06
Apr
10

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA INFANCY DAN TODLERHOOD

KATA PENGANTAR

Setiap individu pasti mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Dimana pertumbuhan dan perkembangan tersebut saling berkaitan untuk membentuk suatu kemajuan. Dalam studi mengenai perkembangan anak, pasti kita akan membahas tentang arti perkembangan sendiri. Perkembangan adalah perubahan yang bersifat kualitatif dan progresif. Dan suatu perkembangan selalu kearah yang lebih baik (kemajuan).                                             Perkembangan itu sendiri di stimulasi oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah suatu lingkungan. Lingkungan yang baik, nyaman dan aman juga akan mempengaruhi seseorang dalam berfikir dan berperilaku, serta memberi perkembangan yang optimal. Dalam perkembangan anak, yaitu saat usia 2-12 tahun kita sebaiknya memberikan lingkungan yang baik kepada mereka. Dan dengan adanya psikologi perkembangan kita dapat memberikan stimulus yang maksimal untuk mereka. Stimulus tersebut dapat berperan dengan baik ketika sang nak sedang berada dalam masa peka, yaitu masa dimana salah satu aspek perkembangan mengalami puncaknya.                                                                                                         Membahas tentang perkembangan anak tentu kita akan menemui berbagai teori yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Sebagai salah satu aspek yang mendukung adalah teori psikososial yang juga dibahas oleh beberapa ilmuwan. Dimana menurut teori ini, perkembangan merupakan suatu pentahapan. Yang mana suatu perkembangan anak tidak bisa terpisah oleh perkembangan-perkembangan berbagai aspek yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Sehingga bila suatu aspek satu dan lainnya berkembang pesat maka akan membentuk perkembangan pada anak secara optimal.                                                           Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang perkembangan anak dari segi psikososial yang dikaitkan dengan beberapa teori perkembangan anak. Teori ini merupakan salah satu teori pada perkembangangan anak yang juga mempengaruhi suatu perkembangan dalam aspek psikososial. Olek karena itu, semoga makalah kami dapat membantu dalam proses memahami perkembangan dari segi psikososial.

Yogyakarta, 23 November 2009

Tim Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1      Latar Belakang Masalah

Perkembangan anak terjadi dari masa prenatal hingga akhir hidupnya. Akan tetapi perkembangan paling optimal terjadi pada tahun-tahun awal pertumbuhan anak. Suatu perkembangan yang baik juga dipengaruhi oleh faktor pendukung yang baik. Masa infancy suatu perkembangan dapat dilihat dari hal-hal kecil yang bayi lakukan seperti tangisan bayi yang mengekspresikan banyak hal. Sedangkan dalam masa toddlerhood perkembangan anak dapat terlihat dengan lebih jelas. Dan dalam makalah ini hal-hal tersebut akan dibaha secara lebih lanjut.                                                                                                                          Pada dasarnya setiap individu pasti mengalami suatu perkembangan. Dimana perkembangan tersebut terjadi dalam beberapa aspek, mulai dari kognitif hingga pikososialnya. Psikososial juga berkaitan dengan emosi anak dalam berperilaku. Sehingga dengan mengetahui perkembangan anak dalam segi psikososial kita dapat merespon dan memahami perilaku anak dengan baik. Dalam teori psikososial yang ada dalam makalah ini, terdapat berbagai masalah yang akan dibahas tentang tahapan-tahapan perkembangan pada anak. Khusunya perkembangan psikososial pada masa infancy dan toddlerhood. Dimana perkembangan psikososial anak pada masa ini akan berpengaruh bagi perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu kita harus memaksimalkan setiap tahap perkembangan pada anak.

1.2       Rumusan Masalah

1. Berdasarkan Tahapan Perkembangan Sigmund Freud, bagaimanakah perkembangan anak dalam berbagai tahapnya?

2. Bagaimanakah perkembangan anak pada setiap periodenya menurut Erikson?

3. Bagaimanakah perkembangan tempramental anak pada kondisi tertentu?

4. Bagaimanakah sifat anak menurut teori Psikososial beberapa ilmuwan?

5. Bagaimanakah anak-anak berperilaku dalam kesehariannya?

6. Bagaimanakah perkembangan anak berdasarkan dengan alat ukur teori Big Five?

7. Bagaimanakah perkembangan anak pada masa infancy berdasar alat ukur yang kami buat?

8. Bagaimana cara bayi menyampaikan hal-hal yang dia inginkan?

9. Bagaimanakah cara bayi merespon terhadap lingkungan dan orang disekitarnya?

1.3 Metode Penelitian

Dalam penelitian ini kami menggunakan metode observasi dan wawancara.

Alasan dengan metode obsevasi dan wawancara, memiliki kelebihan:

– Dengan menggunkan metode observasi kita dapat melihat secara langsung objek yang diamati, sesuai dengan landasan teori dan alat ukur yang digunakan.

–  Dengan metode ini perilaku subjek dapat diamati secara alami tanpa adanya manipulasi.

– Dengan metode wawancara kita dapat bertanya secara langsung kepada orangtua dan pengasuh mengenai peilaku anak berdasarkan pengamatan dan landasan teori yang kami pakai.

– Dengan metode ini kita juga dapat mengroscek hasil observasi dalam perilaku keseharian anak tersebut.

1.4  Tujuan Penelitian

Agar kita dapat mengetahui perilaku anak dari ,asa infancy hingga toddlerhood dalam segi psikososial berdasarkan beberapa teori. Sehingga kita dapat memberikan respon dan stimulus yang tepat dalam perkembangan psikososial anak tersebut. Selain itu kita juga dapat memahami perkembangan psikososial anak secara baik.

BAB II

LANDASAN TEORI

I.      Perkembangan Psikososial pada Masa Infancy

Masa Bayi merupakan masa awal dalam kehidupan manusia. Perkembangan pada masa bayi sangat mempengaruhi dasar dari perilaku individu selanjutnya. Salah satu perkembangan yang dialami individu adalah perkembangan sosio-emosi. Hal tersebut muncul seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh individu. Dalam perkembangan sosio-emosi, khususnya pada masa bayi, memiliki hubungan dengan perihal keterikatan (attachment), peran ayah sebagai pengasuh anak, tempat pengasuhan anak (day care), dan emosi. Dalam makalah ini yang berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan terhadap bayi dilingkungan sekitar dan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

1. Hubungan anak dengan ibu sangat kuat

Trust versus Mistrust (Teori Psikososial Erikson)

Pada tahap ini bayi mengalami konflik antara percaya dan tidak percaya. Rasa percaya menuntut perasaan nyaman secara fisik. Pada saat itu, hubungan bayi dengan ibu menjadi sangat penting. Kalau ibu memberi bayi makan, memeluk dan mengajaknya bicara, maka bayi akan memperoleh kesan bahwa lingkungannya dapat menerima kehadirannya secara hangat dan bersahabat. Ini yang menjadi landasan rasa percaya. Sebaliknya, jika ibu tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi, maka dalam diri bayi akan timbul rasa ketidakpercayaan terhadap lingkungannya.                                                                                                                  Menurut observasi yang kami lakukan dapat dilihat bahwa anak memiliki kepercayaan yang cukup tinggi pada ibunya. Kepercayaan ini menimbulkan kenyamanan pada si anak. Hal ini dapat dilihat dari gerakan – gerakan senang yang anak lakukan ketika mendengar suara ibunya. Pun ketika anak menangis, kemudian langsung diam ketika digendong ibunya. Ini memperlihatkan kenyamanan yang dirasakan si anak. Sebaliknya, ketika anak sedang sakit, ibu merasakan suatu perasaan yang tidak enak. Merasa tidak nyaman ketika melakukan aktivitas karena memikirkan si anak. Di sini terlihat jelas hubungan yang mendalam antara anak dan ibunya.

  1. 2. Adanya ikatan kuat dengan lingkungan dekatnya

Keterikatan (attachment) merupakan suatu ikatan emosional yang kuat antara bayi dan pengasuhnya. Menurut Freud, bayi akan makin dekat dengan orang atau barang yang memberikan kepuasan oral pada bayi. Hal ini dibantah oleh Harlow dan Zimmerman (1959) yang melakukan penelitian menggunakan bayi monyet serta para ‘ibu’ dari kawat dan handuk. Dalam penelitian tersebut, menunjukan bahwa bayi monyet cenderung ‘terikat’ dengan ‘ibu handuk’ yang memberinya kenyamanan daripada dengan ‘ibu kawat’ yang memberinya makanan. Secara tak langsung, penelitian ini menyebutkan bahwa elemen penting dalam proses keterikatan bukanlah memberi makan, melainkan kenyamanan kontak.                      Menurut observasi kami ikatan si anak dengan lingkungannya sangat mempengaruhi  pola tingkah lakunya.Misalnya ketika bayi di gendong oleh orang di kenal seperti ibu dan orang terdekatnya bayi akan memliki reaksi positif misalnya ketawa dan merasa senang.Apabila di gendong oleh orang yang menurut si anak asing si anak akan menangis atau merasa takut.Apabila bayi di bawa ke lingkungan yang baru missal ke tempat saudara kerena anak yang kami observasi buka ank yang rewel jadi dia tidak memberikan respon negatif.

3. Komunikasi antar Bayi

Bayi mulai berinteraksi dengan bayi lain apabila usianya mencapai 5 bulan. Pada awalnya bayi akan merangkak. Bayi akan mendekati orang yang mereka sukai setelah mereka bisa berdiri tegak. Selain itu, mereka juga pandai mengangkat tangan minta digendong. Bayi yang  berusia 9 bulan sudah bisa mengajak bermain jika keinginanya tidak di penuhi maka dia akan menangis. Perlakuan ini adalah disebabkan oleh sifat egosentrisme yang dimiliki bayi.   Menurut observasi kami bayi melakukan interaksi dengan bayi lain apabila bayi tersebut merasa cocok dengan temannya. Bayi berinteraksi dengan bahasa mereka sendiri.Bayi memiliki naluri untuk melindungi temannya misalnya saat temannya merasa takut bayi akan membuat temannya merasa aman dengan kembali mengajak bermain. Konflik juga terjadi ketika ada kecemburuan dengan bayi yang lain misalnya ketika rebutan mainan.

  1. 4. Anak menyukai sentuhan

Sentuhan merupakan sarana komunikasi bagi bayi. Sentuhan yang didapat dari lingkungan menyebabkan adanya attachment. Misalnya apabila bayi digendong atau dielus oleh ibunya menyebabkan attachment akan semakin kuat.

5. Bahasa awal pada Bayi

Perkembangan bahasa anak terlihat dari perubahan dari tangisan hingga akhirnya anak mampu membuat kata dan kalimat. Pada umumnya bayi sering menangis pada minggu-minggu pertama kehidupan, baik siang maupun malam. Ini karena bayi yang baru lahir masih berada dalam fase penyesuaian dari dalam kandungan ke dunia luar. Banyak dan sedikitnya tangisan, menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya “Perkembangan Anak II”, berbeda-beda menurut cepat dan memadainya pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka. Jika dipenuhi dengan segera, bayi kemudian hanya akan menangis karena merasa sakit dan tertekan. Setelah umur dua minggu, ada sebagian bayi yang menangis berlebihan. Dalam kebanyakan kasus dilaporkan, orangtua bayi tersebut tak cepat memperhatikan tangis bayinya dan tidak konsisten menanggapinya.                                                                                      Jumlah tangisan juga bervariasi menurut “saat harinya”, bertepatan dengan saat jadwal bayi. Misalnya, bayi paling sering menangis sebelum saatnya diberi makan dan sebelum waktunya tidur malam. Ketika bayi dapat menyesuaikan diri dengan jadwal waktu makan dan tidur, tangisan pada saat-saat tersebut berkurang. Jangan hentikan tangisnya dengan cara mengangkatnya setiap kali ia rewel atau menangis. Carilah apa yang salah dan jika tak terlalu serius, segera alihkan perhatiannya.                                                                                       Menurut Dr. Najib Advani SpA. MMed. Paed., dokter anak di Sub. Bag, Kardiologi Anak FKUI-RSCM, secara garis besar bayi menangis dibagi dua kelompok. Pertama, bayi menangis tanpa penyakit, seperti lapar, haus, perasaan tidak enak atau tidak nyaman (kepanasan, kedinginan, popok basah, suara berisik, dan lainnya), tumbuh gigi, saat buang air kecil, kesepian, lelah, atau kolik. Kedua, bayi menangis karena ada sesuatu penyakit seperti infeksi, hernia, sumbatan usus, autisma, dan sebagainya.

Arti Tangisan Anak 4-12 Bulan

Mulai usia 3-4 bulan, kita akan melihat perubahan yang nyata pada anak. Tangisnya mulai berkurang karena ia sekarang mulai tahu apa yang ada di sekelilingnya. Ia mau mendengarkan dan tertarik terhadap segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Seperti pada beberapa contoh dibawah ini:

“Saya  lapar”
Rasa lapar masih nyata menyebabkan ia menangis. Ia pun lebih aktif dibanding sebelumnya dan karenanya cepat lelah. Bayi yang aktif, kebutuhan makannya lebih banyak.

“Saya  tumbuh  gigi”
Biasanya bayi mulai tumbuh gigi usia 6 bulan ke atas. Biasanya tangisnya muncul di sore hari, kuat seperti tangis sakit karena ada rasa nyeri.

“Saya  cemas”
Mulai usia 7 atau 8 bulan, kebanyakan bayi menangis karena cemas, terutama saat ia “kehilangan” Anda. Baginya, Anda adalah dasar dari rasa amannya. Ia akan tenang “menjelajahi dunia” selama Anda berada dalam pandangannya. Jika Anda meninggalkannya atau ia tak melihat Anda, meski Anda ada di dekatnya, ia akan menangis.

“Saya  ingin    diperhatikan”
Lewat usia 6 bulan, ia mulai mempelajari, menangis ialah suatu alat untuk memperoleh perhatian. Bayi usia 7 atau 8 bulan cukup menyadari, dengan menangis, Anda akan segera berlari mendekatinya. Lebih baik Anda tak buru-buru menggendongnya, tapi hiburlah atau ajak main.

“Saya  sakit”
Rasa sakit yang ia alami lebih karena benturan-benturan pada fisiknya saat ia bergerak aktif. Meski tidak luka, tetap memungkinkan ia menangis. Mungkin lebih karena rasa kaget. Mengalihkan perhatiannya dapat menolong ia melupakan sakitnya dengan cepat.

“Saya sangat  lelah”
Lelah berlebihan ditunjukkan oleh rengekan, lekas marah, dan akhirnya menangis. Menjelang akhir tahun pertamanya, ia mempunyai kehidupan yang penuh dengan pengalaman baru, yang membuatnya kehabisan energi sebelum ia kehilangan semangat. Ia butuh pertolongan Anda untuk membuatnya cukup rileks seperti tidur.

“Saya  marah”
Mulai usia 9 bulan, dalam dirinya mulai berkembang konsep “Saya ingin” dan kemarahan merupakan caranya untuk menunjukkan rasa frustrasinya ketika sesuatu tak diperoleh sesuai keinginannya. Seolah ia dibuat jengkel oleh batasan-batasan, beberapa diantaranya merupakan rintangan fisik seperti kursi tinggi dan kursi dorong, yang terasa menghalanginya saat ia ingin berkembang lebih leluasa.Ia juga terhalang oleh kemampuan komunikasinya yang masih baru. Karena tak bisa mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata, ia akan menggenggam erat kepalan tangannya dan pipinya memerah, untuk menunjukkan pada Anda bahwa ia tak puas dengan situasi yang ada.

Semakin berkembangnya anak, maka anak akan semakin memiliki konsep diri yang lebih baik

  1. Kesadaran diri (self-awareness)

Kesadaran diri (self-awareness) bayi muncul ketika bayi berusia 18 bulan. Pada masa yang sama bayi juga mempunyai pengenalan diri  yang ditunjukkan melalui keupayaan bayi mengenali diri mereka sendiri. Kesadaran diri merupakan satu peningkatan yang besar dalam upaya memahami orang lain serta berhubung dengan mereka. Sebaiknya  mereka mempunyai kesadaran diri, mereka menyadari kecenderungan untuk memilih orang yang mereka sukai. Misalnya, mereka lebih menyukai teman sebaya dibandingkan dengan orang dewasa. Mereka juga dapat membentuk perasaan empati, memikirkan perasaan diri sendiri, dan tahu bahawa orang lain tidak akan tahu apa yang difikirkan oleh mereka.                                                           Menurut observasi kami kesadaran akan milik si anak di tunjukan ketika dia berusaha mempertahankan mainan yang dia miliki.Tidak jarang juga si anak menangis ketika mainan yang dimilikinya diambil orang lain.Proses mengenal diri dan lingkungannya terlihat dari ketika dia mampu mengenali budenya.Ketika ibu memberikan stimulus si anak akan merespon stimulus tersebut.

  1. Sibling Contact (Hubungan antar saudara)

Menurut observasi kami si anak terlihat belum bisa mengekspresikan dan merasakan kecemburuan terhadap saudaranya.Ini terlihat dari tidak adanya reaksi ketika orang tua memberikan perhatian yang lebih ke saudaranya.

Facebook AdsII. Perkembangan Psikososial pada Masa Toddlerhood

Fase Childhood adalah fase anak pada umur 2-4 tahun, fase ini merupakan fase-fase awal perkembangan. (Hurlock, 1942) Salah satu aspek perkembangan ini adalah aspek Perkembangan sosial berarti perkembangan kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Sosialisasi anak melibatkan 3 proses, yang mana walaupun ketiganya terpisah-pisah dan berbeda, namun hubungan diantara ketiganya sangat dekat, satu kegagalan diantara ketiga proses itu, akan mengakibatkan rendahnya proses sosialisasi seseorang.                                                                Proses pertama, adalah perkembangan tingkah laku anak, yang diterima oleh kelompok sosial. Setiap kelompok sosialm memiliki standar khusus mengenai apa yang layak dan apa yang tidak layak, anak harus mengerti tentang standar itu dan memodifikasi perilakunya agar sejalan dengan norma dan nilai yang diterima oleh kelompok sosialnya.                                                                            Proses kedua, Sosialisasi yang dimainkan oleh kelompok sosial. Pola kebiasaan ditentukan dan diharapkan untuk dilaksanakan oleh anggota kelompok sosial. Setiap kelompok sosial memiliki pola perilakunya masing-masing untuk jenis kelamin yang berbeda-beda dan aspek yang lain dari kehidupan. Sebagai contohnya peran orang tua untuk anaknya, serta peran guru untuk muridnya.          Proses ketiga, perkembangan sikap sosial. Jadi anak mulai menyukai interaksi dengan orang dan melakukan aktivitas sosial. Anak akan menjadi orang yang mudah bergaul yang menunjukkan kesukaannya untuk berinteraksi dengan orang.                                                                                      Saat anak berumur sekitar 3-4 tahun, anak mulai senang untuk bermain bersama dalam kelompok, selangkah lebih maju daripada sebelumnya ia hanya bermain sendiri di ruangan yang sama dan mainan yang sama. Pada tahap ini, anak mulai senang berbicara pada anak lain saat bermain dan memilih teman bermain yang ia senangi. Perilku yang umum terjadi pada fase tersebut adalah mengamati satu sama lainnya saat bermain, berbicara dan membuat sugesti verbal.

2.1 Teori Psikoanalisis menurut Sigmund Freud

Dimana teori psikoanalilis Freud menggambarkan perkembangan sebagai sesuatu yang biasanya tidak disadari dan diwarnai oleh emosi. Sigmund Freud membagi struktur kepribadian menjadi :

id terdiri dari insting-insting, merupakan  tempat penyimpanan energi psikis individu. Salah satu insting primer dan sumber energi psikis adalah yang bersifat seksual. Dalam teori Freud id seluruhnya tidak sadar dan tidak memiliki kontak langsung dengan kenyataan.                                                                                                    – ego merupakan struktur kepribadian yang menghadapi tuntutan kenyataan. Ego menggunakan penalaran untuk membuat keputusan sehingga disebut juga executive branch.                                                                                 – Superego merupakan cabang moral kepribadian, yang memutuskan benar atau salah. Superego merupakan sesuatu yang sering kita sebut sebagai “Nurani”.

2.2 Teori Perkembangan Psikoseksual Freud

Freud (1856-1939) mengembangkan ide tentang teori psikoanalisisnya saat sedang bekerja dengan pasien gangguan mental. Ia adalah dokter medis spesialis neurologi. Ia menghabiskan sebagian tahun-tahunnya di Wina, Austria, meskipun ia pindah ke London di akhir kariernya karena kebijakan Nazi yang mendiskriminasi kaum Yahudi. Dalam tahap perkembangan, Freud menyatakan bahwa manusia melalui lima tahap perkembangan dan bahwa di setiap tahap kita mengalami kesenangan di salah satu bagian tubuh lebih daripada bagian tubuh lain. Menurut Freud, kepribadian dewasa kita ditentukan oleh cara kita menyelesaikan konflik antara sumber kesenangan awal. Jika kebutuhan akan kesenangan pada setiap tahap tidak terpuaskan atau malah terlalu terpuaskan, seseorang dapat terfiksasi atau terkunci pada tahap perkembangan tersebut. Freud lebih menekankan pada motivasi seksual, tahapan-tahapannya ini disebut dengan teori perkembangan psikososial yang merangkum lima tahap, yaitu : Oral, Anal, Phallic, Latency, Genital. Yang akan kami jelaskan secara singkat mengenai tahap tersebut. Tahap Oral yaitu, terjadi pada anak dari lahir hingga usia 1½ tahun, dimana kesenangan bayi terpusat disekitar mulut seperti mengunyah, menghisap, dan menggigit. Tahap Anal yaitu, terjadi pada anak usia  1½ hingga 3 tahun, dimana kesenangan anak terpusat pada anus sebagai fungsi pembuangan yang berhubungan dengannya. Tahap Phallic yaitu, terjadi pada anak usia 3-6 tahun, dimana kesenangan anak terpusat pada alat kelamin saat anak laki-laki dan perempuan menyadari bahwa manipulasi diri itu menyenangkan. Seperti pada kasus Oedipus, Oedipus seorang anak raja Thebes secara tidak sadar membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Tahap Latency yaitu, tejadi pada anak usia 6 tahun hingga pada masa pubernya, dimana si anak menekan seluruh minat seksual dan mengembangkan keterampilan sosial dan intelektual. Tahap Genital yaitu, terjadi pada anak dalam masa puber hingga seterusnya, dimana tahap ini merupakan saat kebangkitan seksual. Sumber kesenangan seksual sekarang didapat dari seseorang diluar keluarga. Si anak mampu untuk mengembangkan hubungan cinta yang matang dan mampu bertindak secara mandiri sebagai orang dewasa.                                                                                                                       Dalam makalah ini kami hanya akan membahas teori perkembangan Freud ini sampai pada tahap Phallic saja. Dalam Tahap Oral, kesenangan anak terpusat pada mulut yang hal ini terjadi ketika anak masih diberi asupan ASI oleh ibunya. Anak sangat menyukai ketika diberikan ASI oleh ibunya karena si anak mulai belajar untuk menggunakan mulutnya dengan menghisap puting susu ibunya, hal inilah merupakan pelajaran pertama si anak dalam menggunakan mulutnya untuk makan. Ketika anak menginjak umur 1 tahun lebih, terkadang ada ibu yang memberikan susu dari susu kaleng di dalam botol.  Pada awalnya si anak biasanya akan menolak karena si anak belum mengenalnya, namun lama-kelamaan si anak akan mau untuk minum susu dari susu kaleng di dalam botol karena kesenangan mereka masih terpusat dengan mulut dan si anak akan menghisap serta mulai menggigit ‘empengan’ yang ada di dalam botol. Sama seperti ketika ibunya memberikan ‘empengan’ kepada si anak ketika ia menangis agar si anak menjadi tenang karena ia merasa bahwa yang ia rasakan adalah puting susu ibunya. Namun biasanya memberikan susu dari susu kaleng di dalam botol dan ‘empengan’ biasanya hanya diberikan ibunya dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk memberikan asupan ASI untuk anaknya. Pada usia ini terkadang si anak pun mulai memasukkan jarinya ke dalam mulut (biasanya jempol) kemudian si anak menghisapnya disebut ‘ngempeng tangan’. Hal ini sangat tidak baik jika menjadi suatu kebiasaan pada  si anak, karena hal ini akan dapat terjadi hingga si anak menginjak sekolah dasar dan untuk menghentikannya agak sedikit sulit.                                                          Kemudian dalam Tahap Anal, kesenangan anak terpusat pada anus sebagai alat pembuangan. Ketika anak berusia 1 tahun, anak membuang air masih tidak teratur. Tidak teratur disini dimaksud dengan si anak buang air masih saat ketika ia sedang tidur atau sedang keadaan sadar yang sedang bermain, di saat dan di tempat itu juga ia membuang air. Namun ketika usia si anak lebih dari 1½  tahun, ini adalah peran ibu untuk mengajarkan si anak jika ingin buang air harus mengatakannya pada ibunya dan ibu akan mengajarkan pada si anak untuk membuang air pada tempatnya yaitu pispot yang ditaruh di dalam WC/kamar mandi. Pada awalnya memang agak sulit untuk mengajak anak agar membuang air pada tempatnya dan hal inilah yang harus ibu lakukan untuk membuat si anak tertarik untuk membuang air di pispot, biasanya kebanyakan ibu membeli pispot yang berwarna cerah dan bergambar agar menarik perhatian si anak, kemudian dengan perlahan ibu mengajarkan pada si anak apa fungsi pispot itu dan biasanya dengan penjelasan dari ibu si anak akan mau untuk melakukannya.                                                                                                                            Kemudian ketika anak berusia lebih dari 2½  tahun, ibu mulai mengajarkan anak untuk buang air pada kloset. Jika awalnya si anak sudah diajarkan untuk buang air pada pispot, biasanya akan lebih mudah untuk ibu mengajarkan pada anak untuk buang air di kloset, karena si anak telah terlatih dan disiplin ketika ia harus buang air apa yang harus ia lakukan sehingga dengan perlahan si anak pun akan mulai belajar tentang kehidupannya. Namun hal ini akan sulit dilakukan pada anak yang mengalami ABK yaitu, Anak Berkebutuhan Khusus. Karena kita tidak dapat memaksakan anak yang ABK untuk melakukan seperti apa yang kita ajarkan kepada anak yang normal. Anak yang ABK harus diajarkan dengan secara perlahan agar ia dapat mengerti apa yang kita ajarkan dan apa yang kita arahkan untuk ia. Karena kadang mereka tidak mengerti atau saat kita mengajarkan ia akan mengangguk tetapi kemudian sebenarnya ia tidak mengerti apa yang kita ajarkan, sehingga ketika ingin buang air ia tidak bilang atau langsung buang di tempat pada saat itu. Pada saat itulah seorang ibu harus lebih sabar dan secara perlahan mengajarkan pada anak yang ABK. Tahap Phallic yaitu, kesenangan anak terpusat pada alat kelamin. Menurut kami, tahap ini sangat tidak relevan dan tidak ada bukti yang sesuai dalam masa sekarang ini. Contohnya: pada kasus Oedipus yang membunuh ayahnya kemudian menikahi ibunya. Karena kami tidak yakin bahwa seorang anak dalam usia yang bisa dikatakan belum baligh dapat melakukan seperti itu terhadap orang tuanya sendiri. Menurut kami tahapan ini lebih kepada si anak menginginkan kasih sayang yang lebih dari orang tuanya, jika anak perempuan cenderung ingin diperhatikan oleh ayahnya sedangkan anak laki-laki cenderung ingin diperhatikan oleh ibunya.

2.3    Teori Psikososial menurut Erikson

Erikson (1950,1968) mengatakan bahwa kita berkembang dalam tahap psikososial, daripada dalam tahap psikoseksual. Bagi Erikson motivasi utama manusia bersifat sosial dan mencerminkan suatu keinginan untuk berhubungan dengan orang lain. Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang kehidupan manusia. Dalam teori Erikson, ada delapan tahap perkembangan yang berkembang sepanjang kehidupan. Tiap tahap terdiri dari tugas perkembangan yang unik yang menghadapkan seseorang pada suatu krisis yang harus dipecahkan. Menurut Erikson, krisis ini bukanlah musibah melainkan titik balik meningkatnya kelemahan dan kemampuan. Semakin berhasil seseorang menyelesaikan krisis yang dihadapi, akan semakin sehat pula perkembangannya.

Tahap Perkembangan Erikson Periode Perkembangan
Kepercayaan

vs

Ketidakpercayaan

Masa Bayi

(Tahun Pertama)

Otonomi

vs

Rasa Malu & Ragu-ragu

Masa Bayi (1-3 tahun)
Inisiatif

vs

Rasa Besalah

Masa kanak-kanak awal (tahun prasekolah, 3-5 tahun)
Kerja Keras

vs

Rasa Inferior

Masa kanak-kanak tengah (usia SD, 6 tahun-Remaja
Identitas

vs

Kebingungan Identitas

Masa Remaja (usia 10-20 tahun)
Keintiman

vs

Isolasi

Masa Dewasa awal (usia 20 tahunan-30 tahunan)
Generativitas

vs

Stagnasi

Masa Dewasa Tengah (usia 40 tahunan-50 tahunan)
Integritas

vs

Keputusasaan

Masa Dewasa Akhir (usia 60 tahun keatas)

Dalam makalah ini, kami akan membahas tiga teori dalam teori dalam perkembangan Erikson, yaitu Kepercayaan vs Ketidakpercayaan, Otonomi vs Rasa Malu & Ragu-ragu, dan Inisiatif vs Rasa Besalah. Tahap Kepercayaan vs Ketidakpercayaan merupakan tahap pertama yang dialami dalam kehidupan, dimana rasa percaya melibatkan rasa nyaman secara fisik dan tidak ada rasa takut atau kecemasan akan masa depan. Rasa percaya yang dirasakan bayi akan menjadi fondasi kepercayaan sepanjang hidup bahwa dunia akan menjadi tempat yang baik dan menyenangkan untuk ditinggali.                                                                                             Tahap kedua yaitu, Otonomi vs Rasa Malu & Ragu-ragu dimana ketika si anak mendapatkan rasa percaya dari ibunya atau pengasuhnya, si anak mulai mengetahui bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai menyatakan kemandirian mereka atau yang disebut dengan otonomi dan mereka menyadari apa yang menjadi keinginan mereka. Jika anak terlalu dibatasi atau dihukum dengan keras, mereka mungkin memunculkan rasa malu dan ragu-ragu. Pada tahap ini usia anak telah menginjak 1-3 tahun. Anak biasanya sudah banyak mengenal tentang kehidupannya di sekitar dan orang tua pun telah banyak mengajarkan tentang lingkungannya kepada si anak. Anak pada dasarnya akan patuh dengan apa yang dikatakan oleh orang tuanya terutama ibunya, karena intensitas interaksi antara ibu dan anak lebih besar ketimbang interaksi antara ayah dan anak, namun biasanya rasa patuh anak terkadang lebih kuat kepada ayahnya ketimbang ibunya karena menurut mereka ayah adalah orang yang berkuasa dirumahnya, jadi apapun yang dikatakan ayahnya si anak akan patuh. Ketika si anak telah mendapatkan rasa percaya dari ibu atau ayahnya untuk melakukan sesuatu. Hal itu membuat si anak telah mengerti bahwa apa yang diinginkannya diikuti oleh ayah atau ibunya. Namun ketika apa yang ia inginkan tidak diikuti sesuai dengan keinginannya si anak akan merengek atau menangis. Jika seperti ini ayah atau ibunya akan melarangnya dan mengatakan tentang suatu hukuman yang membuat si anak menjadi ragu untuk menekan keinginannya itu. Contohnya seperti, Seorang anak sedang asyik bermain dengan mainan barunya, pada saat yang sama anak itu harus makan. Namun si anak menolak untuk makan pada saat itu karena ia sedang ingin bermain. Ketika itulah ibunya atau pengasuhnya mengatakan,’Kalau adik tidak mau makan nanti tidak dibeliin mainan lagi lho’ atau ‘Kalau adik tidak mau makan nanti mainannya disimpan terus adik tidak boleh main lagi lho’. Dengan ‘ancaman’ ringan seperti itu biasanya si anak akan merasa ragu dan akan menekan keinginannya, kemudian ia akan patuh untuk melakukan apa yang disuruh oleh ibunya atau pengasuhnya. Dalam hal ini, dapat mengajarkan disiplin waktu kepada anak untuk kegiatan yang ia lakukan harus sesuai tepat pada waktunya.                                                    Tahap ketiga yaitu, Inisiatif vs Rasa Bersalah dimana si anak mulai memasuki masa prasekolah, dunia sosial yang lebih luas dan mereka akan menghadapi lebih banyak tantangan. Dalam tahap ini, anak diminta untuk memikirkan tanggung jawab terhadap tubuh, perilaku, mainan, dan hewan peliharaan mereka. Dengan mengembangkan rasa tanggung jawab akan meningkatkan inisiatif anak. Meskipun demikian, rasa bersalah yang tidak nyaman dapat muncul, jika anak tidak bertanggung jawab dan dibuat merasa sangat cemas. Namun rasa bersalah ini dengan cepat akan digantikan oleh rasa ingin berprestasi.             Ketika si anak telah memasuki tahap ini, si anak akan lebih mengerti tentang kehidupannya dan ia akan banyak belajar dari apa yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Contohnya seperti anak usia 3 tahun yang rasa keinginannya masih sangat kuat, ia melihat mainan yang menurut ia bagus, padahal mainan tersebut sedang dimainkan oleh temannya. Anak itu berusaha merebutnya dan membuat temannya menangis. Ketika itu ibu atau pengasuhnya harus memberikan pengarahan kepada si anak bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik dengan memberikan pengertian kepada si anak secara perlahan, contohnya seperti ini, ‘Adik kalau mainan ini direbut, nanti mainannya sedih. Adik juga tidak baik merebut mainan ini waktu teman adik sedang memainkannya, tuh teman adik jadi nangis kan, adik kalau mainannya direbut pasti juga tidak suka dan adik pasti nangis. Tidak boleh seperti itu ya adik, bukan anak ‘jempol’ kalau seperti itu. Dikembalikan ya mainannya, terus adik minta maaf sama temannya adik’.                                                                           Dengan begini, si anak akan lebih mengerti tentang apa yang harus ia perbuat dan hal ini akan membangun rasa bersalahnya kepada orang lain, serta si anak akan berpikir untuk melakukan hal yang baik terhadap orang lain. Satu contoh lagi pada anak usia 5 tahun, ketika anak harus bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya (homework). Ini merupakan sebuah tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh si anak. Ketika ia tidak mengerjakannya ia akan mendapatkan nilai yang tidak memuaskan dan hal itu akan membuat orang tuanya kecewa. Dari sini kita dapat menelaah lebih jauh bahwa si anak akan memiliki rasa bersalah terhadap orang tuanya dan ini akan memacu si anak untuk lebih giat belajar agar ia tidak hanya bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik tetapi juga bisa berprestasi nantinya.

2.4    Teori Tempramental

Teori ini diawali oleh beberapa ilmuwan barat pada tahun 1965 berdasar The New York Longitudinal Study (NYLS). Temperamental terkadang didefinisikan sebagai karakteristik seseorang berdasarkan biologis yang mendekati dan bereaksi kepada suatu keadaan dan orang (didefinisikan sebagai bagaimana perilaku itu, bukan apa yang orang lakukan). Alexander T. Thomas dan Stella C. Chess. Menurut teori tempramental oleh The New York Longitudinal Study (NYLS) anak dibagi menjadi tiga kategori:

  1. 1. Easy Child

– Memiliki rasa ingin tahu yang besar

– Bisa diprediksikan mengenai perilaku tempramentalnya

-Anak merasa bahagia.

– Mudah beradaptasi dengan lingkungan.

  1. 2. Difficult Child

– Tertutup dengan hal-hal baru.

– Tingkat emosional tinggi.

– Sulit untuk diprediksi.

*Anak akan bisa menyesuaikan/beradaptasi setelah dikondidikan.

  1. 3. Slow to Warm Up Child

– Menghindari sesuatu secara pasif.

– Butuh waktu yang lama untuk memikirkan sesuatu.

– Membutuhkan suatu stimulis dalam bertindak.

Hasil Obervasi terhadap beberapa anak di PAUD

Berdasarkan Teori Tempramental, alat ukur dan hasil observasi yaitu:

  • Keaktifan dalam bertanya
  • Cara bergaul atau berteman
  • Rasa ingin tahu
  • Kreatifitas dan inisiatif anak
  • Rasa percaya diri
  • Berjiwa Pemimpin
  • Moody
  • Kritis
  • Cerdas
  • Respon terhadap hal baru
  • Adaptasi

Pada dasarnya setiap anak mempunyai kemampuan dasar yang berbeda. Disaat pembawaan anak tersebut cenderung pendiam, agak sedikit sulit untuk membuatnya aktif. Akan tetapi bukan suatu hal yang mustahil nurture atau lingkungan akan mempengaruhi perilaku anak. Berdasarkan teori tempramental yang akan mengukur tentang perkembangan anak berdasar emosi dan hal lain. Ternyata keaktifan anak juga berbeda. Dalam obervasi ini kami mengamati beberapa anak di PAUD dengan sifat yang bebeda-beda. Dari hasil observasi kami, seorang anak yang pada dasarnya aktif bila dia merasa dia bisa, dia akan dengan senang hati mewakili teman-temannya. Biasanya anak yang lebih aktif juga lebih mendominasi pergaulan dengan teman-temannya.                                                                                                           Saat kami sedang mengadakan observasi, anak yang aktif akan cenderung bosan dengan hal-hal yang itu-itu saja. Saat pertama mendengar intruksi anak yang aktif akan mendominasi dan biasanya ingin menjadi yang pertama. Akan tetapi setelah beberapa saat anak tersebut bisa melakukan intruksi tersebut, ia akan merasa bosan dan tertarik dengan hal baru. Sebaliknya dengan anak yang cenderung pendiam atau pemikir. Dengan sabar anak tersebut menunggu giliran, setelah itupun dia memperhatikan cara  temannya mengerjakan hal tersebut. Karena perbedaan sifat anak tersebut, respon anak terhadap suatu hal juga berbeda. Ada anak yan memerlukan suatu stimulus untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh: saat kami sedang berada di PAUD, ada anak yang selalu ingin menjadi yang pertama dan aktif, akan tetapi anak tersebut cepat bosan dan moody.                                                                    Selain itu ada anak lain yang semangat bila ada stimulus yang merangsangnya, seperti dorongan para pengasuh. Namun anak-anak di PAUD cenderung easy child atau slow to warm up. Dari salah satu anak hasil pengamatan kami, anak tersebut termasuk kedalam anak yang aktif, sering bertanya, cerdas, cukup mudah beradaptasi, mempunyai rasa ingin tahu yang besar, percaya diri, dan berjiwa pemimpin. Anak tersebut mungkin masuk kedalam Easy Child. Akan tetapi anak tersebut cenderung moody dan cepat bosan. Besarnya rasa ingin tahu anak tersebut, membuatnya selalu ingin mencoba hal-hal baru. Dari contoh-contoh diatas kit bisa lebih memahami karakter anak.

2.5  Teori Big Five

Perkembangan psikososial anak tidak hanya ditinjau dari aspek interaksi dia dengan orang lain. Tetapi juga dari perkembangan kepribadiannya yang tentunya mempengaruhi bagaimana cara dia menanggapi stimulus dan keberadaan dari orang lain. Dalam peninjauan aspek kepribadian, kami menggunakan tipologi ”Big Five” yang merupakan turunan dari teori trait Allport. Big five adalah tinjauan lima domain atau dimensi yang luas dari kepribadian, yang telah secara ilmiah ditemukan untuk menentukan kepribadian manusia pada tingkat yang tertinggi. (Goldberg, 1993).                                                                                                       Aspek yang diamati dalam teori Big five adalah OCEAN yang kepanjangannya adalah Openess, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, Neuroticsm yang dalam penjelasannya, yaitu:

  1. Openess adalah kemampuan untuk memberi penghargaan dan menyukai seni, emosi, petualangan, ide-ide yang tidak biasa, imajinasi, keingintahuan, dan berbagai pengalaman.
  2. Conscientiousness adalah kecenderungan untuk menunjukkan disiplin diri, bertindak dengan patuh, dan bertujuan untuk mencapai sesuatu; direncanakan daripada perilaku spontan.
  3. Extraversion adalah bentuk energi, emosi positif, urgensi, dan kecenderungan untuk mencari stimulasi di dengan kehadiran dan pendampingan orang lain.
  4. Agreeableness adalah kecenderungan untuk mengasihi dan kooperatif daripada curiga dan bermusuhan terhadap orang lain.
  5. Neuroticsm adalah kecenderungan untuk mengalami emosi yang tidak menyenangkan dengan mudah, seperti kemarahan, kegelisahan, depresi, atau kerentanan.

(Goldberg, 1992)

Berikut ini kami sertakan parameter yang kami buat untuk mengamati kelima aspek tersebut pada satu sampel anak yang bernama Akf (inisial) yang berumur 3,5 tahun.

Aspek Parameter Baik Biasa Kurang Keterangan
Openess Imajinasi anak v
Ide-ide yang dikeluarkan v
Kreativitas v
Conscientiousness Patuh pada jadwal v Ketika pengasuh meminta untuk berganti sesi, anak mematuhi dan mengajak teman-temannya untuk mengikuti.
Melakukan segalanya dengan teratur v
Detail dalam menjabarkan sesuatu v
Disiplin diri v Rata-rata atas
Aggreeableness Tertarik pada kehadiran orang asing v
Memiliki rasa Empati v Ketika ada yang menangis, ia seakan juga merasa sedih
Berhati lembut v
Simpatik v Ketika ada temannya yang kesulitan ia segera membantu
Extraversion Bersedia menjadi pusat perhatian v Tidak grogi ketika diamati oleh teman-temannya saat maju menyanyi, dan tidak malu.
Berbicara pada orang lain yang berbeda-beda v
Memulai percakapan v
Ya Agak Tidak Keterangan
Neuroticsm Mudah terganggu v
Moody v Moodnya masihs ering berubah-ubah sekehendak hatinya.
Mudah tersinggung V
Mudah tertekan V

Hasil pengamatan kami secara lagsung ini juga kami cross-check kepada orang tua dan pengasuh di PAUD. Secara garis besar, orang tua anak mengatakan bahwa anaknya memang pemalu, agak sulit dan agak takut kepada kehadiran orang asing. Namun ketika anak sudah mengenal orang itu, anak akan mudah dalam berinteraksi dengan orang tersebut. Ia lebih suka mendengarkan cerita, atau mendengarkan orang lain daripada bercerita, namun tidak menjadi maslaah ketika ia memang haru smaju ke depan kelas untuk bercerita. Namun, anak juga memiliki kecenderungan untuk moody (mudah berubah emosinya) suatu kali pernah menangis sejadi-jadinya namun setelah diam, beberapa saat kemudian ia sudah tertawa-tawa seperti tidak terjadi apa-apam karena memang pada dasarnya ia mengikut pada situasi di sekitarnya.                                                                                                               Sedangkan pengasuhnya di PAUD juga mengatakan hal yang senada, saat anak pertama kali masuk, ia sulit untuk lepas dari pengasuhnya. Namun setelah mengalami pengkondisian selam kurang lebih 1 minggu dengan lingkungan barunya, perlahan ia menjadi berani untuk tidak ditemani pengasuhnya. Anak lebih banyak mengamati dan bermain apa yang sedang ia inginkan, memiliki rasa ingin tahu yang relatif besar. Anak membutuhkan motivasi khusus agar mau untuk bisa menyelesaikan tugas dengan baik, contoh makan.                      Jadi dari obeservasi dan wawancara langsung itu dapat disimpulkan bahwa perkembangan kepribadian anak berbanding lurus dengan perkembangan psikososial anak. Sebagai contohnya, ketika score Agreeableness pada anak tinggi, maka ia akan cenderung untuk mengasihi orang lain, bisa berempati dan bersimpati kepada kondisi orang lain. Yang tentunya mempengaruhi pola anak untuk berinteraksi dengan orang lain.                                               Dalam perkembangan psikososial anak, kehadiran orang tua dan pengasuh sebagai figur yang di kenal dekat oleh anak didalam kehidupannya akan berpengaruh besar pada kepribadian anak, semakin anak diberikan rasa aman, diperhatikan dan dimotivasi, maka anak akan bisa berkembang dalam kemampuan psikososialnya dengan baik.                                 Dalam teori perkembangan kita juga mengenal Teori Tabula Rasa dari John Locke yang mengatakan bahwa anak adalah seperti kertas kosong, yang mana nantinya akan digambari oleh lingkungannya. Ketika kami melakukan observasi ini, kami secara tidak langsung juga membuktikan bahwa nurture atau pengasuhan juga berperan besar di dalam perkembangan diri anak. Ketika anak yang memiliki nature yang baik, namun tidak di berikan pengasuhan yang tepat, maka anak tidak akan bisa berkembang sesuai dengan potensinya. Begitupun sebaliknya, ketika anak memiliki nature yang kurang baik, namun, dengan pengasuhan yang tepat, maka anak tetap bisa berkembang bahkan melebihi anak-anak pada umumnya.

2.6  Review Jurnal

Kemandirian Anak Usia 2,5-4 Tahun Ditinjau Dari Tipe Keluarga dan Tipe Prasekolah

Pengantar

Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian manusia yang tidak dapat berdiri sendiri, artinya terkait dengan aspek kepribadian yang lain dan harus dilatih pada anak-anak sedini mungkin agar tidak menghambat tugas-tugas perkembangan anak selanjutnya. Erikson mengatakan bahwa masa kritis bagi perkembangan kemandirian berlangsung pada usia 2 sampai 3 tahun. Pada usia ini tugas utama perkembangan anak adalah untuk mengembangkan kemandirian. Kebutuhan untuk mengembangkan kemandirian yang tidak terpenuhi pada usia aekitar 2 sampai 3 tahun akan menimbulkan terhambatnya perkembangan kemandirian yang maksimal. Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul secara tiba-tiba, tetapi perlu diajarkan pada anak. Tanpa diajarkan, anak-anak tidak akan mengetahui bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Anak-anak yang tidak dilatih mandiri sejak usia dini akan menjadi individu yang tergantung sampai ia remaja bahkan dewasa nanti. Bila kemampuan-kemampuan yang seharusnya sudah dikuasai anak pada usia tertentu dan anak belum mau melakukan, maka si anak bisa dikategorikan sebagai anak yang tidak mandiri.                                                                                                                                 Kemandirian anak ditandai dengan adanya kemampuan untuk melakukan aktivitas sederhana sehari-hari. Kemandirian akan dicapai oleh anak melalui proses belajar atau pendidikan. Faktor pendidikan orang tua terhadap anak serta hubungan orang tua dengan anak adalah faktor yang mendasari perkembangan kemandirian anak. Pendidikan orang tua yang menghambat perkembangan kemandirian perlu diintervensi sejak dini. Intervensi dini ini adalah salah satu fungsi sekolah. Program prasekolah saat ini mencakup pengasuhan anak dari pagi sampai siang hari (half day) atau sampai sore hari (full day). Pengasuhan dalam prasekolah ini kemungkinan akan membawa efek bagi proses pembiasaan anak mencapai perkembangan kemandirian. Program kegiatan belajar di prasekolah seharusnya menanamkan dan menumbuhkan pentingnya pembinaan perilaku dan sikap yang dapat dilakukan melalui pembiasaan yang baik sejak dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang matang dan mandiri serta kebiasaan disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, pendidikan prasekolah harus dikembalikan kepada kepentingan anak itu sendiri dengan prinsip the best interest of the child. Suasana bermain yang menyenangkan, memahami anak secara individual, menciptakan suasana kreatif yang memungkinkan anak dapat mengekspresikan berbagai gagasannya secara bebas, semua ini adalh suasana yang kondusif bagi proses tumbuh kembang anak secara optimal. Kemandirian berkaitan erat dengan kemampuan menyelesaikan masalah. Perilaku mandiri ditunjukkan dengan adanya kemampuan untuk mengambil inisiatif dan mengatasi masalah, penuh ketekunan, memperolah kepuasan dari usahanya, serta ingin melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Kemandirian mempunyai dampak positif bagi perkembangan anak, sehingga sangat baik jika kemandirian ini diajarkan pada anak sedini mungkin dengan disesuaikan dengan kemampuan dan usia anak. Sifat mandiri sebagaiman kondisi psikologis yang lain dapat berkembang lewat latihan terus-menerus dan teratur sehingga akan menumbuhkan kebiasaan dan lama-kelamaan akan menjadi kepribadian individu.                                                                                                                                  Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua tipe keluarga yaitu tipe keluarga inti (nuclear family) dan tipe keluarga besar (extended family), sedangkan tipe prasekolah juga ada 2 macam yaitu program sekolah sehari penuh (full day) dan program sekolah paruh hari (half day). Hal ini dapat dijelaskan dalam bagan dibawah ini.

Menurut Bohannan (1963), tipe keluarga inti (nuclear family) terdiri dari suami atau ayah, istri aau ibu, anak perempuan atau anak laki-laki (saudara sekandung). Jika terdapat anggota keluarga lainnya maka dikatakan bukan lagi termasuk keluarga inti. Kemudian tipe keluarga besar, umumnya terdiri dari anggota keluarga lain selain keluarga inti, seperti kakek, nenek, paman, bibi, keponakan, atau sepupu dalam satu rumah. Pembedaan tipe prasekolah didasarkan pada lama waktu belajar di prasekolah. Tipe yang pertama adalah tipe paruh hari (half day) atau ipe regular, yang biasanya dimulai dari pukul tujuh atau setengah delapan pagi dan berakhir pada pukul sepuluh pagi. Tipe prasekolah jenis ini hanya memerlukan waktu sekitar dua setengah sampai tiga jam saja di prasekolah. Selanjutnya anak akan berada di rumah kembali bersama anggota keluarganya. Kemudian tipe kedua dari jenis prasekolah ini adalah tipe sehari penuh (full day), yang biasanya dimulai dari pukul tujuh atau setengah delapan pagi dan berakhir pada pukul tiga atau empat sore. Tipe prasekolah jenis ini memerlukan waktu sekitar delapan sampai Sembilan jam di sekolah. Setelah kegiatan regular di sekolah selesai, langsung dilanjutkan dengan pengasuhan anak dan diisi kegiatan sehari-hari dari makan siang, tidur siang dan mandi sore. Anak yang masuk dalam tipe prasekolah ini lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah.

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Mengetahui perbedaan kemandirian antara anak yang tinggal dengan tipe keluarga inti (nuclear family) dan anak yang tinggal dengan tipe keluarga besar (extended family), (2) Mengetahui perbedaan kemandirian antara anak yang mengikuti program prasekolah paruh hari (half day) dan sehari penuh (full day).

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini variable yang digunakan adalah (1) Variabel Dependen: Kemandirian, (2) Variabel Independen: Tipe Keluarga dan Tipe Prasekolah. Subjek penelitian ini adalah anak-anak yang berusia 2,5-4 tahun yang masuk pada program prasekolah (Kelompok Bermain dan TPA) paruh hari dan sehari penuh yang berlokasi di daerah Yogyakarta yaitu Kelompok Bermain Budi Mulia Belimbingsari dan Seturan, serta Kelompok Bermain dan TPA Ahsanu Amala, Lempongsari). Alat pengumpul data yang digunakan adalah Skala Kemandirian yang disusun oleh penulis dan dalam penulisan bagian-bagiannya digunakan dari gagasan-gagasan VSMS (Vineland Social Maturity Scale, dari Doll, 1965). Instrumen lain yang digunakan adalah Kuesionaer Keluarga yang berisi daftar pertanyaan yang diisi oleh orang tua untuk memperoleh data mengenai tipe prasekolah yang dimasuki anak, tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, lama waktu bekerja orang tua dan jumlah anggota keluarga yang tinggal bersama dalam satu rumah. Respon terhadap setiap pernyataan berupa rating yang dilakukan oleh orang yang mengetahui perilaku anak sehari-hari, yaitu orang tua dan gurunya.

Hasil Penelitian

Kesimpulan analisis yang dihasilkan dalam penelitian adalah (1) Anak yang bersekolah di program full day relative lebih tinggi kemandiriannya daripada anak yang bersekolah si program half day, (2) Anak yang berada dalam keluarga inti dan keluarga besr memiliki tingkat kemandirian yang sama-sama berada dalam tingkat sedang. Disini terbukti bahwa keluarga sebagai lingkungan terdekat anak belum memaksimalkan kemampuan anak dan mendidik anak untuk mandiri dalam keterampilan hidup sehari-hari sesuai tahap perkembangan anak. Kemudian, faktor banyaknya anggota keluarga dalam penelitian ini tidak memberikan kontribusi terhadap kemandirian anak. Hal ini dapat dikaitkan dengan lingkungan tempat penelitian ini berlangsung, yaitu di kota Yogyakarta, yang secara kekeluargaan masih terlihat kental dan akrab. Sehingga untuk menjadikan seorang anak yang mandiri agak sulit karena begitu banyak orang yang masih akan membantu dalam kegiatannya. Kemandirian anak sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman mereka dalam masyarakat.                                                                                          Dari hasil analisis penelitian terlihat bahwa program prasekolah full day berperan dalam meningkatkan kemandirian anak. Hal ini dikarenakan waktu anak untuk berpisah dengan orang tua lebih lama dan anak belajar untuk tidak menggantungkan pemenuhan kebutuhan sepenuhnya kepada orang tua. Anak di prasekolah full day belajar dan dituntut untuk berinteraksi dengan orang lain pengganti ibu. Pendidikan yang diajarkan di prasekolah full day mendukung anak untuk mandiri, sesuai metode pembelajaran yang biasa diterapkan dalam sekolah-sekolah tersebut, yaitu learning by doing atau learning by practice. Anak diajarkan untuk belajar melakukan segala hal dengan mandiri walaupun tetap diawasi dan diarahkan hingga menjadi suatu kebiasaan yang positif (habit learning). Pembelajaran yang diterapkan itu meliputi kegiatan belajar makan sendiri, memakai naju sendiri, menaruh sepatu dan tasnya di rak masing-masing dan masih banyak hal yang lainnya. Kemudian perbedaan dari hasil analisis penelitian in pula terlihat bahwa anak yang berada di program prasekolah half day cenderung kurang mandiri bila dibandingkan dengan yang bersekolah di program prasekolah full day. Hal ini bisa dimaklumi mengingat waktu efektif di prasekolah tersebut relatif singkat. Lalu, tampak pula di prasekolah program ini kebanyakan orang tua, terutama para ibu yang menunggui anaknya sampai kegiatan sekolah usai sehingga ketergantungan anak pada orang tua lebih besar dibandingkan dengan ank yang bersekolah pada program full day.

Pendidikan memiliki tiga agen yang sangat komplementer yaitu masyarakat, keluarga dan sekolah. Pendidikan anak pada usia dini erupakan upaya deteksi dan intervensi terhadap kelainan fisik, emosi dan mental anak. Masuknya anak ke dalam prasekolah berarti mengurangi ketergantungan anak pada ibu. Kegagalan prasekolah dalam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan kemandirian anak bisa muncul dar pihak orang tua. Tidak jarang meeka ikut campur dalam kegiatan pendidikan anaknya, sehingga anak tidak dapat mengembangkan kemandirian secara optimal. Prasekolah seharusnya juga merupakan tempat belajar bagi orang tua agar mereka dapat mendidik anaknya untuk lebih baik lagi.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada umumnya perkembangan psikososial pada masa infancy dan toddlerhood sangat berpengaruh dalam perkembangan anak. Mekipun pada dasarnya seluruh aspek perkembangan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya dilihat dari aspek psikososialnya saja, tetapi juga dilihat dalam beberapa aspek lainnya seperti aspek kognitifnya. Kembali kepada tujuan kami bahwa makalah ini dibuat agar pembaca dapat  merespon dan memahami  dengan tepat perilaku anak dari aspek psikososialnya serta pembaca dapat memberikan stimulus yang tepat dalam perkembangan psikososial anak tersebut.                                                                                                                                    Karena pada masa-masa awal perkembangan sangat berpengaruh untuk perkembangan anak selanjutnya. Hal ini dipengaruhi pula oleh faktor keluarga, lingkungan serta pendidikan yang sesuai untuk anak. Sebagai contohnya pada masa Infancy, anak membutuhkan kasih sayang yang lebh dari kedua orang tuanya, khususnya sang ibu.  Kemudian pada masa Toddlerhood, anak membutuhkan perhatian yang lebih terhadap apa yang ia lakukan sehingga orang tua dapat mengetahui apa yang disenangi oleh si anak agar orang tua dapat mengembangkan bakat yang ada pada anak.                                                                                      Dari hasil observasi kami, beberapa teori yang kami gunakan sebagai landasan atau dasar observasi ada yang relevan dan sesuai dengan hasil pengamatan kami. Akan tetapi ada juga teori yang menurut kami tidak relevan dengan keadaan sebenarnya. Contohnya: Pada tahap Phalic yaitu kepuasan anak terletak pada kelamin. Kasus Oedipus yang membunuh ayahnya kemudian menikahi ibunya. Karena kami tidak yakin bahwa seorang anak dalam usia yang bisa dikatakan belum baligh dapat melakukan seperti itu terhadap orang tuanya sendiri. Menurut kami tahapan ini lebih kepada si anak menginginkan kasih sayang yang lebih dari orang tuanya, jika anak perempuan cenderung ingin diperhatikan oleh ayahnya sedangkan anak laki-laki cenderung ingin diperhatikan oleh ibunya.                                                                      Dari makalah ini kita juga dapat mengetahui tentang berbagai teori perkembangan psikososial anak ternyata yang sesuai dengan keadaan anak yang sebenarnya pada masa infancy dan toddlerhood.

3.2 Saran

1. Dalam memperlakukan anak hendaknya dengan cara memperhatikan aspek-aspek perkembangan anak, sehingga tidak menyebabkan gangguan pada perkembangan anak.

2. Sebaiknya kita memahami fase dan komponen perkembangan anak, sehingga respon yang diberikan bisa tepat dan proses perkembangan tidak terganggu.

3. Sebaiknya sebisa mungkin kita tidak salah menafsirkan perilaku pada anak, karena pada dasarnya anak berperilaku sesuai dengan kapasitas kemampuan dirinya. Sebagai orang lebih tua sebaiknya kita memberi  fasilitas dan arahan secara halus dan baik, sehingga anak dapat menerima  stimulus tersebut dengan baik.

4. Dengan mengetahui perkembangan anak dalam segi psikososial kita dapat lebih memahami perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Goldberg, L. R. 1992. The development of markers for the Big-five factor structure. Journal of Personality and Social Psychology. 59(6): 1216-1229.

Goldberg, L. R. 1993. The structure of phenotypic personality traits. American Psychologist. 48, 26-34.

De Fruyt, F., McCrae, R. R., Szirmák, Z., & Nagy, J. 2004. The Five-Factor personality inventory as a measure of the Five-Factor Model: Belgian, American, and Hungarian comparisons with the NEO-PI-R. Assessment. 11: 207-215.

Thompson, E.R. 2008. Development and validation of an international English big-five mini-markers, Personality and Individual Differences. 45(6):  542 – 548

Gosling, S. D., Rentfrow, P. J. & Swann Jr, W. B. 2003. A very brief measure of the Big-Five personality domains, Journal of Research in Personality. 37 (6): p504–528

Papalia, Diane, E., Sally Wendkos Olds., Ruth Duskin Feldman. 2002. A Child’s World: Infancy Through Adolscense. McGraw-Hill: New York, USA.

Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Erlangga: Jakarta.

Mönks, F.J., A.M.P. Knoers, dan Siti Rahayu Haditomo. 2006. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Gadjah Mada Univesity Press: Yogyakarta.

Dhamayanti, Anggreswari Ayu dan Kwartarini Wahyu Yuniarti. 2006. Sosio Sains, Kemandirian Anak Usia 2,5-4 Tahun Ditinjau Dari Tipe Keluarga dan Tipe Prasekolah. Fakutas Psikologi Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.

Hurlock, EB. 1972. Child Development. McGraw-Hill Kogakusha: Japan.

Bee, Helen L. Boyd Denise. 2007. The Developing Child. Pearson Education: USA.

Feist Jess, Feist Gregory J. 2006. Theories of Personality. Mc-Graw Hill: Singapore.

http: mommygagdet.com Diakses pada tanggal 19 November 2009


0 Responses to “PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA INFANCY DAN TODLERHOOD”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: