06
Apr
10

ANALISIS KASUS EKSPLOITASI ANAK

  1. ASPEK PANCASILA

Menurut UURI No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Anak memiliki hak dan kewajiban sebagai berikut : Bab III tentang Hak Anak, Pasal 4 : “Setiap anak berhak untuk dapat hidup,tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

Mungkin agak ketinggalan jika saya membahas hal ini, namun permasalahan ini masih tetap abadi di tanah air kita. Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan. Seharusnya penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia dalam hal ini Hak – Hak Anak, merupakan suatu keharusan dan tidak perlu ada tekanan dari pihak manapun untuk melaksanakannya. Namun, sungguh disayangkan kenyataannya justru sebaliknya.

Di era serba semrawut ini, eksploitasi anak marak terjadi. Eksploitasi anak dan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak merupakan masalah yang kompleks, berdimensi sosial, ekonomi dan budaya. Dari data statistik, sekira 6 % anak Indonesia usia 10-14 tahun, atau tak kurang dari 1,6 juta anak jadi bagian dari angkatan kerja. Data Organisasi Buruh Internasional ( ILO ) lebih heboh lagi. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 4,2 juta anak terlibat dalam pekerjaan berbahaya atau berisiko tinggi. Sekira 1,5 juta diantaranya adalah anak perempuan. Sedangkan data hasil survei Universitas Indonesia dan Program Penghapusan Buruh Anak ILO, mengungkap, dari sekira 2,6 juta Pembantu Rumah Tangga ( PRT ) di Indonesia saat ini, 34,83 % diantaranya anak-anak, dan 93 % diantaranya adalah anak perempuan.

Pancasila tidak memberikan ruang untuk eksploitasi anak-anak. Pancasila, pada sila kedua berbunyi : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yakni makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa,yang memiliki potensi, pikir, rasa, karsa dan cipta. Karena potensi ini manusia mempunyai dan menempati kedudukan dan martabat yang tinggi. Kata adil mengandung makna bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas ukuran / norma-norma yang obyektif, dan tidak subyektif sehingga tidak sewenang-wenang. Kata beradab berasal dari kata adab, artinya budaya. Jadi adab mengandung arti berbudaya, yaitu sikap hidup, keputusan dan tindakan yang selalu dilandasi oleh nilai-nilai budaya, terutama norma sosial dan kesusilaan / moral. Jadi, kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung pengertian adanya kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungannya dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya. Salah satunya butir Pancasila sila 2 mengatakan  bahwa kita harus mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Ini mengindikasikan bahwa Pancasila sangat menentang eksploitasi anak (child exploitation). Sebab perbuatan tersebut merupakan sikap yang tidak adil dan tidak beradab terhadap anak yang juga memiliki hak untuk hidup sejahtera seperti rakyat Indonesia pada umumnya. Disamping itu, konsitusi Pancasila melarang keras melibatkan dan keterlibatan anak dalam dunia yang penuh dengan kekerasan, baik itu kekerasan mental maupun kekerasan fisik.

Makna adil yang telah disebutkan di atas cukup membuat saya berpikir. Suatu keputusan diambil dengan ukuran objektivitas sehingga tidak menimbulkan kesewenang – wenangan. Keputusan untuk “mempekerjakan” anak pasti merupakan keputusan yang sulit bagi orang tua manapun. Namun sungguh benar – benar tidak adil apabila orang tua merenggut dunia anak – anak mereka, hanya demi alasan ekonomi. Seharusnya asas kepentingan yang terbaik bagi anak adalah bahwa semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan orang tua berorientasi pada kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan yang utama. Selain itu orang tua juga harus menghargai asas penghargaan terhadap pendapat anak, yaitu penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya.

Namun, karena sekarang eksploitasi anak semakin merajalela, sudah sewajarnya apabila upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Bagaimana peran pemerintah, masyarakat dan orang tua dalam mengatasi eksploitasi pada anak. Sebagai regulator pemerintah mempunyai peran yang sangat penting dalam menetapkan kebijakan yang menguntungkan dan berpihak pada penegakan hak asasi manusia terutama hak anak. Pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pihak yang mengeksploitasi anak dapat dikenakan pidana yang sesuai dan adil.

Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif, undang-undang ini meletakkan kewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas-asas sebagai berikut:
a.nondiskriminasi;
b. kepentingan yang terbaik bagi anak;
c. hak untuk hidup,kelangsungan hidup,dan perkembangan;dan
d. penghargaan terhadap pendapat anak.

Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu peran masyarakat, baik melalui lembaga perlindungan anak, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media massa, atau lembaga pendidikan. Tujuan dari perlindungan anak ini adalah untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.

Jadi, pada dasarnya proses mencapai kesejahteraan haruslah dengan cara – cara yang berperikemanusiaan. Apapun yang terkandung di dalam proses – proses tersebut harus etis dan tidak boleh merugikan manusia individual manapun, jangan sampai kita mengeksploitasi anak  hanya demi kepentingan diri kita masing – masing, karena eksploitasi anak merupakan tindakan yang sangat tidak berkemanusiaan.

2. ASPEK PSIKOLOGIS

Masa kanak – kanak dibagi menjadi 2 tahap:

  1. Masa Kanak – kanak Awal ( early childhood)

Merupakan periode perkembangan yang terjadi mulai akhir masa bayi hingga sekitar usia 5 atau 6 tahun; kadang periode ini disebut tahun – tahun prasekolah. Selama waktu tersebut, anak kecil belajar menjadi mandiri dan merawat diri sendiri, mereka mengembangkan keterampilan kesiapan sekolah ( mengikuti perintah, mengenali huruf) dan mereka menghabiskan waktu berjam – jam untuk bermain dengan teman sebaya. Kelas satu Sekolah Dasar biasanya menandai berakhirnya periode ini.

  1. Masa Kanak – Kanak tengah dan akhir ( middle and late childhood)

Merupakan periode perkembangan yang dimulai dari sekitar usia 6 hingga usia 11 tahun; kadang periode ini disebut periode sekolah dasar. Anak menguasai keterampilan membaca, menulis, aritmatik, dan mereka secara formal dihadapkan pada dunia yang lebih besar dan budayanya. Prestasi menjadi tema sentral yang lebih dari dunia anak, dan kontrol diri meningkat.

Papalia (1995), seorang ahli perkembangan manusia dalam bukunya Human Development, mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain anak-anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri. Dengan bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian baru dan belajar (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang. Selain itu bermain juga didefinisikan sebagai semua kegiatan anak yang dirasakan olehnya menyenangkan dan dinikmati (pleasurable and enjoyable).

Telah disebutkan di atas bahwa dunia anak adalah dunia bermain, namun sayang sekali dewasa ini banyak anak yang kehilangan dunia bermainnya karena dieksploitasi. Eksploitasi dalam kamus ilmiah berarti pemerasan atau penarikan keuntungan secara tidak wajar. Eksploitasi terhadap anak  adalah mempekerjakan seorang anak dengan tujuan ingin meraih keuntungan. Eksploitasi anak dapat berupa: Eksploitasi ekonomi, penyalahgunaan narkoba,eksploitasi & kekerasan seksual, penjualan, perdagangan & penculikan anak,eksploitasi dalam bentuk lain. Faktor – faktor adanya eksploitasi anak antara lain :

  1. Tekanan ekonomi

Karena tekanan ekonomi ini orangtua memaksa anaknya untuk menghidupi sendiri dan memenuhi kebutuhan sekolah sendiri.

  1. Tekanan psikologis

Beberapa mengalami stres karena kurang kasih sayang, diacuhkan orang tua dan merasa orang tua mereka terlalu banyak aturan yang menekan perasaan mereka sama sekali tidak ada kebebasan.
Sedangkan tekanan dari luar yang mendukung mereka ketika mendapatkan tekanan dari rumah:
1. Pengaruh teman-teman sekolah yang mulai mengenalkannya dengan diskotik.
2. Pengaruh teman-teman kerja (pabrik, pub, billyard) yang mengenalkan pada kerja tambahan untuk mendapatkan uang lebih dengan menemani para tamu untuk minum atau ngedrug.
3. Dijebak baik oleh teman sendiri, dengan menawarkan pekerjaan. Eksploitasi anak mempunyai dampak yang sangat buruk dikemudian hari.

Eksploitasi anak-anak dapat berakibat buruk terhadap perkembangan jiwa meraka, karena meraka bekerja pada lingkungan orang dewasa.

Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua khususnya pemerintah jangan cuma memperingati hari anak nasional yang jatuh pada 22 juli dengan seremonial yang mungkin memakan biaya yang cukup banyak tapi mari kita merenung dan menatap kebelakang bagaimana kondisi generasi penerus bangsa. Semua orang pasti menggiginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Oleh karena itu, berikanlah yang terbaik untuk mereka. Jangan biarkan mereka kepanasan ditengah teriknya sang mentari yang dihiasi dengan gumbalan asap kendaraan, tetapi biarkanlah mereka dengan dunianya sendiri, dunia yang penuh dengan keceriaan dan beraneka macam permainan. Biarkan mereka dengan sejuta mimpinya untuk menatap hari esok yang lebih baik .


0 Responses to “ANALISIS KASUS EKSPLOITASI ANAK”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: