03
Nov
16

Kesedihan

Pagi ini saya ke makam Bapak. Saya menyadari sesuatu, ada satu kesedihan mendalam yang ternyata tidak bisa saya bicarakan sama sekali dengan orang lain. Ada kesedihan mendalam yang tak terkatakan. Ada kesedihan mendalam yang hanya bisa saya rasakan. Ada kesedihan mendalam yang harus saya cari tahu sendiri maknanya tanpa mencari dan meminta orang lain untuk membantu menelaah maknanya. Ada kesedihan mendalam dengan luka yang menganga dan tak akan ada satu orang pun yang bisa menutupnya.

KESEDIHAN AKAN KEHILANGAN SOSOK SEMPURNA DALAM HIDUP SAYA.

Saya sadar tidak akan ada yang suka jika saya berbicara tentang kesedihan saya. Seringkali saya mencoba berbicara karena berat rasanya, tetapi orang hanya ingin mendengar cerita bahagia. Saya memilih untuk tidak meneruskan cerita. Begitu pun selanjutnya dan selanjutnya. Kesedihan itu masih ada.

 

02
Oct
16

Bicara

Akhir – akhir ini saya merasa terlalu banyak bicara. Baik jika pembicaraan saya bermakna, nyatanya tidak bermakna sama sekali – omong kosong biasa orang menyebutnya. Tidak hanya di dunia nyata saya banyak bicara, tetapi juga di dunia maya. Sesungguhnya saya pun jijik dengan apa yang saya lakukan dan bicarakan. Pantas saja beberapa orang membenci saya karena saya terlalu banyak bicara – bahkan membicarakan orang lain.

Menjadi pertanyaan, mengapa saya menjadi seperti ini? Entahlah, mungkin saya lelah berpura – pura dewasa dan mengerti semua. Atau mungkin lingkungan juga yang menarik anak kecil dalam diri saya keluar. Ah alasan saja.

Baru saja saya mencari informasi tentang beberapa orang di kantor saya – kepo kata anak jaman sekarang. Kepo memang keahlian saya. Saya tercengang, mereka hebat tanpa banyak bicara. Mereka hebat tanpa banyak mengumbar kata di dunia maya atau di dunia nyata. Melalui tulisan mereka, saya tahu mereka cerdas dengan cara mereka. Saya malu, amat sangat malu HAHAHAHA.

Sementara saya terlalu banyak beromong kosong di dunia nyata dan dunia maya, mereka bergerilya dan mencetak karya. Sudah, setelah ini saya akan mencoba banyak berdiam saja.

05
Sep
16

Egoistic

Two fridays in a row I went to play with my office friends. In my way back to home, I realized that I spent too much time with my friends and less time for my mother. One week ago, my mother said that she was feel lonely to my friend because I rarely stay at home and having a little chit – chat with her. Ah, it hurts me so much.

Yah, everyday I go to my office at 9 am and go home at 10 pm, of course I feel tired and just go to sleep. So, friday  should be the time when I can have little chit-chat with my mother. Although, just accompanied her to watch “Anak Jalanan” and “Senandung.” At that time, I realized how egoistic person I am.

I always search for my own happiness, I forget that my mother needs me the most for her happiness.

14
Jul
16

Last night dream

My father hugged me tightly. He said that he would never leave me and stayed beside me forever.

15
Jun
16

Dear Lord, Could You Just Send My Father Back?

Euro 2016 is happening. Back then, I always watched soccer with my one and only father. Now, since he was passed away 8 months ago, I don’t have friends to watch and discuss it. It hurts me deeply. It makes me feel so alone. Not only about soccer, I always discussed everything with him. Now, I have to stand alone. I know I still have mother and sister, but I can’t depend on them. I must be mature with them and can’t act like a little girl anymore.

Ah, Dear Lord I want my father back. I need to talk to him. I need to lean on his shoulder. I need to hug him. I need everything from him.

Could You just send my father back?

29
Feb
16

Konflik Dalam Sebuah Hubungan

Seperti yang sudah kita tahu, menjalin hubungan yang lama pasti akan timbul konflik yang tidak dapat dihindari. Konflik dapat terjadi karena berbagai macam alasan, tetapi seringkali karena ketidakadilan dalam menjalin hubungan. Mengapa ketidakadilan dapat menyebabkan konflik diterangkan dengan sangat baik melalui apa yang disebut para peneliti sebagai Social Exchange Theory. Berdasarkan teori ini, pernikahan dapat kita lihat seperti sistem barter. Masing – masing dari kita menginginkan keuntungan dari pasangan. Kita juga mengerti bahwa kita juga harus memberikan sesuatu sebagai timbal balik ketika sudah menerima keuntungan dari pasangan. Seperti, melakukan atau mengatakan sesuatu yang baik untuk pasangan.

Pasangan membuat pertukaran untuk menjaga hubungan mereka tetap seimbang (adil). Kita mungkin akan melakukan pengorbanan yang besar demi hubungan kita dan berharap mendapatkan pengorbanan yang sama dari pasangan kita. Ketika pasangan merasakan adanya keseimbangan, dimana, apa yang kita berikan sama dengan apa yang kita dapat, hubungan kita akan terasa baik. Bagaimanapun, ketika salah seorang pasangan merasa ia memberikan lebih dari apa yang ia terima, ketidak seimbangan dalam hubungan menjadi perhatian dari salah satu pasangan, dan menjadi alasan adanya konfrontasi.

Dilihat dari perspektif ini, adu argumen adalah sesuatu yang baik untuk sebuah hubungan. Argumen adalah kendaraan utama yang bisa meningkatkan kualitas sebuah hubungan. Jika kita tidak bahagia dengan apa yang dilakukan oleh pasangan kita, hanya dengan berkonfrontasi kita dapat memberikan kesempatan agar kebutuhan kita dimengerti. Sehingga dengan informasi tersebut, pasangan dapat menyesuaian diri dengan baik dalam hubungan mereka sehingga kebutuhan dapat terpenuhi. Adu argumen juga membuat pasangan mau bersama – sama menyelesaikan permasalahan, dan apabila mereka berhasil dengan hal itu, dapat membuat mereka semakin dekat satu sama lain.

Jelas, tidak selalu mudah melihat keuntungan dari pertengkaran. Sebuah hubungan dapat melalui itu jika pasangan merasa bahwa mereka cocok satu sama lain. Misalnya, berhadapan dengan situasi krisis atau memasuki tahapan hidup yang baru, seperti memulai membangun sebuah keluarga dapat membuat seseorang merasa stres. Dalam tahap ini, tekanan masing – masing pasangan cukup berpengaruh pada hubungan. Beberapa pasangan mungkin percaya bahwa hubungan mereka memiliki masalah besar yang tidak dapat diatasi. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak lagi saling mencintai atau cocok satu sama lain. Kita mungkin berpikir pasangan lain tidak berargumen sebanyak kita, atau mereka lebih baik dalam mengatasi permasalahan daripada kita. Bagaimanapun,  menghadapi konflik yang besar adalah normal dan terjadi pada semua pasangan dan kita mungkin tidak lebih baik atau tidak lebih buruk dari orang lain. Faktanya, meskipun kita tidak benar – benar tahu apa yang terjadi di balik pintu yang tertutup, terdapat kesempatan besar dimana pasangan di lingkungan sosial kita sama – sama memiliki argument yang sama atau bahkan lebih sering daripada kita.

Realitanya pasangan yang tidak pernah memiliki konflik kecil memiliki masalah yang lebih besar daripada pasangan yang beradu argumen secara teratur. Mereka mungkin memiliki permasalahan terkait dengan kepercayaan dan kejujuran, atau secara emosi tidak berhubungan sehingga mereka menjaga interaksi mereka di permukaan. Atau mereka menghindari konflik karena mereka meyakini bahwa permasalahan mereka tidak dapat diatasi, atau gaya komunikasi mereka mungkin terganggu sehingga konfrontasi yang kecil dapat menyebabkan pertengkaran yang besar. Pasangan lain, misalnya mereka yang memiliki pandangan tradisional mengenai peran laki – laki dan perempuan mungkin menghindari isu – isu tertentu. Apapun alasannya, ketika pasangan menutup sebuah isu untuk menghindari konflik, beberapa aspek dari hubungan mereka yang mengakibatkan ketidakharmonisan tetap tidak akan diatasi. Sehingga, pasangan yang merasa tidak bahagia tidak merasa memiliki kekuatan untuk memperbaiki hubungan mereka.

Bukan berarti, kita memberi masukan bahwa seberapa sering kita berargumen bukanlah suatu masalah. Jelas, jika pasangan merasa aneh satu sama lain, atau dapat dilihat bahwa situasi tersebut dapat mengakibatkan sebuah argumen, pernikahan mungkin memiliki beberapa permasalahan yang tidak teratasi. Di sana terdapat hubungan antara seberapa sering mereka berargumen dan kesehatan psikologis dari hubungan dan pasangan. Jika terlalu banyak argument, terutama jika argument tersebut tidak pernah memberikan solusi pada suatu masalah atau catatan positif, beberapa bukti menyebutkan bahwa ada kemungkinan bahwa hubungan tersebut tidak akan berlangsung lama.

Jadi, bagaimana pasangan tahu apakah sudah terlalu banyak pertengkaran dalam hubungan mereka? Semuanya bergantung pada pasangan itu. Beberapa orang memiliki toleransi yang tinggi dengan konfrontasi. Namun, ada juga orang yang tidak nyaman dengan banyak argumen, jadi perkara sedang pun sulit untuk mereka atasi. Beberapa pasangan mungkin tidak berargumen terlalu banyak, tetapi satu atau dua argument mungkin mengancam keseluruhan kehidupan pernikahan mereka. Semua pemikiran kita tentang pernikahan yang tetap baik, kita tidak perasaan buruk setelah itu dan kita menikmati kehadiran pasangan kita dalam kedamaian. Sebagai tambahan, jika kita bisa menuntaskan solusi yang bisa dikerjakan sebagai hasil dari argument kita, maka kita mungkin bertengkar dengan pasangan kita sesuai kebutuhan.

https://www.psychologytoday.com/blog/so-happy-together/201602/conflict-in-relationships

24
Oct
14

Akhirnya..

Halloooo, saya sudah ujian pendadaran skripsi.

Puji Tuhan, akhirnya setelah perjuangan panjang selama 5 tahun, saya dinyatakan lulus. Iya belum bener – bener bergelar sarjana psikologi sih tetapi paling tidak sudah mengarah ke situ hahaha. Saya bahagia, jelas. Lega apalagi? Ah bagi seorang mahasiswa yang lulus lama seperti saya, harga sebuah kelulusan itu besar sekali. Setidaknya saya bisa sedikit membahagiakan orang tua saya. Setidaknya saya bisa menjawab dengan percaya diri ketika ditanya, “sudah lulus?” Wow, kemarin-kemarin ketika saya ditanya seperti itu dan menjawab dengan, “belum” rasanya campur aduk antara malu, merasa harga diri terinjak-injak, stres, wis ngonolah pokokke.

Bercerita tentang skripsi saya, saya masih ingat betul bagaimana sulitnya mencari subjek, Prambanan-Kalasan-Godean-Sedayu-Kalasan lagi juga saya jabanin dalam sehari. Belum kalau ditolak mentah-mentah, sakitnya tuh disini *tunjuk dengkul*. Terus, waktu analisis data yang mana saya nggak ngerti apa-apa masalah analisis data, mana datanya nggak jelas lagi. Terus waktu harus nunggu Pak Noor berjam-jam sementara ternyata beliau nggak ke kampus. Hahaha Puji Tuhan, berkat pertolongan Tuhan yang besar akhirnya saya bisa melewati itu semua. Semua lelah, pengorbanan, stres itu berakhir indah di pendadaran yang lancar jaya.

Akhir kata, saya bersyukur dan berterima kasih sekali pada Tuhan Yesus yang tak pernah lelah membimbing dan menemani saya yang bandel ini. Pada bapak dan ibuk saya yang juga tak pernah lelah menanyakan “kapan ujian” kepada saya. Kepada adik saya yang menyebalkan. Kepada semua subjek yang mengajarkan makna kasih yang nyata kepada saya dan kepada semua teman, rekan, dan semua orang yang bertanya “kamu sudah lulus?” kepada saya sehingga memicu saya untuk segera mengakhiri semua.

Sudah ya, saya mau ngerjain revisi dulu hehe. God Bless..