). Psikologi Klinis Edisi Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

19
Oct
13

Analisis Kepemimpinan Fidel Castro

PENDAHULUAN

Ada banyak istilah mengenai kepemimpinan. Dalam referensi-referensi yang bersumber dari Barat, kita mengenal adanya istilah leadership. Ada juga istilah manager sebagai seorang pemimpin (biasanya dalam dunia bisnis). Di Indonesia kita menyebut itu semua sebagai kepemimpinan. Leadership adalah proses mempengaruhi sebuah kelompok untuk dapat mencapai suatu tujuan. Leadership sendiri lebih menekankan pada bagaimana seorang leader dapat membuat orang lain terpengaruh dan melakukan sesuatu sesuai yang diharapkannya. Dalam mencapai usaha tersebut ada beberapa gaya kepemimpinan yang dapat digunakan. Menurut gaya kepemimpinan klasik terdapat Autocratic Style, Human Relation Style, Laissez faire style, dan democratic style. Menurut Fiedler dibagi menjadi task-motivated style dan relationship-motivated style, dan masih banyak gaya kepemimpinan lainnya (Schermerhorn, 2010). Tipe – tipe kepemimpinan inilah yang kemudian diadopsi oleh banyak tokoh dunia dalam memimpin negara atau organisasi mereka. Namun, tidak semua tokoh dunia memiliki gaya kepemimpinan yang baik. Salah satu contohnya adalah Fidel Castro, mantan presiden Kuba.

 

BIOGRAFI FIDEL CASTRO

Fidel Alejandro Castro Ruz (lahir 13 Agustus 1926) adalah Presiden Kuba sejak 1976 hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana Menteri atas penunjukannya pada Februari 1959 setelah tampil sebagai komandan revolusi yang gagal Presiden Dewan Negara merangkap jabatan sebagai Dewan Menteri Fulgencio Batista pada tahun 1976. Castro tampil sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (Communist Party of Cuba) pada tahun 1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik sosialis satu-partai. Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai komandan Militer Kuba. Pada 31 Juli 2006, Castro menyerahkan jabatan kepresidenannya kepada adiknya, Raúl untuk beberapa waktu. Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik Dominika Rafael Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena adanya ancaman akan dihabisi lawan politiknya. Setelah meraih doktor di bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953, ia memimpin serangan ke barak militer Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, ia langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner Che Guevara. Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba pada 2 Desember 1956 dan melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan Sierra Maestra. Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita dan impiannya mulai diwujudkan dengan bertemu Hugo Chávez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia. Menjelang hari ulang tahunnya ke-80 yang jatuh pada 13 Agustus 2006, ia menyerahkan tampuk kepemimpinannya untuk sementara waktu kepada adiknya. Praktis, Raúl merangkap jabatan, yakni sebagai Presiden Kuba dan Menteri Pertahanan Kuba. Penyerahan kekuasaan ini merupakan pertama kali sejak ia memerintah Kuba pada 1959. Dia mundur pada tahun 2008. Pada 19 Februari 2008, lima hari sebelum mandatnya berakhir, Castro menyatakan tidak akan mencalonkan diri maupun menerima masa bakti baru sebagai presiden atau komandan angkatan bersenjata Kuba.

 

KEPEMIMPINAN FIDEL CASTRO

Patria o Muerte! Tanah Air atau Mati! Pekik itu yang kerap dikumandangkan oleh Fidel Castro dalam setiap pidatonya yang panjang dan menggelora. Hidupnya seperti hendak ia berikan seluruhnya untuk tanah air yang begitu ia banggakan:Kuba. Jika ada pemimpin sebuah Negara yang berkali – kali mengalami percobaan pembunuhan dan lebih dari empat dekade menjadi musuh bagi negara lain, tentunya pemimpin itu adalah pemimpin yang menarik. Awal kiprah Fidel Castro di dunia politik bermula dari perlawanannya kepada rezim diktator Fulgencio Batista. Ia dan beberapa orang kawan seperjuangannya bergerilya dari pegunungan Sierra Maestra dan mendapatkan simpati dari rakyat Kuba. Itu bukan perjuangan yang mulus – mulus saja, membutuhkan beberapa tahun bagi Fidel Castro sampai ia benar- benar berhasil menggulingkan Fulgencio Batista (Usman, 2006).

Semasa memerintah Fidel Castro dikenal sebagai sesosok pemimpin yang diktator. Ia dikenal sebagai figur pemimpin yang tegas, keras, bahkan angkuh. Jules Archer (dalam Natamarga, 2005) mendefinisikan diktator sebagai seorang penguasa yang mencari dan mendapatkan kekuasaan mutlak pemerintahan tanpa (biasanya) memperhatikan keinginan – keinginan nyata rakyatnya. Kekuasaan mutlak itu dapat diperolehnya baik dengan jalan sah (misalnya lewat pemilihan umum) ataupun tidak sah (misalnya kudeta). Dalam hal ini Fidel Castro mendapatkan tampuk kekuasaannya melalui jalan yang tidak sah yaitu seperti yang disebutkan di atas bahwa ia “mengkudeta” pemimpin Kuba sebelumnya yaitu Fulgencio Batista. Popularitas adalah hal penting bagi seorang diktator. Menjadi sangat wajar bagi seorang diktator untuk meneriakkan perang pada negara lain atau mempengaruhi rakyat agar menentang kekuasaan dunia. Hal ini terlihat jelas sesaat setelah merebut kekuasaan, Castro mulai mendirikan sistem intelijen dan keamanan yang amat ketat. Sebagai menteri pertahanan, adik Castro mendirikan kembali pengadilan militer, organisasi keamanan seksi pertama disebut Keamanan Negara (DGCI), dijuluki Gestapo merah. Tugasnya adalah meresap dan menghancurkan kelompok anti Castro, membasmi dengan kejam gerakan gerilya Escambrat, mengendalikan kamp kerja paksa dan penjara, juga ada bagian khusus mengawasi seluruh pejabat pemerintah. Seksi ketiga bertanggung jawab atas pengawasan terhadap semua anasir kebudayaan, olahraga, kesenian, pengarang dan  bioskop. Seksi keenam bertanggung jawab atas penyadapan telepon, seluruh personelnya mencapai 1.000 orang, memiliki kekuasaan istimewa yang amat besar. Seksi ketiga DSMI departemen dalam negeri bertanggung jawab   mengawasi agama dan merembes kedalam organisasi keagamaan.

Kepemimpinan otoriter atau biasa di sebut kepemimpinan otokratis atau kepemimpinan diktator adalah suatu kepemimpinan dimana seorang pemimpin bertindak sebagai diktator, pemimpin adalah penguasa, semua kendali ada di tangan pemimpin. Seorang diktator jelas tidak menyukai adanya meeting, rapat apalagi musyawarah karena bagi seorang diktator tidak menghendaki adanya perbedaan dan pastinya suka dengan memaksakan kehendaknya.  Dengan kepemimpinan diktator semua kebijakan ada di tangan pemimpin, semua keputusan ada di tangan pemimpin, semua bentuk hukuman, larangan peraturan dapat juga berubah sesuai dengan suasana hati pemimpin. Kepemimpinan otoriter merupakan gaya kepemimpinan yang paling tua dikenal manusia. Oleh karena itu gaya kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang atau sekelompok kecil orang yang di antara mereka tetap ada seorang yang paling berkuasa. Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Orang-orang yang dipimpin yang jumlahnya lebih banyak, merupakan pihak yang dikuasai, yang disebut bawahan atau anak buah. Kedudukan bawahan semata-mata sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan kehendak pimpinan. Pemimpin memandang dirinya lebih, dalam segala hal dibandingkan dengan bawahannya. Kemampuan bawahan selalu dipandang rendah, sehingga dianggap tidak mampu berbuat sesuatu tanpa perintah. Perintah pemimpin sebagai atasan tidak boleh dibantah, karena dipandang sebagai satu-satunya yang paling benar. Pemimpin sebagai penguasa merupakan penentu nasib bawahannya. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, selain harus tunduk dan patuh di bawah kekuasaan sang pemimpin. Kekuasaan pimpinan digunakan untuk menekan bawahan, dengan mempergunakan sanksi atau hukuman sebagai alat utama. Pemimpin menilai kesuksesannya dari segi timbulnya rasa takut dan kepatuhan yang bersifat kaku.

Adapun ciri kepemimpinan otoriter adalah sebagai berikut :

  1. Pemimpin menentukan semua keputusan yang bertalian dengan seluruh pekerjaan, dan memerintahkan semua bawahan untuk melaksanakannya.
  2. Pemimpin menentukan semua standard bagaimana bawahan melakukan tugas.
  3. Pemimpin memberikan ancaman dan hukuman kepada bawahan yg tidak berhasil melaksanakan tugas-tugas yang telah ditentukan.
  4. Pemimpin kurang percaya terhadap bawahan dan sebaliknya bawahan tidak atau sedikit sekali terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Dalam hal ini, di Kuba kebijakan – kebijakan publik yang dibangun bersifat elitis dengan bertumpu pada sosok Fidel Castro. Fidel Castro lebih menekankan mobilisasi massa rakyat dan menghalangi setiap oposisi yang dijalankan oleh kelompok-kelompok yang berusaha menentang Castro. Dari sini dapat kita lihat bahwa banyak kebijakan publik lebih mencerminkan padangan – pandangan elit Castro dibandingkan dengan pandangan – pandangan rakyat (Winarno, 2008). Pada September 1960, Castro mendirikan Komite Pembela Revolusi, bertugas mengawasi aktivitas kaum anti revolusi, sehingga tercapailah pengendalian  yang amat ketat terhadap masyarakat. Pada tahun ini juga semua surat kabar oposisi ditutup dan semua stasiun radio dan televisi berada dalam kontrol negara. Castro jelas – jelas mengontrol dan membatasi semua aspek kehidupan negara. Pada 1975 telah lolos sebuah UU pencegahan kejahatan, maka barang siapa tidak sejalan dengan ideologi rezim Castro yang dianggap mungkin akan membahayakan pemerintah, maka bisa ditangkap sebagai tersangka. Sejak 1996 hingga akhir 1990, lebih dari 100 ribu orang pernah dipenjara, sebanyak 15 ribu – 17 ribu orang telah dihukum mati. Kuba seperti halnya Korea Utara, sama sekali tidak mempunyai kebebasan berideologi, berbicara, kebebasan pers, penerbitan buku serta berorganisasi. Pada 2008 dinilai sebagai negara paling tidak bebas berinternet di seluruh dunia (Guoding, 2010). Hal ini mengindikasikan adanya ketidakpercayaan Castro pada bawahan dan rakyatnya sehingga muncul peraturan tersebut.

Gaya kepemimpinan Fidel Castro inilah yang membuatnya dibenci sekaligus dicintai warganya. Meskipun ia sangat diktator tetapi tidak dapat dipungkiri ia mampu membangun Kuba menjadi lebih baik, misalnya dengan melakukan pendidikan gratis, kebijakan agraria dengan sistem pembagian tanah, peningkatan penghasilan pertanian, dan peningkatan kesehatan. Pun ternyata Castro juga merupakan seorang pemimpin yang bertanggung jawab dan berjiwa besar. Di masa pemerintahannya, ia pernah “menelantarkan” kaum homoseksual, tetapi baru – baru ini ia mengakui kesalahannya dan berupaya bersama pemerintah Kuba untuk terus mengupayakan keberadaan bahkan pernikahan di antara kaum homoseksual disahkan berdasarkan hukum Kuba.

 

DAFTAR PUSTAKA

Guoding, G. (2010, 07 24). Catatan Kejahatan Totaliter Tirani Komunis: Re. Retrieved 06 19, 2011, from http://www.epochtimes.co.id/internasional.php?id=870

Natamarga, R. (2005). Apa dan Siapa Diktator? Retrieved 06 19, 2011, from http://www.ruangbaca.com/resensi/?action=b3Blbg==&linkto=NTA=.&when=MjAwNTA5Mtg=

NN. (2009, 03). Biografi Fidel Castro. Retrieved 06 19, 2011, from http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/03/biografi-fidel-castro.html

Roy. (2009, 05 15). Kepemimpinan Otoriter Titik Pertama. Retrieved 06 19, 2011, from http://belajar-kepemimpinan.blogspot.com/2009/05/kepemimpinan-otoriter-titik-pertama.html

Schermerhorn, J. R. (2010). Introduction to Management. Asia: John Wiley & Sons Pte Ltd.

Sofa. (2008, 02 05). Teori Kepemimpinan. Retrieved 06 19, 2011, from http://massofa.wordpress.com/2008/02/05/teori-kepemimpinan/

Usman, I. H. (2006). Fidel Castro Melawan. Jakarta: Mediakita.

Winarno, B. (2008). Kebijakan Publik Teori dan Proses. Jakarta: MedPress.

 

15
Oct
13

#BahagiaItuTidakSederhana

Hashtag twitter #BahagiaItuSederhana cukup menggelitik saya. Saya benar-benar nggak setuju dengan pernyataan bahwa bahagia itu sederhana. Bagi saya, bahagia bukanlah hal yang sederhana bahagia itu luar biasa. Hanya mungkin cara mendapatkanya saja yang sederhana. Misalnya, kita bahagia melihat bunga di taman, jika ditelaah yang sederhana bukanlah kebahagiaannya tetapi cara mendapatkannya yaitu dengan melihat bunga di taman.

Mari kita lihat definisi ahli tentang bahagia. Kebahagiaan merupakan konsep yang luas, seperti emosi positif atau pengalaman yang menyenangkan, rendahnya mood yang negatif, dan memiliki kepuasan hidup yang tinggi (Diener, Lucas, Oishi, 2005 dalam ). Seseorang dikatakan memiliki kebahagiaan yang tinggi jika mereka merasa puas dengan kondisi hidup mereka, sering merasakan emosi positif dan jarang merasakan emosi negatif, selain itu kebahagiaan juga dapat timbul karena adanya keberhasilan individu dalam mencapai apa yang menjadi dambaannya, dan dapat mengolah kekuatan dan keutamaan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat merasakan sebuah keadaan yang menyenangkan (Diener dan Larsen, 1984, dalam Edington,2005). Selain itu kebahagiaan juga memiliki empat komponen utama, seperti kepuasan dalam hidup secara umum, kepuasan terhadap ranah spesifik kehidupan, adanya afek yang positif, seperti mood dan emosi yang menyenangkan, dan ketiadaan afek negatif, seperti mood dan emosi yang tidak menyenangkan (Eddington & Shuman, 2005). Keempat komponen utama ini, yaitu kepuasan hidup, kepuasan ranah kehidupan, afek positif, dan afek negatif, memiliki korelasi sedang satu sama lain, dan secara konseptual berkaitan satu sama lain. Namun, tiap-tiap komponen menyediakan informasi unik mengenai kualitas subyektif kehidupan seseorang (Diener, Scollon, & Lucas, 2003). Afek positif dan afek negatif termasuk kedalam komponen afektif, sementara kepuasan hidup dan domain kepuasan termasuk ke dalam komponen kognitif. Veenhoven mendefinisikan kebahagiaan sebagai keseluruhan evaluasi mengenai hidup termasuk semua kriteria yang berada di dalam pemikiran individu, seperti bagaimana rasanya hidup yang baik, sejauh mana hidup sudah mencapai ekspektasi, bagaimana hidup yang menyenangkan dapat dicapai, dan sebagainya (dalam Gelati, dkk, 2006). Selain itu, kebahagiaan juga dapat dikatakan sebagai pengalaman positif, kenikmatan yang tinggi, dan motivator utama dari segala tingkah laku manusia (Argyle dalam Bekhet, dkk, 2008). (Definisi ini dikutip dari http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2011-2-01059-PS%20Bab2001.pdf).

Gimana, setelah baca definisi tersebut masihkah kamu menganggap bahagia itu sederhana? Atau sebenarnya yang sederhana adalah cara mendapatkan kebahagiaan-nya? Sungguh bahagia itu tak pernah sesederhana itu kawan. Jika kamu masih ‘ngeyel’, dan menganggap bahwa itu teori itu terlalu rumit dan kuno, maka mari kita sederhanakan. Bayangkan saja kita baru saja mendapat kado dari pasangan dan kita bahagia. Jika kita menganggap bahwa bahagia itu sederhana coba tanyakan terlebih dahulu pada pasangan kita, bagaimana ia mendapatkan hadiah tersebut. Apakah ia panas-panasan menuju ke mall, apakah ia harus berdesak-desakkan untuk mendapat hadiah tersebut, atau berapa uang yang rela ia keluarkan untuk mendapati kamu bahagia yang sederhana. Dengan menganggap bahwa bahagia itu sederhana, berarti kamu tidak menghargai pengorbanan yang pasanganmu lakukan.

 

Maka sekali lagi saya katakan bahagia itu tidaklah sederhana kawan, bahagia itu luar biasa. Hanya mungkin cara memperoleh kebahagiaannya itu yang sederhana. Walaupun mungkin sebenarnya tidak sesederhana itu juga. Keep smile.

15
Oct
13

Menulis adalah Obat

Menulis adalah suatu aktivitas melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis memiliki suatu kekuatan tersendiri karena menulis adalah suatu bentuk eksplorasi dan ekspresi area pemikiran, emosi, dan spiritual yang dapat dijadikan sebagai suatu sarana untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan mengembangkan suatu pemikiran serta kesadaran akan suatu peristiwa (Bolton dalam Susilowati & Hasanat, 2011).

Gairah menulis saya akhir-akhir ini meningkat drastis. Saya tahu pasti alasannya, stres skripsi. Saya tidak pernah berharap tulisan saya dibaca orang, sungguh saya hanya ingin menulis untuk melepas penat. Saya bukan orang yang pandai bercerita secara lisan, jadi menulis adalah satu-satunya cara untuk saya mengeluarkan emosi saya. Pernah suatu waktu saya ‘muntab’ pada seorang teman, ajaibnya setelah saya coba menuliskan apa yang saya rasakan rasanya ada beban yang terangkat. Tulisan itu juga yang mengantar saya pada sebuah refleksi, sehingga saya mampu mampu mengambil hal positif dari kejadian yang saya alami waktu itu. Tulisan tersebut mengajak saya untuk menjelajah dunia maya, sehingga menemukan tulisan orang lain yang memiliki kejadian hampir sama dengan saya dan bagaimana mereka menghadapi hal tersebut. Menulis juga menuntut saya untuk terus membaca dan belajar dari karya orang lain, sehingga tulisan saya sedikit berisi. Walaupun saya tidak memiliki keinginan supaya tulisan saya dibaca orang, tetapi ketika menghasilkan tulisan yang berisi dan bermakna rasanya ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri dalam diri saya. Singkatnya bagi saya menulis adalah obat, menulis adalah terapi manjur tanpa dana.

Uraian di atas sejalan dengan penelitian Susilowati dan Hasanat (2011) yang menemukan bahwa menulis dapat memfasilitasi individu untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran tertentu berkaitan dengan kejadian yang dialami. Dengan menulis, individu dapat mengembangkan pemikiran untuk menerima situasi yang ada, memusatkan pemikiran pada hal-hal positif dari kejadian yang dialami. Selain itu, menulis juga mendorong individu untuk memperoleh suatu pemahaman, mengembangkan motivasi dalam diri sendiri, serta mendorong munculnya rasa optimis dengan mengembangkan harapan-harapan dan keyakinan. Temuan ini tidak jauh beda dengan temuan Mardyaningrum (2007) yang juga mengemukakan bahwa menulis dapat meningkatkan emosi positif dan mengurangi emosi negatif. Perubahan emosi pada individu akan mempengaruhi pola pikirnya. Ketika emosi positif sudah meningkat, maka individu dapat berpikir lebih jernih (pola pikir positif). Sehingga membuat hidup menjadi lebih baik dan sejahtera. Selain kedua penelitian tersebut, banyak penelitian yang juga menemukan bahwa menulis memberikan banyak manfaat.
Tidak perlu ragu lagi, menulis adalah obat, menulis adalah terapi manjur tanpa dana. Tulislah apa yang ingin kamu tulis. Tak perlu memikirkan EYD, tak perlu memikirkan baik atau buruk tulisan, tak perlu memikirkan penilaian orang lain mengenai tulisan kita. Menulis adalah dari kita, oleh kita, dan untuk kita sendiri. Selamat menulis.

 

Sumber:
Susilowati, T. G., & Hasanat, N. U. (2011). Pengaruh terapi menulis pengalaman emosional terhadap penurunan depresi pada mahasiswa tahun pertama. Jurnal Psikologi Vol. 38. No.1 , 92-107.
Mardyaningrum, M. B. S. (2007). Efektivitas Terapi Menulis terhadap Emosi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata. diakses melalui http://eprints.unika.ac.id/879/2/02.40.0013_Maria_Bernadette_Sri_M.pdf

15
Oct
13

FTV dan Ekspektasi

Pembahasan kali ini bukan pembahasan menye-menye seperti biasanya. Entah mengapa saya terusik dengan salah satu fenomena TV akhir-akhir ini. Film Televisi iya Film Televisi, anak gahol biasanya menyebutnya FTV. Hal ini terlintas di benak saya, mengingat saya stres sekali dengan sesuatu yang disebut skripsi. Rasanya sudah punah semangat saya untuk menyelesaikan masterpiece tersebut. Nah, gara-gara stress inilah saya sering bingung mau ngapain kalau di rumah. Alhasil, saya cuma bisa menonton TV, salah satunya ya menonton FTV ini.

Film Televisi (FTV) adalah jenis film yang diproduksi untuk televisi yang dibuat oleh stasiun televisi ataupun rumah produksi berdurasi 120 menit sampai 180 menit dengan tema yang beragam seperti remaja, tragedi kehidupan, cinta, dan agama. Film layar lebar yang ditayangkan di televisi tidak dianggap sebagai FTV (id.wikipedia.org/wiki/Film_televisi). Tayangan FTV ini dari pagi hingga tengah malam, tetapi saya paling sering menonton di jam-jam 06.30, 10.00, 12.30, dan 14.30 di dua stasiun TV yang getol sekali menayangkan FTV.

Hal yang cukup menarik dari FTV adalah kehidupan dari para tokohnya yang sangat menyenangkan dan berakhir bahagia. Seorang sopir yang berjodoh dengan majikannya, anak orang kaya yang membenci kehidupannya kemudian menjadi gelandangan dan mendapat jodoh yang diimpikan, seorang mahasiswa hampir DO yang bertemu dengan orang yang membantunya membuat skripsi kemudian orang tersebut menjadi jodohnya. Belum lagi, kisahnya yang mengharu biru, romantis, dan lancar jaya. Tapi coba kita tilik lebih jauh lagi, adakah kehidupan menyenangkan tersebut di dunia kita yang sebenarnya? Sudah pasti jawabannya ada. Maksud saya, iya ada tapi paling 1 banding 10 milyar.

Saya pikir, cerita di FTV ini terlalu mengada-ada. Tapi sialnya, saya jadi sering berandai-andai hidup saya seperti tokoh utama dalam FTV, orang biasa tetapi mendapatkan jodoh yang luar biasa. Like a bosss. Siapa yang nggak senang coba dengan keadaan seperti itu. Nah, saya yakin apa yang saya ‘andaikan’ juga ‘diandaikan’ oleh banyak orang. Muda foya-foya, jodoh orang kaya, mati masuk surga. Itulah mengapa saya meyakini bahwa FTV ini membentuk ekspektasi yang tinggi pada masyarakat. Banyak orang akan berharap hidup mereka seperti tokoh dalam FTV. Mereka berharap pasangan mereka adalah pasangan yang romantis seperti di FTV. Mereka berharap hidup mereka bahagia tanpa banyak usaha seperti dalam FTV. Mereka berharap sejuta cara pertolongan akan hadir ketika mereka membutuhkan. Kenyataannya, pasangan tidak romantis cenderung cuek dan menyebalkan, hidup tak kunjung bahagia, dan tak pernah ada pertolongan jika mereka membutuhkan. Kemudian, apa akibatnya? Mereka stres.

Uraian di atas hanya sekedar opini saya, mungkin lebih baik bila kita sinkronkan dengan penelitian yang ada. Sudah menjadi rahasia umum jika tayangan televisi secara umum dan FTV secara khusus memiliki kekuatan yang sangat besar melalui kemampuan komunikasi-visualnya telah mempengaruhi perilaku masyarakat (Istanto, 1999). Menurut Prof. Dr. R. Mar’at dalam Effendy (1992), acara televisi pada umumnya dapat mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan penonton. Tayangan televisi demikian membuai sehingga memimpikan manusia dan membiarkan manusia larut dalam gambar-gambar dalam tayangan televisi. Pemirsa televisi menaruh kesan secara langsung pada peristiwa dalam tayangan televisi serta ikut menghayatinya (Istanto, 1999). Tayangan televisi dengan mudahnya mengubah realitas sehari-hari ke dalam utopi-utopi. Sebagai tontonan tayangan televisi hanyalah realitas media, yang tentu saja bahkan sebagai “realitas” buatan yaitu fiksi, yang perlu dibedakan dari realitas media berupa informasi faktual. Tetapi karena dipanggungkan dalam kaidah dramatisasi, “realitas” ini menjadi lebih menonjol (Siregar, dalam Hadi, 2007).

Nah, berarti sudah menjadi hal yang wajar jika FTV akan membentuk ekspektasi yang tinggi pada masyarakat. Bahkan, tidak hanya ekspektasi yang tinggi tetapi juga mempengaruhi tingkah laku mereka. Mereka mengikuti apa yang dilakukan tokoh dalam FTV. Tetapi jangan hanya melihat dari sisi buruknya, tetapi juga sisi baiknya. Tidak mustahil pula FTV dapat menjadikan masyarakat semakin kreatif dan inovatif dalam melihat peluang usaha. Pun dapat memberikan pelajaran pada masyarakat bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini.

Jadi, bijak-bijaklah dalam memaknai FTV.

Sumber:

Hadi, I.P. (2007). Cultivation theory sebuah perspektif teoritik dalam analisis televisi. Jurnal Ilmiah Scriptura Vol. 1 No. 1, 1-13.

Istanto, F. H. (1999). Peran televisi dalam masyarakat citraan dewasa ini sejarah, perkembangan, dan pengaruhnya. Nirmana Vol. 1. No. 2, 95-108.

05
Oct
13

Malam Semakin Larut

Malam semakin larut namun mulut kita masih tak mampu menutup. Kopi di atas meja pun masih belum habis kita susup.

MULA-MULA

Ada saja celoteh yang menyeruak dalam pertemuan kita. Dari hal paling sederhana seperti, “kamu sibuk apa?” hingga pembicaraan busuk tentang para petinggi negara yang tak berwibawa. Bersama mereka waktu tampak begitu sempurna, jeda sedikit saja hampir tak ada. Sungguh aku tak pernah menyangka, cerita kita akan berjalan cukup lama.

TERIMA KASIH

Sudah habis kata untuk membanggakan mereka, hanya terima kasih dan syukur tiada tara atas kebaikan Tuhan mempertemukanku dengan mereka. Meski kami tak banyak berjumpa tapi selalu ada makna di setiap temunya. Aku tahu kami tak sama. Aku tahu kami berbeda tapi di situlah perjalanan kami tampak begitu indahnya. Perdebatan sengit bukan tak pernah ada, kekecewaan kecil jelas buat kita merana. Namun, ketika kita bicara rasanya semua sirna. Yang ada hanya pelajaran berharga untuk ke depannya.

RAHASIA

Aku beri tahu satu rahasia. Percakapan dengan kalian adalah terapi tanpa dana. Aku bukanlah orang yang bisa percaya, tapi bersama kalian aku tak pernah berhenti belajar percaya. Bersama kalian aku aku merasa masih dicinta. Bersama kalian hidupku jauh lebih memesona. Jika kalian tahu hidupku sungguh membosankan, tetapi Tuhan mengirim kalian untuk buatku lebih ceria.

SEMOGA

Aku tak pernah tahu berapa lama lagi jalan cerita kita tetap ada. Aku tak pernah lupa bahwa kita memiliki impian masing-masing, yang nantinya akan membuat kita jarang berkontak mata. Aku hanya mampu berdoa semoga jalan kita adalah jalan bahagia. Aku hanya mampu berdoa kita tak akan pernah lupa untuk tetap bertegur sapa dan titip rindu dalam doa. Aku mengasihi kalian semua Gank GILA, Tuhan memberkati kita semua J

Malam semakin larut, kita pulang kembali ke jalan kita masing-masing. Hanya tersisa pahit kopi dan manis canda yang tak akan pernah lekang oleh masa.