06
Apr
10

ANALISIS KASUS DEPRESI REMAJA

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial.

Kehidupan yang penuh stres pada saat ini seperti adanya bencana yang terjadi dimana-mana, dan berbagai peristiwa hidup yang menyedihkan dapat menyebabkan remaja mengalami depresi. Perlu diketahui bahwa remaja pun bisa kena depresi dan kalau tidak diatasi, episode depresi dapat berlanjut hingga remaja tersebut dewasa. Tetapi yang paling membahayakan dari depresi adalah munculnya ide bunuh diri atau melakukan usaha bunuh diri. Hinton (1989) mengatakan bahwa meskipun depresi yang diderita tidak parah namun risiko untuk bunuh diri tetap ada.

Depresi merupakan suatu gangguan mental yang spesifik yang ditandai dengan adanya perasaan sedih, putus asa, kehilangan semangat, merasa bersalah, lambat dalam berpikir, menurunnya motivasi untuk melakukan aktivitas, dll. Depresi cenderung diderita oleh remaja karena remaja cenderung memperhatikan citra tubuhnya, rentan mengalami peristiwa yang penuh stres, mengalami tekanan dalam penyesuaian diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Hinton (1989) mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa perubahan hormonal, perubahan tingkat dan pola hubungan social sehingga remaja cenderung mempersepsikan orang tua secara berbeda. Selain itu, masa pertumbuhan remaja, jarang yang berlangsung dengan lancar. Banyak masalah yang terjadi dan bisa makin serius hingga menyebabkan depresi yang berkepanjangan. Remaja yang mengalami depresi akan menjadi apatis dan menyalahkan dirinya sendiri sehingga merasa enggan untuk mencari pertolongan. Depresi dapat mengakibatkan dampak yang merugikan bagi si penderita seperti terganggunya fungsi sosial, fungsi pekerjaan, mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, mengalami ketidak berdayaan yang dipelajari, bahkan hingga tindakan bunuh diri yang menyebabkan kematian.  Remaja hanya mengurung diri di kamar, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya semangat hidup, hilangnya kreativitas, antusiasme dan optimisme. Dia tidak mau bicara dengan orang-orang, tidak berani berjumpa dengan orang-orang, berpikir yang negative tentang diri sendiri dan tentang orang lain, hingga hidup terasa sangat berat dan melihat masalah lebih besar dari dirinya. Remaja jadi pesimis memandang hidupnya, seakan hilang harapan, tidak ada yang bisa memahami dirinya, dan sebagainya.

Dalam kasus ini,Bambang mengalami keadaan ia merasa sangat tertekan dengan keadaan di sekolahnya. Dimana ia merasa tidak nyaman dengan perilaku teman – temannya hingga akhirnya dia meminta kepada gurunya agar boleh pindah ke kelas lain.Tapi permintaan ini tidak dipenuhi dan sang guru justru menuding Bambang tak bisa menyesuaikan diri. Tudingan gurunya ini sudah jelas semakin membuat Bambang tidak nyaman dengan sekolahnya. Belum lagi orang tuanya tidak pernah menanyakan perihal kegundahannya tersebut. Semua itu membuat Bambang sangat merasa tertekan, meskipun dia tidak pernah memperlihatkan pada banyak orang.

Sepintas, sebab-musabab langkah nekat Bambang Surono terhitung sepele. Tapi sejatinya tidak demikian. Perkara yang dibilang sepele bisa jadi amat serius bagi remaja yang sedang tumbuh. Hormon tubuh mereka sedang gonjang-ganjing sehingga mereka gampang tersodok kepuncak kerisauan. Dalam ilmu perilaku, bunuh diri menunjukkan sudah tidak adanya pengharapan. Biarpun problem yang dihadapi begitu dahsyat, orang tak bakal bunuh diri jika masih punya harapan. Begitu tali harap putus, nyawa tak lagi berharga. Bambang agaknya menganggap jalan sudah buntu. Orang tua dan guru tak bisa menolong. Teman-teman sebaya, ironisnya, juga cenderung meledek kawan yang sedang kesusahan. Padahal remaja pada dasarnya tak menuntut terlalu banyak. Mereka hanya butuh teman dan pendengar yang baik. Pendengar yang menawarkan empati-bukan yang menghardik, memarahi, dan memaksakan keinginan mereka kepada mereka.

Dua dari beberapa ciri depresi adalah munculnya perasaan sedih setiap hari dan kehilangan minat pada aktivitas dan hal ini hampir terjadi setiap hari. Dalam kasus ini meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit kesedihan yang dialami Bambang namun dapat disimpulkan bahwa ia merasa sedih dan merasa tidak nyaman dengan sekolahnya, dan ini membuat ia malas sekolah dan akhirnya sering membolos.

Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi

seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka. Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih

tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Jelas sekali dalam kasus Bambang ini, dia belum mampu mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal. Bambang sebenarnya jelas telah melakukan proses berpikir dalam setiap masalah yang ia hadapi, namun semakin ia berpikir semakin ia tidak mampu mendapatkan jawaban atas permasalahan yang sedang ia hadapi. Permasalahan – permasalahan tersebut ia represi terus menerus hingga akhirnya ia tidak mampu lagi menahannya. Tapi dalam proses berpikir itu Bambang belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi, dia hanya melihat masalahnya dari sudut pandangnya sendiri.  Dia belum mampu berpikir luas, belum mampu melihat keadaan luar yang jelas lebih menyedihkan daripada hidupnya.  Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana mengakhiri penderitaannya dengan segera, dan bunuh dirilah yang menjadi keputusannya, tanpa memikirkan masa depannya.

Depresi pada remaja harus segera ditangani karena kalau berkepanjangan, dapat mengakibatkan bunuh diri yang berujung pada kematian seperti pada kasus ini.  Makin lama seseorang mengalami depresi, makin lemah daya tahan mentalnya, makin habis energynya, makin habis semangatnya, makin terdistorsi pola pikirnya sehingga dia tidak bisa melihat alternative solusi, tidak bisa melihat ke depan, tidak menemukan harapan, tidak bisa berpikir positif. Ini menyebabkan remaja melihat bahwa bunuh diri menjadi solusi satu-satunya.

Sebenarnya masalah depresi akan lebih baik ditangani dengan psikoterapi karena dengan psikoterapi, remaja dibantu untuk menemukan akar permasalahannya dan melihat potret diri secara lebih obyektif. Psikoterapi ditujukan untuk membangun pola pikir yang obyektif dan positif, rasional dan membangun strategi / mekanisme adaptasi yang sehat dalam menghadapi masalah. Perlu diingat bahwa keterbukaan remaja untuk mengemukakan masalah yang sedang dihadapinya akan membantu proses penyembuhan dirinya. Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi depresi pada remaja, yaitu:

–          membantu remaja yang sedang bermasalah untuk memperbaiki distorsi kognitif dalam memandang diri dan masa depan sehingga akan memunculkan suatu kekuatan dari dalam dirinya bahwa dirinya mampu untuk mengatasi masalah tersebut.

–          membantu remaja memahami, mengidentifikasi perasaan, meningkatkan rasa percaya diri, meningkatkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengatasi konflik yang sedang dialami.

Banyak faktor yang menentukan keberhasilan terapi seperti usia remaja saat awal mengalami depresi, beratnya depresi, motivasi, kualitas terapi, dukungan orangtua, kondisi keluarga (apakah orangtua juga menderita depresi atau tidak, ada atau tidak konflik dengan keluarga, kehidupan yang penuh stres atau tidak, dsb). Selain itu, juga diperlukan terapi keluarga untuk mendukung kesembuhan remaja penderita depresi. Mengapa? Karena dalam terapi keluarga, keluarga remaja yang depresi ikut mendiskusikan bagaimana cara yang terbaik untuk mengurangi sikap saling menyalahkan, orangtua remaja juga diberi tahu seluk beluk kondisi anaknya yang depresi sehingga diharapkan orangtua dan anggota keluarganya akan membantu dalam mengidentifikasi gejala-gejala depresi anaknya dan menciptakan hubungan yang lebih sehat. Selain keluarga, remaja juga pasti membutuhkan sahabat dan di sinilah peran kita sebagai sahabat mereka, jadi jangan pernah meninggalkan mereka dalam keadaan apapun, jadilah pendengar yang baik bagi mereka, jangan pernah menggurui mereka.

DAFTAR PUSTAKA

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2003/10/20/KSH/mbm.20031020.KSH90932.id.htm

http://www.e-psikologi.com/epsi/individual_detail.asp?id=481

www.tempo.co.id/medika/arsip/042001/pus-3.html


0 Responses to “ANALISIS KASUS DEPRESI REMAJA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: