10
Apr
17

Please deh

“Pi, iso ngelesi psikotes men ketompo kerjo ora? ”

Baru saja mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang teman. Baru kali ini ia menghubungi saya dan duh dik pertanyaannya bikin saya nggak berhenti nyengir.
Jelas saya tidak bisa. Itu berbenturan dengan kode etik psikologi yang harus saya patuhi. Jelas saya tidak bisa, karena berhubungan pula dengan kepribadian seseorang. Mana bisa mengubah kepribadian dalam waktu cepat. Jelas tidak bisa, karena psikotes bentuknya macam – macam. Dan penilaian juga berdasarkan konsistensi hasil antar tes, padahal saya nggak ngerti perusahaan akan pakai tes apa (setiap perusahaan beda psikotesnya). Kalau pun saya bisa, saya tidak sebaik itu membaginya kepada orang lain. Mendingan saya pakai sendiri biar lolos psikotes perusahaan yang saya inginkan.
So, please don’t ask me that silly question!
Advertisements
04
Feb
17

inner-child

Gambar ini menarik sekaligus mengusik saya. Saya mendapatkannya dari instagram Anggun C. Sasmi, saya tidak tahu benar siapa yang membuatnya. Namun, sungguh gambar ini menarik, mengusik, dan sangat menyentuh bagi saya.

Inner child

Gambar ini menjadi salah satu alasan saya mengapa akhir – akhir ini saya lebih sering membaca buku dengan tokoh utama anak kecil. Saya ingin kembali menjadi anak kecil. Atau setidaknya, memunculkan kembali sifat kanak – kanak dalam diri saya. Menjadi dewasa memaksa saya menjadi penuh curiga terhadap sesama. Menjadi dewasa memaksa saya mengekang begitu banyak keinginan saya. Menjadi dewasa mengekang imajinasi saya. Menjadi dewasa mengurangi segala keingin tahuan saya. Menjadi dewasa membatasi begitu banyak aspek dalam hidup saya.

Saya ingin memunculkan kanak – kanak saya. Hidup penuh dengan segala keingin tahuan. Hidup penuh kepolosan, berteman dengan semua orang tanpa prasangka. Hidup imajinasi dan membawa kedamaian pada dunia.

25
Jan
17

Jadi begini, sore ini hujan. Kau tahu?

Biasanya sore hujan seperti ini kamu menyeduh tehmu aku menyeduh kopi pahitku

Kamu terus saja mencibirku, katamu mana yang lebih pahit kopiku atau hidupku

Jawabanku hanya satu, tersenyum sinis sambil memberi garam pada tehmu

Itu balasanku, kataku

Ini bukti bahwa satu tindakan lebih dari kalimat yang beribu

Biasanya sore hujan seperti ini kamu dan aku akan bercerita tentang rindu dan sendu

Biasanya sore hujan seperti ini kamu dan aku akan bercerita tentang buku

Membaca buku adalah kegemaranku dan kegemaranmu

Keinginanku dan keinginanmu satu, membuat rumah dengan perpustakaan penuh buku

Makan buku, mandi buku, minum buku akan jadi keseharian kamu dan aku

Pembicaraan ini terjadi dulu.

 

Jadi begini, sore ini hujan. Kau tahu?

Aku menyeduh kopiku, tapi tidak lagi ditemani tehmu.

Aku menyeduh kopiku, menulis puisi rindu tentang kamu dan aku.

03
Nov
16

Kesedihan

Pagi ini saya ke makam Bapak. Saya menyadari sesuatu, ada satu kesedihan mendalam yang ternyata tidak bisa saya bicarakan sama sekali dengan orang lain. Ada kesedihan mendalam yang tak terkatakan. Ada kesedihan mendalam yang hanya bisa saya rasakan. Ada kesedihan mendalam yang harus saya cari tahu sendiri maknanya tanpa mencari dan meminta orang lain untuk membantu menelaah maknanya. Ada kesedihan mendalam dengan luka yang menganga dan tak akan ada satu orang pun yang bisa menutupnya.

KESEDIHAN AKAN KEHILANGAN SOSOK SEMPURNA DALAM HIDUP SAYA.

Saya sadar tidak akan ada yang suka jika saya berbicara tentang kesedihan saya. Seringkali saya mencoba berbicara karena berat rasanya, tetapi orang hanya ingin mendengar cerita bahagia. Saya memilih untuk tidak meneruskan cerita. Begitu pun selanjutnya dan selanjutnya. Kesedihan itu masih ada.

 

02
Oct
16

Bicara

Akhir – akhir ini saya merasa terlalu banyak bicara. Baik jika pembicaraan saya bermakna, nyatanya tidak bermakna sama sekali – omong kosong biasa orang menyebutnya. Tidak hanya di dunia nyata saya banyak bicara, tetapi juga di dunia maya. Sesungguhnya saya pun jijik dengan apa yang saya lakukan dan bicarakan. Pantas saja beberapa orang membenci saya karena saya terlalu banyak bicara – bahkan membicarakan orang lain.

Menjadi pertanyaan, mengapa saya menjadi seperti ini? Entahlah, mungkin saya lelah berpura – pura dewasa dan mengerti semua. Atau mungkin lingkungan juga yang menarik anak kecil dalam diri saya keluar. Ah alasan saja.

Baru saja saya mencari informasi tentang beberapa orang di kantor saya – kepo kata anak jaman sekarang. Kepo memang keahlian saya. Saya tercengang, mereka hebat tanpa banyak bicara. Mereka hebat tanpa banyak mengumbar kata di dunia maya atau di dunia nyata. Melalui tulisan mereka, saya tahu mereka cerdas dengan cara mereka. Saya malu, amat sangat malu HAHAHAHA.

Sementara saya terlalu banyak beromong kosong di dunia nyata dan dunia maya, mereka bergerilya dan mencetak karya. Sudah, setelah ini saya akan mencoba banyak berdiam saja.

05
Sep
16

Egoistic

Two fridays in a row I went to play with my office friends. In my way back to home, I realized that I spent too much time with my friends and less time for my mother. One week ago, my mother said that she was feel lonely to my friend because I rarely stay at home and having a little chit – chat with her. Ah, it hurts me so much.

Yah, everyday I go to my office at 9 am and go home at 10 pm, of course I feel tired and just go to sleep. So, friday  should be the time when I can have little chit-chat with my mother. Although, just accompanied her to watch “Anak Jalanan” and “Senandung.” At that time, I realized how egoistic person I am.

I always search for my own happiness, I forget that my mother needs me the most for her happiness.

14
Jul
16

Last night dream

My father hugged me tightly. He said that he would never leave me and stayed beside me forever.